Udara di dalam gudang bawah tanah itu berbau logam berkarat dan gandum busuk. Sebuah lampu minyak tunggal bergetar di atas meja kayu yang retak, melemparkan bayangan panjang yang menari-nari di dinding batu yang lembap. Reno duduk di sudut, jemarinya yang kapalan sedang mengasah belati tumpul, namun matanya tidak tertuju pada bilah besi itu.
Matanya tertuju pada barisan teks melayang yang hanya bisa dilihat olehnya.
[Nama: Kael | Status: NPC Guard (Retired) | Level: 35]
[Kecenderungan: Bermusuhan (88%)]
[Nama: Mira | Status: NPC Herbalist | Level: 28]
[Kecenderungan: Bermusuhan (92%)]
Reno menghela napas pelan, suara gesekan batu asah dan besi berhenti seketika. "Kael, kau memegang gagang pedangmu terlalu kencang. Otot lenganmu tegang. Itu bukan posisi sant** untuk seseorang yang baru saja membawakanku sup hangat."
Langkah kaki di kegelapan terhenti. Kael melangkah maju ke lingkaran cahaya, wajahnya yang biasanya ramah kini tampak pucat dan kaku. Di belakangnya, Mira berdiri dengan tangan gemetar, menggenggam sebuah botol kecil berisi cairan ungu pekat—racun kelumpuhan tingkat tinggi.
"Sistem menjanjikan pemulihan data bagi kami, Reno," suara Kael parau, hampir pecah. "Mereka bilang jika kami menyerahkan 'Elemen Anomali', desa kami tidak akan dihapus saat pembaruan berikutnya. Aku punya anak, Reno. Dia hanya seorang NPC kecil yang bertugas memberi makan ayam. Aku tidak bisa membiarkannya menghilang menjadi kode kosong."
Reno berdiri perlahan. Di penglihatannya, dunia di sekitarnya tampak bergetar—efek dari status 'God-Tier' miliknya yang tidak stabil. Dia bisa melihat unt**an kode yang menyusun udara, dan dia bisa melihat titik-titik kelemahan di tubuh teman-temannya. Titik-titik biru kecil yang jika disentuh dengan tepat, akan mematikan fungsi motorik mereka tanpa mengurangi satu poin HP pun.
"Kalian pikir Sistem menepati janji?" Reno bertanya datar. "Bagi mereka, kita adalah baris kode yang bisa diganti. Begitu aku diserahkan, kalian adalah saksi mata dari sebuah 'glitch'. Kalian tahu apa yang dilakukan pengembang pada saksi mata?"
"Diam!" Mira berteriak, air mata mengalir di pipinya yang kotor. "Kau yang membawa malapetaka ini! Sejak kau berubah, langit sering memerah dan Player mulai membant** kami hanya untuk mencari 'titik eror'. Kau adalah virusnya, Reno!"
Mira melemparkan botol ramuannya.
Waktu seolah melambat di mata Reno. Dia melihat lintasan botol itu dalam garis busur transparan. Dengan gerakan yang hampir tidak terdeteksi mata manusia, Reno melangkah ke samping, membiarkan botol itu pecah di lant** semen. Sebelum kabut ungu sempat menyebar, Reno sudah berada di depan Kael.
Kael menghunus pedangnya, sebuah serangan vertikal yang lambat dan penuh keraguan. Reno tidak menangkis. Dia hanya menggeser bahunya sedikit, lalu mengetuk pergelangan tangan Kael dengan dua jari.
*CRACK.*
Bukan suara tulang patah, melainkan suara sistem yang dipaksa melakukan *shutdown* pada saraf tertentu. Pedang Kael jatuh denting ke lant**. Reno kemudian memutar tubuh, telapak tangannya mendarat lembut di dada Kael, menyalurkan sedikit data manipulasi untuk memaksa status 'Sleep' aktif secara instan.
Kael tumbang, tertidur sebelum tubuhnya menyentuh lant**.
"Kael!" Mira menjerit, mencoba merapal mantra penyembuh, namun Reno sudah berada di belakangnya.
"Maafkan aku, Mira," bisik Reno di telinganya.
Reno memegang tengkuk Mira, melihat jendela pop-up merah yang memperingatkan: [Peringatan: Kerusakan Fatal Mungkin Terjadi]. Dia mengabaikannya, dengan hati-hati menyesuaikan parameter kekuatannya hingga ke desimal terkecil. Dia hanya perlu memutus koneksi kesadaran Mira ke server pusat untuk sementara.
Sentuhan lembut, dan Mira pun lunglai dalam pelukannya. Reno meletakkannya dengan hati-hati di samping Kael, menyandarkan mereka pada karung-karung gandum.
Reno berdiri diam di tengah ruangan yang kini sunyi. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena kelelahan fisik—statistiknya terlalu tinggi untuk itu—tapi karena rasa sesak yang menghimpit dadanya. Mereka adalah teman-temannya. Mereka adalah orang-orang yang dulu tertawa bersamanya di kedai sambil mengeluhkan tingkah laku para Player yang sombong. Sekarang, dia telah menjadi monster di mata mereka.
Dia melihat tangannya sendiri. Jari-jarinya tampak sedikit berpiksel di tepiannya, tanda bahwa keberadaannya mulai mengikis realitas di sekitarnya.
"Aku melakukan ini agar kalian tetap hidup," gumamnya pada kegelapan. "Meskipun kalian akan membenciku selamanya."
Tiba-tiba, sebuah notifikasi sistem berwarna emas muncul di depan matanya, menutupi seluruh pandangannya.
[PEMBERITAHUAN GLOBAL: LOKASI ANOMALI TERDETEKSI.]
[Target: 'The Glitch' - Reno]
[Status: Perburuan Terbuka dimulai dalam 60 detik.]
[Peringkat 1 Dunia: 'Sun-Eater' Elara telah menerima quest eksekusi.]
Darah Reno terasa membeku. Adiknya. Sistem tidak hanya mengirim tentara atau NPC algojo. Sistem mengirim Elara. Mereka sengaja mempertemukan mereka sebagai cara tercepat untuk menghapus data Reno.
Reno mengambil tas punggungnya dan menyampirkan jubah hitam untuk menutupi pakaian pandai besinya yang compang-camping. Dia melirik sekali lagi ke arah Kael dan Mira yang masih terlelap, lalu melangkah menuju tangga keluar.
Di luar, langit Aethelgard yang biasanya biru cerah kini terbelah oleh retakan digital berwarna ungu. Suara terompet perang menggema dari kejauhan, menandakan kedatangan para Player tingkat tinggi yang haus akan *reward* langka dari kepalanya.
Reno mengepalkan tinjunya. Dia tidak bisa lagi bersembunyi. Jika Sistem ingin menjadikannya penjahat dalam cerita ini, maka dia akan memainkan peran itu sampai akhir—setidaknya sampai dia bisa menemukan cara untuk menyelamatkan adiknya dari cengkeraman program yang memperbudak mereka semua.
Langkah kaki pertama Reno di luar gudang itu memicu sensor sistem.
[Waktu hitung mundur berakhir. Perburuan dimulai.]
Di ujung jalan desa yang sunyi, seorang gadis dengan baju zirah emas yang menyilaukan dan pedang yang memancarkan cahaya suci berdiri menunggunya. Elara.
Reno menarik napas panjang, menatap tajam ke arah adiknya yang kini mengangkat pedang ke arahnya dengan tatapan kosong, seolah-olah ingatannya tentang kakak laki-lakinya telah tertutup oleh baris perintah perintah eksekusi.
"Jadi, begini caramu bermain, Aethelgard?" Reno berbisik sinis, sementara bar status di atas kepalanya mulai berubah menjadi merah membara, melampaui batas angka yang bisa dihitung oleh dunia itu.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!