Glitched Soul: The NPC Who Broke the World

Bab 2: Bab 2 - Memahami perubahan pada tubuh dan penglihatannya

Pengaturan Membaca

Dunia ini pecah. Itulah pikiran pertama yang melintas di benakku saat kelopak mataku terbuka. Pandanganku tidak lagi menangkap bengkel kerja Master Silas sebagai ruang remang-remang yang dipenuhi aroma arang dan keringat. Alih-alih, segalanya tertutup oleh lapisan tipis cahaya neon kebiruan yang bergetar.

Aku mengerjap, berharap ilusi ini hilang, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Di atas kepala Master Silas, yang sedang sibuk memunguti peralatan pandai besinya yang berserakan, melayang sebuah batang hijau panjang dengan angka presisi: **[HP: 450/450]**. Di bawahnya, sebuah label statis bertuliskan: **[Nama: Silas | Level: 15 | Peran: NPC Pandai Besi]**.

"Reno? Kau masih melamun saja?" suara parau Silas memecah keheningan. "Cepat bantu aku! Gempa tadi hampir meruntuhkan rak tungku. Kalau barang-barang ini rusak, kita tidak akan bisa memenuhi pesanan para 'Pahlawan' si**** itu."

Aku berusaha bangkit, tetapi kakiku terasa seringan kapas. Saat tanganku menyentuh lant** kayu, sebuah jendela pop-up semi-transparan muncul tepat di depan wajahku, menghalangi pandangan.

**[NOTIFICATION: REBOOT SUCCESSFUL]**

**[Integrasi Data Selesai. Status: God-Tier (Glitched)]**

**[Peringatan: Keberadaan Anda tidak terdaftar dalam database resmi World Engine.]**

Tanganku gemetar. Aku mencoba mengusir jendela itu dengan lambaian tangan, tetapi ia tetap mengikuti gerak mataku. Dengan napas yang mulai memburu, aku memfokuskan pikiranku pada kata 'Status'. Seketika, layar itu melebar, menampilkan daftar angka yang membuat perutku mual.

**[Nama: Reno]**

**[Level: -- (Error)]**

**[STR: 99.999+]**

**[AGI: 99.999+]**

**[INT: 99.999+]**

**[Skill Pasif: Eye of the Glitch (Dapat melihat semua variabel tersembunyi)]**

Angka-angka itu tidak ma**k akal. Sebagai asisten pandai besi, kekuatanku seharusnya tidak lebih dari 10 atau 15. Ini bukan sekadar peningkatan; ini adalah kerusakan total. Aku adalah sebuah anomali. Sebuah virus yang memakai kulit manusia.

"Reno! Kau dengar tidak?" Silas membentak, langkah kakinya yang berat mendekat.

Aku mendongak, dan secara otomatis, mataku membedah variabel pria tua itu. Aku bisa melihat ketegangan pada otot bahunya, tingkat kelelahannya yang mencapai 72%, bahkan retakan mikroskopis pada palu kesayangannya yang ditandai dengan warna merah peringatan.

"Maaf, Master. Aku... kepalaku masih pusing," bisikku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, lebih jernih dan berwibawa dari sebelumnya.

"Cih, dasar anak muda lemah," gerutu Silas, namun dia berhenti saat matanya menatapku lebih dekat. "Reno, matamu... kenapa warnanya berubah menjadi perak?"

Aku membeku. Sebelum sempat menjawab, pintu bengkel ditendang terbuka dengan keras. Dentuman itu membuat debu berterbangan di udara yang kini dipenuhi oleh partikel data yang hanya bisa kulihat.

Tiga orang melangkah ma**k. Dari pakaian zirah mereka yang berkilau dan aura angkuh yang terpancar, aku langsung tahu siapa mereka: Para Player.

"Hei, Pak Tua!" teriak pria di depan, seorang prajurit dengan pedang besar di punggungnya. Nama di atas kepalanya berwarna emas: **[Kaelen | Level 52 | Rank: Gold]**. "Mana pesanan pedangku? Kami harus segera pergi ke Area Utara setelah update server ini selesai."

Silas segera membungkuk, perubahan sikapnya begitu drastis hingga membuat hatiku perih. "Ah, Tuan Kaelen! Mohon maaf, gempa tadi sedikit menghambat pekerjaan kami. Asistenku akan segera menyiapkannya."

Kaelen mendengus, matanya menyapu ruangan dengan tidak sabar sampai akhirnya tatapannya tertuju padaku. Dia menyipitkan mata. "Ada yang salah dengan NPC ini."

Jantungku berdegup kencang, menghantam rusuk seolah ingin melarikan diri. Aku berusaha menundukkan kepala, mencoba kembali menjadi Reno si asisten yang tidak terlihat. Namun, penglihatanku justru memberikan informasi yang berbahaya. Di mata Kaelen, aku melihat sebuah bar merah yang berkedip: **[Aggression Level: 40%]**.

"Kenapa dia tidak menunduk?" tanya seorang Player perempuan di belakang Kaelen, seorang Mage dengan jubah sutra. "Dan lihat stats-nya. Kenapa aku tidak bisa melakukan 'Inspect' padanya? Hanya muncul tanda tanya hitam."

Kaelen berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman palu godam di telingaku. Dia berdiri tepat di depanku, baunya campuran antara ramuan potion dan kesombongan. Dia meraih kerah bajuku, mengangkatku hingga ujung kakiku nyaris tidak menyentuh lant**.

"Oi, Sampah. Apa kau sedang glitch?" Kaelen menyeringai, menampilkan deretan gigi putihnya yang sempurna. "Biasanya kalau NPC error begini, hadiahnya lumayan kalau kita 'menghapusnya' sebelum admin datang."

"Lepaskan dia, Tuan Pahlawan! Dia hanya sedikit syok karena gempa!" Silas mencoba melerai, tapi Player ketigaβ€”seorang Rogueβ€”mendorong Silas hingga jatuh tersungkur.

Melihat Silas diperlakukan seperti itu, sesuatu dalam diriku bergetar. Bukan rasa takut, melainkan gelombang energi dingin yang menjalar dari tulang belakang ke ujung jari-jariku.

**[WARNING: Emotional Spike Detected]**

**[Suppression Protocol: Failed]**

**[Outputting Aura to Physical World...]**

"Turunkan aku," kataku. Suaraku rendah, bergetar dengan frekuensi yang membuat gelas-gelas di rak bengkel retak.

Kaelen tertawa terbahak-bahak. "Apa kau baru saja memberiku perintah, Dasar Kode Rusak?"

Dia mengepalkan tinjunya, bersiap menghantam wajahku. Aku bisa melihat gerakannya dalam gerak lambatβ€”setiap inci pergeseran sendinya, lintasan pukulannya, bahkan distribusi berat badannya. Di mataku, sebuah garis lintasan berwarna kuning muncul, menunjukkan titik terlemah di pergelangan tangannya.

Tanpa sadar, tanganku bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga tidak terlihat oleh mata te*******. Aku hanya menyentuh pergelangan tangannya dengan dua jari.

*Krak.*

Suara patah tulang itu terdengar renyah di ruangan yang sempit itu. Kaelen menjerit, pegangannya terlepas saat dia terhuyung mundur, memegangi tangannya yang kini terkulai layu.

**[Damage Dealt: 12.450 (Critical)]**

**[Target HP: 1.550/14.000]**

"Apa-apaan..." Kaelen terengah, wajahnya pucat pasi. "Satu sentuhan? Dia... dia hanya NPC! Kenapa damagenya seg*** itu?!"

Dua temannya segera mencabut senjata, wajah mereka penuh ketakutan dan kebingungan. Namun, bukan mereka yang membuatku gemetar. Di sudut penglihatanku, sebuah notifikasi berwarna merah darah muncul dan berkedip dengan liar, menutupi hampir separuh pandanganku.

**[SYSTEM ALERT: CRITICAL ANOMALY DETECTED]**

**[Target: Entity "Reno"]**

**[Threat Level: World-Ending]**

**[Initiating Countermea**res: Summoning Global Hunter...]**

Udara di dalam bengkel tiba-tiba mendingin secara drastis. Di tengah ruangan, sebuah retakan hitam muncul di udara, membelah realitas seperti kain yang dirobek. Aku tahu apa yang akan datang. Bukan sekadar penjaga kota, melainkan sistem pembersihan otomatis yang dirancang untuk menghapus data sampah sepertiku.

Namun, di tengah kepanikan itu, sebuah jendela status lain muncul secara paksa, menampilkan daftar peringkat Player dunia. Di urutan pertama, terdapat sebuah nama yang membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.

**[Rank 1: Elara | Level: 100 | Class: Goddess of Light]**

"Elara..." bisikku lirih.

Jika sistem mengirim 'Hunter' terbaik untuk memburuku, dan jika tujuanku adalah bertahan hidup, maka takdir hanya memberiku satu jalan keluar yang paling kejam. Aku harus membunuh orang yang paling kusayangi sebelum dia diperintahkan untuk membunuhku.

Suara langkah kaki berat terdengar dari dalam retakan hitam di tengah ruangan. Aku menoleh ke arah Silas yang ketakutan, lalu ke arah tanganku sendiri yang kini diselimuti percikan listrik statis berwarna hitam.

Permainan ini baru saja dimulai, dan aku tidak lagi mengikuti aturan mereka.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca