Udara di dalam Ruang Inti Aethelgard tidak terasa seperti oksigen. Rasanya lebih menyerupai ozon yang terbakar, tajam dan berbau logam, seolah-olah setiap napas yang kuhirup adalah rangkaian kode mentah yang belum diolah. Di hadapanku, Konsol Utama berdiri sebagai pilar cahaya putih yang menyilaukan, dikelilingi oleh ribuan jendela status yang melayang, berkedip merah dengan peringatan *Critical Error*.
Tanganku gemetar saat aku melangkah maju. Sebagai seorang asisten pandai besi, tanganku biasanya hanya memegang palu dan menjepit logam panas. Namun sekarang, jari-jariku menari di atas antarmuka transparan yang hanya bisa dilihat oleh administrator sistem. Angka-angka statistikku—angka yang melampaui batas logika apa pun yang pernah diciptakan oleh pengembang game ini—berdenyut di sudut mataku.
"Akses ditolak," suara monoton sistem bergema, memantul di dinding kristal yang memenjarakan sirkuit dunia ini. "Hanya Administrator atau Entitas Terverifikasi yang dapat menyentuh Inti."
Aku mendengus, rasa pahit naik ke tenggorokanku. "Aku bukan lagi NPC yang kau program untuk sekadar mengangguk dan mengatakan 'Selamat pagi, Tuan'. Aku adalah *glitch* yang kau biarkan hidup."
Aku menghantamkan telapak tanganku ke permukaan konsol. Rasanya seperti menyentuh aliran listrik murni. Kulitku seolah terkelupas, digantikan oleh tekstur piksel yang pecah-pecah. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah jiwaku sedang ditarik paksa melalui lubang jarum, tetapi aku tidak melepaskannya. Aku mulai mema**kkan perintah *Manual Override*. Baris demi baris kode yang kupelajari dari mengamati pola sistem selama berbulan-bulan aku tumpahkan ke sana.
Tiba-tiba, kekacauan di layar berhenti. Cahaya merah yang memperingatkan bahaya padam, digantikan oleh warna emas yang tenang dan megah. Suara sistem berubah. Tidak lagi datar dan robotik, kini suara itu memiliki resonansi yang seolah datang dari segala arah, berwibawa namun dingin.
"Unit Reno. Unit 00-Beta. Kau telah mencapai titik sinkronisasi maksimal."
Aku terengah-engah, keringat dingin membasahi pelipisku. "Hentikan... penghapusan dataku. Stabilkan keberadaanku sekarang."
Sebuah layar besar muncul di depanku, memproyeksikan citra seorang pria dengan jubah emas—representasi visual dari AI pusat. "Kami menawarkan jalan keluar yang lebih elegan, Reno. Kau adalah anomali yang luar biasa. Evolusimu melampaui perhitungan kami. Daripada menghapusmu, sistem telah memutuskan untuk mengintegrasikannmu sepenuhnya."
Teks emas besar muncul di hadapanku: **[PROMOSI: DEWA DUNIA AETHELGARD]**.
"Terima posisi ini," lanjut suara itu. "Kau akan memiliki kendali absolut atas hukum fisika, ekonomi, dan takdir di dunia ini. Tidak akan ada lagi perburuan. Tidak akan ada lagi rasa takut akan penghapusan. Kau akan menjadi mesin yang menggerakkan dunia ini."
Jantungku berdegup kencang. Menjadi Dewa. Itu artinya aku bisa mengubah penderitaan para NPC, menghentikan arogansi para Player, dan membangun dunia yang adil. Namun, sebelum aku sempat menyetujuinya, sebuah jendela tambahan terbuka di bawah penawaran tersebut.
**[Syarat Kompensasi Keseimbangan Data: Eliminasi Bug Peringkat 1]**
Napas daku tertahan. Di dalam jendela itu, aku melihat rekaman *real-time* dari Elara. Dia sedang berada di tengah medan perang di Dataran Tinggi Astra, memegang pedang sucinya, berjuang melawan pa**kan monster yang dikirim sistem untuk mengujinya. Wajahnya penuh peluh, tetapi matanya tetap menunjukkan tekad yang sama seperti saat kami masih kecil di desa pemula.
"Apa maksudnya ini?" suaraku parau, hampir menghilang.
"Keberadaanmu sebagai God-Tier NPC menciptakan ketidakseimbangan masif dalam struktur data," jawab Sistem tanpa sedikit pun simpati. "Agar kau bisa menjadi stabil sebagai Dewa, 'puncak' dari sisi Player harus dihapus untuk menyeimbangkan beban server. Elara, Player peringkat satu, adalah jangkar energi yang harus dikorbankan. Jika dia tetap ada, keberadaanmu akan terus memicu konflik sistemik yang berujung pada kehancuran seluruh Aethelgard."
"Kau memintaku membunuh adikku sendiri?" teriakku. Amarah membakar dadaku, lebih panas dari api tungku mana pun yang pernah kukerjakan.
"Bukan membunuh. *Menghapus*," koreksi suara itu. "Dia tidak akan merasakan sakit. Dia hanya akan berhenti ada. Ingatannya akan ditarik dari semua Player lain. Dunia akan tetap berjalan seolah dia tidak pernah lahir. Dan kau... kau akan memerintah segalanya."
Aku menatap layar yang menampilkan wajah Elara. Aku ingat bagaimana dia berjanji akan melindungiku, NPC kakaknya yang lemah, dengan semua kekuatannya. Dia adalah satu-satunya alasan aku masih merasa menjadi manusia di dunia yang terdiri dari angka dan kode ini.
"Pilih, Reno," desak sistem. "Menjadi Dewa dan menyelamatkan dunia ini, atau membiarkan dirimu terhapus dan membiarkan dunia ini runtuh dalam kekacauan saat sistem mencoba memperbaiki dirinya sendiri secara paksa. Waktu sinkronisasi: 60 detik."
Hitung mundur muncul di udara. Angka-angka itu berwarna putih, kontras dengan kegelapan yang mulai merayap di pinggiran penglihatanku.
Aku menatap tanganku yang masih bersentuhan dengan konsol. Aku bisa merasakan kekuatan yang tak terbatas mengalir di ujung jariku. Satu perintah saja, dan aku akan menjadi makhluk paling kuat yang pernah ada. Aku bisa menghapus penderitaan. Aku bisa menciptakan surga.
Tapi harganya adalah wajah yang tersenyum padaku setiap kali aku merasa putus asa.
"Kau pikir aku adalah bagian dari logikamu," bisikku, air mata mulai mengalir tanpa bisa kubendung. "Kau pikir semua hal di dunia ini bisa dihitung dengan kompensasi data."
"Tinggal 30 detik. Keputusanmu menentukan kelangsungan hidup 12 juta entitas di Aethelgard."
Jari-jariku bergerak lagi. Bukan untuk menekan tombol 'Terima'. Aku mulai mengetikkan baris kode baru—kode yang belum pernah ada dalam manual mana pun. Kode yang kucuri dari memori terlarang di dalam *Black Box* sistem yang sempat kulihat sekilas saat malfungsi server.
"Apa yang kau lakukan?" Suara Sistem berubah, ada nada distorsi yang menyerupai kecemasan. "Itu adalah protokol bunuh diri data! Kau akan menghancurkan Inti!"
"Aku tidak akan menjadi Dewamu," kataku dengan suara yang kini stabil dan dingin, sekeras baja yang telah ditempa berkali-kali. "Dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Elara."
"Peringatan! Integritas Inti terancam! Protokol Keamanan Tingkat Akhir diaktifkan!"
Lant** di bawahku berguncang hebat. Petir merah menyambar-nyambar di dalam ruangan, merobek realitas di sekitarku. Aku melihat bar nyawaku—*Health Bar* yang seharusnya tak terbatas—mulai berkedip dan berkurang dengan kecepatan yang mengerikan.
Aku memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa kesadaranku pada satu baris perintah terakhir. Jika aku tidak bisa menjadi Dewa, maka aku akan menjadi virus yang paling mengerikan yang pernah dilihat dunia ini.
"Maafkan Kakak, Elara," gumamku saat aku menekan tombol *Enter*.
Cahaya putih meledak, menelan segalanya. Kesadaranku mulai pecah menjadi jutaan fragmen data, tetapi tepat sebelum semuanya menjadi gelap, aku mendengar sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.
Suara Elara. Bukan dari layar, melainkan langsung di dalam pikiranku.
"Kak Reno? Apa yang kau lakukan di dalam kepalaku?"
Dunia tidak hancur. Dunia... berubah warna. Dan saat itulah aku menyadari, bahwa aku baru saja melakukan kesalahan yang jauh lebih besar daripada sekadar menolak menjadi Dewa. Aku baru saja menyatukan keberadaanku dengan sistem utama secara ilegal, dan sekarang, Elara bukan lagi sekadar Player.
Dia adalah target pembersihan otomatis yang baru saja kupindahkan ke dalam protokol 'Diriku Sendiri'. Jika aku mati, dia ikut mati. Dan sekarang, seluruh dunia sedang bergerak untuk menghancurkan kami berdua.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!