Udara di Desa Oakhaven pagi ini tidak berbau jelaga atau keringat seperti biasanya. Sebaliknya, ada aroma ozon yang tajam, seperti bau logam yang dipanaskan hingga titik leleh di dalam ruang hampa. Aku berdiri di ambang pintu bengkel Master Goran, mematung saat melihat langit di atas desa berguncang. Bukan awan yang bergerak, melainkan fragmen-fragmen realitas yang bergeser, memperlihatkan unt**an kode hijau yang merayap di balik cakrawala biru yang palsu.
"Reno! Apa yang kau lakukan di sana? Kerjakan pesanan pedang pendek untuk kelompok petualang itu!" suara berat Master Goran terdengar dari dalam.
Aku menoleh perlahan. Goran, pria bertubuh besar dengan janggut yang tebalnya seperti semak berduri, sedang memegang palu di atas paron. Namun, gerakannya patah-patah. Lengannya bergetar sejenak, lalu kembali ke posisi awal dalam sepersekian detik. Dia sedang mengalami *looping*.
"Tuan, sesuatu yang buruk sedang datang," bisikku, meskipun aku tahu dia tidak akan mengerti. Di mataku, di atas kepala Goran, bar kesehatannya berkedip-kedip dengan tulisan merah menyala: [STATUS: CORRUPTED DATA].
Tiba-tiba, suara dentuman rendah bergema dari arah alun-alun desa. Bukan ledakan sihir, melainkan suara statis yang menyakitkan telinga, seperti ribuan kaca yang digoreskan pada logam secara bersamaan. Aku segera melangkah keluar, menyipitkan mata saat cahaya putih menyilaukan muncul di tengah jalan desa.
Tiga sosok muncul dari celah udara yang retak. Mereka tidak memakai zirah pelat atau jubah penyihir. Mereka mengenakan jubah putih tanpa lipatan yang tampak terbuat dari cahaya murni, wajah mereka tertutup topeng perak datar tanpa lubang mata. Di atas kepala mereka, tidak ada nama atau level. Hanya ada satu label dingin yang membuat darahku membeku: [SYSTEM CLEANER – UNIT 04].
"Pembersihan area dimulai," suara itu bukan berasal dari mulut, melainkan bergema langsung di dalam pikiran setiap entitas di sekitarnya. "Mendeteksi anomali data di koordinat 44.12. Menginisiasi penghapusan permanen."
Aku tersentak dan segera merunduk di balik tong kayu besar. Jantungku berpacu begitu cepat hingga rasanya ingin melompat keluar dari tulang rusuk. Melalui celah kayu, aku melihat salah satu *Cleaner* mengangkat tangannya. Sebuah bola cahaya hitam muncul di telapak tangannya, menyedot warna dari lingkungan sekitar.
Seorang Player pemula, mungkin baru level 5, berlari mendekat dengan pedang kayu di tangan. "Hey! Event apa ini? Apa kalian bos tersembunyi?" teriaknya dengan seringai sombong yang biasa dimiliki para Player.
*Cleaner* itu tidak menoleh. Dia hanya mengibaskan tangan. Dalam sekejap, tubuh Player itu tidak hancur atau berdarah. Dia terurai. Dimulai dari kaki, tubuhnya pecah menjadi jutaan pixel transparan sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya. Tidak ada *respawn*. Tidak ada mayat. Di tempat dia berdiri tadi, kini hanya ada kekosongan.
[WARNING: SYSTEM CLEANER IS SCANNING YOUR RADIUS.]
Tulisan merah besar muncul di sudut penglihatanku. Status 'God-Tier' yang kudapatkan dari malfungsi itu terasa seperti suar raksasa yang berteriak meminta perhatian. Aku harus pergi. Sekarang.
Aku merangkak menuju gang sempit di samping toko ramuan, memanfaatkan tumpukan jerami untuk menutupi tubuhku. Aku tahu setiap inci desa ini. Sebagai NPC yang telah menghabiskan dua puluh satu tahun memanggul arang dan mengasah pedang, aku tahu di mana letak *dead zone*—titik-titik di mana sensor sistem biasanya terabaikan karena dianggap sebagai ruang kosong yang tidak fungsional.
"Pencarian anomali mencapai enam puluh persen," suara datar itu terdengar lebih dekat.
Aku menahan napas, menempelkan punggungku ke dinding kayu yang kasar. Di sampingku, seekor kucing desa—seekor NPC hewan sederhana—berjalan sant** melewati gang. Salah satu *Cleaner* berhenti tepat di depan gang tempatku bersembunyi. Aku bisa melihat pantulan diriku yang gemetar di permukaan topeng peraknya yang licin.
Dia mengangkat tangannya, memindai udara. Garis-garis laser tipis berwarna biru menyapu dinding, inci demi inci, mendekat ke arah kakiku. Aku memejamkan mata, memusatkan seluruh pikiranku pada statistik yang kini bisa kukontrol. *Sembunyikan. Tekan. Jadilah nol.*
Aku mencoba memanipulasi barisan data di depan mataku, menurunkan 'Presence' dan 'Visibility' hingga ke titik terendah yang diizinkan sistem. Keringat dingin mengalir di pelipisku saat aku merasakan dinginnya sensor sistem menyentuh kulitku.
*Zzt... Zzt...*
Sensor itu berhenti tepat di atas kepalaku. Hening yang mencekam menyelimuti gang itu selama beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam.
"Objek terdeteksi: NPC Id #9921-Reno. Status: Normal. Pekerjaan: Asisten Pandai Besi," suara itu bergumam dingin.
Aku hampir mengembuskan napas lega, namun kalimat berikutnya membuat jantungku berhenti.
"Koreksi. Terdapat inkonsistensi pada bobot memori. Melakukan pemindaian mendalam pada struktur jiwa NPC Id #9921."
Sial. Mereka tidak hanya melihat statistik luarku; mereka mulai menggali ke dalam 'kode' yang membentuk kesadaranku. Cahaya di tangan *Cleaner* itu berubah dari hitam menjadi merah membara. Dia tahu. Dia tahu aku bukan sekadar dekorasi latar belakang lagi.
Tepat saat tangan bercahaya itu hendak menyentuh dadaku, sebuah ledakan besar terjadi di sisi lain desa. Asap hitam membubung tinggi, diiringi teriakan panik dari para Player dan NPC lainnya.
"Anomali kedua terdeteksi di sektor timur! Level ancaman: Tinggi!" suara sistem bergema dari langit.
*Cleaner* di depanku berhenti seketika. Kepalanya berputar 180 derajat ke arah ledakan, lalu tanpa sepatah kata pun, dia melesat pergi dengan kecepatan yang melampaui logika visual, meninggalkan jejak cahaya yang memudar.
Aku jatuh terduduk di atas tanah yang kotor, terengah-engah seolah baru saja berlari maraton. Tanganku masih gemetar hebat. Aku melihat ke arah ledakan itu. Itu bukan kecelakaan. Seseorang—atau sesuatu—baru saja menyelamatkanku dengan menciptakan gangguan yang lebih besar.
Aku melihat ke telapak tanganku sendiri. Di sana, di tengah garis tanganku, sebuah angka kecil berkedip-kedip, menghitung mundur.
[SYNC RATIO: 88%... 89%...]
Aku tidak punya banyak waktu. Jika aku tetap di sini, desa ini akan dihapus bersama denganku demi 'stabilitas server'. Aku harus keluar dari zona pemula ini. Namun, saat aku baru saja hendak berdiri, sebuah notifikasi baru muncul, berbeda dari sistem biasanya. Warnanya emas, dengan simbol sayap yang sangat kukenali.
[PESAN PRIVATE DARI PLAYER PERINGKAT 1: 'ELARA']
[Isi: Kakak, kau di mana? Kenapa ID-mu terlihat seperti virus di petaku? Jangan bergerak, aku akan segera menjemputmu dan 'membersihkan' error ini.]
Darahku terasa membeku. Elara. Adikku sedang menuju ke sini bukan untuk menyelamatkanku sebagai seorang kakak, melainkan untuk membasmiku sebagai 'ancaman' bagi dunia yang sangat dia cint** ini. Di matanya, aku bukan lagi manusia; aku adalah *glitch* yang harus diperbaiki.
Aku mengepalkan tangan, menatap gerbang desa yang kini dijaga ketat oleh unit *Cleaner* tambahan. Pilihan di depanku hanya dua: mati sebagai data yang terhapus, atau bertahan hidup dengan melawan orang yang paling kusayangi.
Aku memilih untuk hidup, meskipun itu berarti aku harus menghancurkan dunia ini.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!