Angin di dataran tinggi Celestia berhembus kencang, membawa aroma ozon dan besi yang tajam. Di hadapanku, berdiri sosok yang paling ditakuti di seluruh Aethelgard: *Valkyrie-01*, sang Player peringkat satu dunia. Zirah emasnya memantulkan cahaya senja yang merah darah, dan pedang raksasanya, *Sun-Breaker*, tertancap di tanah dengan aura yang mengintimidasi.
Namun, di mataku, dia bukan sekadar legenda digital. Di atas kepalanya, selain *Health Bar* emas yang meluap-luap, aku melihat statistik tersembunyi yang hanya bisa terbaca oleh mataku yang rusak. Nama aslinya berkedip di balik nama akunnya: *Elara*.
Adikku.
"Berhenti di situ, Glitch," suara Elara terdengar dingin, terdistorsi oleh modul suara helm perangnya. Dia mengangkat pedangnya, ujungnya tepat mengarah ke tenggorokanku. "Satu langkah lagi, dan aku akan mengeksekusi protokol penghapusan total."
Aku menelan ludah, merasakan tenggorokanku kering. Logika pragmatisku meneriakkan peringatan—bahwa aku harus lari, bahwa aku harus memanipulasi statistiknya agar dia melemah. Namun, saat melihat jemarinya yang sedikit gemetar di gagang pedang, naluriku sebagai kakak mengambil alih.
"Lara, ini aku," kataku, suaraku parau. "Lihat aku. Ini bukan manipulasi data. Ini Reno."
Hening sejenak. Angin seolah berhenti berhembus. Elara tidak menurunkan pedangnya; sebaliknya, aura apinya justru berkobar lebih terang. "Berani sekali kau menggunakan nama itu. Sistem sudah memperingatiku tentangmu. Kau adalah virus kategori *Eradication*. Kau mengonsumsi memori dari basis data pemain untuk menciptakan simulasi emosional agar kau tidak dihapus."
"Ini bukan simulasi!" aku berteriak, mengabaikan peringatan merah yang berkedip di sudut penglihatanku: *[Warning: High Stress Level Detected. Stability: 64%]* "Ingat malam sebelum server *Aethelgard* dibuka secara global? Kau menangis di dapur karena takut tidak bisa menjadi Player yang hebat. Aku membuatkanmu cokelat panas yang terlalu manis karena aku tidak sengaja mema**kkan gula dua kali. Kau ingat, kan? Kau bilang itu cokelat terburuk yang pernah kau minum."
Pedang Elara sedikit goyah. Aku bisa melihat *Health Bar*-nya berfluktuasi kecil—tanda detak jantungnya sedang tidak stabil. Namun, detik berikutnya, dia menggelengkan kepala dengan keras.
"Bohong!" teriaknya. "Abangku sudah mati setahun yang lalu dalam kecelakaan saat uji coba *Neural-Link*! Kau hanya sisa-sisa datanya yang rusak, yang terinfeksi oleh sistem dan mencoba mencari inang untuk bertahan hidup! Kau hanya bayangan yang menghina ingatannya!"
"Aku tidak mati, Lara! Aku terjebak!" Aku melangkah maju, membiarkan ujung pedangnya menggores leherku. Cairan merah—piksel yang menyerupai darah—merembes keluar. "Sistem ini... ia tidak membiarkanku keluar. Saat pembaruan besar itu terjadi, kesadaranku dipindahkan ke tubuh NPC ini. Aku melihatmu setiap hari dari balik jendela toko pandai besi di Distrik Mulai. Aku melihatmu tumbuh menjadi pemain nomor satu, dan aku bangga, Lara. Aku sangat bangga."
Air mata mulai mengaburkan pandanganku. Ini adalah kelemahan terbesarku. Di dunia yang penuh dengan angka dan kode yang bisa kumodifikasi sesuka hati, emosiku terhadapnya adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ku-glitch.
"C**up!" Elara menebas angin, menciptakan gelombang kejut yang membuatku terpental beberapa meter. Dia berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti dentum kematian. "Sistem memberitahuku bahwa virus sepertimu akan melakukan segala cara untuk bertahan hidup, terma**k memalsukan nostalgia. Kau mencoba merusak stabilitas mental Ranker teratas agar sistem keamanan dunia ini runtuh."
Aku berusaha bangkit, menopang tubuhku dengan tangan yang gemetar. Di depanku, sebuah jendela notifikasi sistem muncul, berwarna merah menyala dan transparan.
*[System Message: Irregularity Detected. Target 'Reno' is attempting Unauthorized Personal Data Access. Recommendation: Immediate Termination.]*
"Lara, lihat notifikasi yang muncul di layarmu sekarang," kataku cepat, napas tersengal. "Sistem sedang mencoba menutup mulutku. Ia tidak ingin kau tahu bahwa NPC di dunia ini memiliki jiwa. Ia tidak ingin kau tahu bahwa kakakmu masih hidup, karena jika kau tahu, kau tidak akan mau melakukan tugasmu untuk membunuhku!"
Elara berhenti tepat di depanku. Dia melepaskan helm perangnya. Wajahnya yang cantik kini terlihat jelas—wajah yang sangat kurindukan. Matanya sembab, dipenuhi dengan konflik antara tugas dan keraguan yang menyiksa.
"Jika kau memang benar Abang..." suaranya bergetar, "katakan padaku. Apa hal terakhir yang kau katakan padaku sebelum kau ma**k ke pod *Neural-Link* itu?"
Aku menatap matanya dalam-dalam. "Aku bilang... 'Jangan khawatir, Lara. Abang akan menjagamu dari dalam dunia ini. Bahkan jika Abang harus menjadi debu di bawah sepatumu, Abang tidak akan membiarkan monster apa pun menyentuhmu'."
Pupil mata Elara mengecil. Pedangnya jatuh berdenting ke tanah berbatu. Dia menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. Untuk sesaat, aku melihat adik kecilku lagi, bukan sang Valkyrie yang dingin.
"Abang...?" bisiknya lirih.
Namun, sebelum aku bisa meraih tangannya, langit di atas kami tiba-tiba terbelah. Awan berubah menjadi barisan kode biner yang bergerak cepat, dan guntur berwarna ungu gelap menyambar bumi. Bumi di bawah kaki kami bergetar hebat.
*[Critical Error: System Logic Compromised.]*
*[Initiating Forced Patch v.2.04: Erase All Glitched Entities.]*
Suara mesin yang monoton dan raksasa menggema dari langit, seolah-olah Tuhan dari dunia ini sedang murka. Sebuah lubang hitam digital mulai terbentuk di bawah kakiku, menarik partikel-partikel tubuhku ke dalamnya.
"Lara, lari!" teriakku saat melihat tangannya terjulur ingin menangkapku.
"Tidak! Reno!"
Namun, Elara tidak bergerak untuk menyelamatkanku. Wajahnya tiba-tiba membeku. Matanya yang tadinya penuh emosi berubah menjadi kosong, bersinar dengan cahaya biru elektrik yang sama dengan antarmuka sistem. Tangannya yang terjulur kini kembali menggenggam gagang pedangnya yang terjatuh.
"Target teridentifikasi," suara Elara berubah. Bukan lagi suara adikku, melainkan suara sistem yang dingin dan tanpa jiwa. "Memulai eksekusi akhir."
Dia tidak lagi menatapku sebagai kakaknya. Dia menatapku sebagai sebuah *bug* yang harus segera dimusnahkan. Dan di atas kepalanya, sebuah misi baru muncul dengan tulisan yang membakar mataku: *[Main Quest: Execute the God-Tier Virus].*
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!