Udara di perbatasan *Core Server* tidak berbau seperti oksigen atau belerang; ia berbau seperti ozon yang terbakar dan logam panas yang dipaksa meleleh. Langit di atas Reno bukan lagi hamparan biru Aethelgard yang indah, melainkan kepingan piksel yang retak, menyingkap kekosongan hitam tak berujung di baliknya.
Reno menyeka keringat yang bercampur dengan distorsi digital di pelipisnya. Di sudut kanan visinya, sebuah penghitung waktu berwarna merah darah berkedip dengan ritme yang menyiksa.
**[WAKTU TERSISA SEBELUM PENGHAPUSAN PERMANEN: 00:08:42]**
"Delapan menit," gumam Reno, suaranya parau. Ia mengepalkan tangan, merasakan aliran data yang meluap-luap di bawah kulitnya. Status *God-Tier*-nya membuat setiap sarafnya terasa seperti dialiri listrik ribuan volt. "Hanya delapan menit untuk membuktikan bahwa aku bukan sekadar baris kode yang rusak."
Di hadapannya berdiri gerbang raksasa yang terbuat dari jalinan sirkuit emas, jalan ma**k menuju jantung dunia ini. Namun, jalan itu terhalang.
Tanah bergetar hebat. Dari balik tumpukan data yang terfragmentasi, sebuah bayangan raksasa bangkit. Bunyinya bukan raungan hewan, melainkan suara statis yang m****akkan telinga—seperti ribuan radio yang disetel pada frekuensi kosong secara bersamaan. Itu adalah *Firewall* terakhir sistem pusat: *The Archon Wyrm*.
Naga itu tidak memiliki sisik organik. Tubuhnya terdiri dari plat baja hitam legam yang berpendar dengan garis-garis kode berwarna merah peringatan. Sayapnya adalah jajaran pedang laser yang membelah udara, dan matanya adalah dua lensa optik dingin yang memindai keberadaan Reno sebagai satu hal: *Anomali.*
**[WARNING: LEVEL 999 FIREWALL DETECTED]**
**[TARGET: VIRUS CODE - RENO]**
**[OBJECTIVE: TERMINATE]**
"Cuma naga mekanis?" Reno menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berpacu. Ia memanggil senjatanya, sebuah palu pandai besi yang kini diselimuti aura putih menyilaukan. "Aku sudah menghabiskan bertahun-tahun memperbaiki pedang untuk para Player sombong. Aku tahu persis di mana letak sambungan yang lemah."
Naga itu menerjang. Gerakannya begitu cepat hingga menciptakan distorsi ruang di sekitarnya. Sebuah semburan api biru—api pembersihan data—melesat ke arah Reno.
Reno tidak menghindar. Ia mengaktifkan *'Structural Analysis'*. Dalam sekejap, dunia di matanya berubah. Ia tidak lagi melihat naga, melainkan ribuan rangkaian logika. Ia melihat *Health Bar* naga itu—angka yang begitu besar hingga hampir tak terbaca—tapi ia juga melihat satu titik kecil yang berkedip kuning di pangkal leher sang naga. Titik latensi.
"Di sana," bisik Reno.
Ia melompat, kakinya menghentak tanah dengan kekuatan yang meretakkan lant** server. Saat api biru itu hampir menjilat wajahnya, Reno menggeser posisinya hanya beberapa milimeter. Hawa panasnya menghanguskan ujung rambutnya, tapi ia terus melesat ke depan.
Naga itu mengibaskan ekor raksasanya, sebuah serangan yang seharusnya bisa menghancurkan satu kastil dalam sekali hantam. Reno mengangkat palunya, memposisikannya pada sudut 45 derajat.
*CLANG!*
Bukan kekuatan otot yang menahan serangan itu, melainkan manipulasi statistik. Reno memaksa sistem untuk membaca tab**kannya sebagai 'Immune'. Getaran hebat merambat ke lengannya, membuat tulang-tulangnya terasa ingin hancur, namun ia tetap berdiri tegak.
"Kau hanyalah sebuah program," desis Reno, menatap langsung ke lensa optik sang naga. "Dan aku adalah bug yang tidak bisa kau atasi."
Reno memacu kecepatannya, berlari menaiki punggung mekanis naga itu. Suara logam beradu dengan logam memenuhi udara. Sang naga berputar di udara, mencoba melempar Reno ke dalam kehampaan digital di bawah mereka. Reno menancapkan palunya ke celah plat baja naga itu, bertahan hidup dengan keras kepala yang murni.
**[WAKTU TERSISA: 00:03:15]**
Waktu semakin menipis. Penglihatan Reno mulai mengabur; sistem mulai menghapus keberadaannya dari tepi luar tubuhnya. Jari-jari tangan kirinya mulai terlihat transparan, pecah menjadi partikel-partikel cahaya kecil.
"Belum... belum sekarang!" teriaknya.
Dengan satu lompatan terakhir, Reno mencapai pangkal leher naga itu. Ia melihat inti dari *Firewall* tersebut—sebuah kristal kode yang berdenyut cepat. Tanpa ragu, ia menghantamkan palunya dengan seluruh status 'Strength' yang ia miliki.
"Hancurlah!"
Ledakan cahaya putih menyelimuti seluruh area tersebut. Suara raungan naga itu berubah menjadi lengkingan statis yang menyakitkan sebelum akhirnya meledak menjadi jutaan fragmen data yang berjatuhan seperti salju digital.
Reno terjatuh, mendarat dengan keras di depan gerbang *Core Server*. Tubuhnya terasa berat, dadanya sesak. Ia terbatuk, memuntahkan cairan hitam yang nampak seperti tinta printer.
**[FIREWALL DEFEATED]**
**[ACCESS TO CORE SERVER: GRANTED]**
**[WAKTU TERSISA: 00:00:45]**
Ia merangkak menuju gerbang yang perlahan terbuka. Di balik gerbang itu, terdapat sebuah ruangan putih tak terbatas, dan di tengahnya, sebuah konsol melayang yang berisi seluruh data Aethelgard.
Reno memaksakan diri untuk berdiri, menyeret kakinya yang mulai menghilang. Namun, langkahnya terhenti. Di depan konsol itu, sesosok figur berdiri menunggunya.
Seorang gadis dengan zirah emas bersinar, memegang pedang legendaris yang hanya ada satu di dunia ini. Namanya melayang di atas kepalanya dengan warna ungu yang megah: **[RANK 1 PLAYER: ELARA]**.
Adiknya.
Reno terpaku. Elara tidak menyerangnya, tapi tatapan matanya kosong, seperti seseorang yang sedang dalam pengaruh *mind control* sistem. Di tangan Elara, terdapat sebuah perintah eksekusi yang sudah terprogram.
"Elara?" bisik Reno, suaranya gemetar.
Gadis itu mengangkat pedangnya, ujungnya mengarah tepat ke jantung Reno. Sebuah jendela notifikasi muncul di depan Reno, menutupi pandangannya.
**[CRITICAL CHOICE: To stabilize your data, the System requires the deletion of the High-Priority Anchor.]**
**[TARGET: ELARA]**
**[EXECUTE? YES / NO]**
Timer di sudut matanya mencapai angka sepuluh detik terakhir. Sepuluh detik untuk memilih antara nyawanya sendiri, atau nyawa satu-satunya keluarga yang tersisa di dunia palsu ini.
"Maafkan Kakak, Elara," gumam Reno sambil menggenggam erat palunya, saat air mata digital mulai mengalir di pipinya.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!