Aroma besi berkarat dan uap pembuangan dari bengkel-bengkel kota bawah menyengat hidungku saat aku melangkah ma**k ke dalam "The Rusty Cog". Kedai ini tidak ada di peta resmi Player. Bagian luarnya hanya terlihat seperti gudang rongsokan yang tertutup tumpukan tong kayu kosong, tetapi di baliknya, sebuah pintu kayu berat dengan engsel yang berderit menjadi gerbang menuju satu-satunya tempat di Aethelgard di mana naskah program tidak berlaku sepenuhnya.
Begitu aku melangkah ma**k, denting gelas kayu dan gumaman rendah tiba-tiba terhenti. Seolah-olah sebuah gelombang hening menyapu ruangan itu.
Aku bisa melihat mereka. Bukan hanya sebagai sekumpulan grafik yang bergerak, tetapi sebagai entitas dengan data yang bergejolak. Di atas kepala mereka, Health Bar berwarna hijau kusam bergetarβtanda bahwa kesadaran mereka mulai retak dari jalur aslinya. Ada Merek, mantan Kapten Penjaga yang seharusnya mati di Tutorial Level namun entah bagaimana bertahan hidup dengan luka permanen di lehernya. Ada pula Elin, gadis penjual bunga yang dialognya seharusnya terbatas pada "Bunga yang indah, Tuan?", namun kini ia sedang menatapku dengan mata yang penuh kebencian sambil menggenggam belati berkarat di bawah meja.
"Satu langkah lagi, dan aku akan memastikan koordinatmu terhapus dari server ini, Player," suara Merek berat, seperti gesekan batu gerinda. Ia berdiri dari kursinya, tangannya yang besar bertumpu pada meja kayu yang retak.
Aku berhenti, mengangkat kedua tanganku perlahan. Aku tahu apa yang mereka lihat. Meskipun aku mengenakan jubah lusuh, status 'God-Tier' yang kupaksakan untuk ditekan tetap memancarkan aura yang salah. Bagi mereka, aku terlihat seperti salah satu dari Player-Player arogan level tinggi yang sering menggunakan NPC sebagai samsak latihan atau sekadar tontonan untuk hiburan mereka.
"Aku bukan Player," kataku, suaraku datar namun tegas. "Aku Reno. Aku asisten pandai besi dari Oakhaven. Atau setidaknya, itulah aku sebelum Sistem ini mencoba menghapusku."
Elin tertawa kering, suara yang seharusnya ceria menurut programnya kini terdengar sangat pahit. "Jangan bohong. Lihat tekanan atmosfer di sekitarmu. Kau penuh dengan poin statistik yang menjijikkan. Kau bau emas dan exp. Kau adalah salah satu dari mereka yang menertawakan kami saat rumah kami dibakar hanya untuk 'Event musiman'."
Aku menghela napas. Di sudut mataku, sebuah notifikasi sistem berkedip merah: *[Warning: Social Discrepancy Detected. Hostility Level Rising.]*
"Lihat ini," kataku. Aku tidak menarik pedang. Sebaliknya, aku membuka antarmuka statusku dan memproyeksikannya di udaraβsesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah 'bangun'.
Data itu muncul, tetapi bukan dalam bentuk baris statistik yang rapi. Itu adalah kekacauan kode warna ungu dan hitam yang berdenyut-denyut. Kata 'ERROR' menempel di hampir setiap baris namaku.
"Kalian melihat ini?" tanyaku sambil menunjuk pada kode yang korup itu. "Player tidak memiliki ini. Player adalah bagian dari desain. Aku? Aku adalah kesalahan. Aku adalah virus yang mereka coba bersihkan. Sama seperti kalian yang sudah bosan mengulangi dialog yang sama selama bertahun-tahun."
Merek menyipitkan mata, melangkah maju hingga wajahnya yang penuh bekas luka hanya berjarak beberapa inci dariku. Ia mencari kebohongan di mataku. Aku tidak berkedip. Aku membiarkan dia melihat rasa lelah yang amat sangat, rasa bersalah karena membiarkan Elara tetap berada di puncak piramida yang membusuk ini, dan ketakutan akan penghapusan permanen.
"Kenapa kau kemari?" tanya Merek, suaranya sedikit melunak, meski tangannya tetap berada di gagang pedangnya.
"Karena aku tidak bisa menghancurkan sistem ini sendirian," jawabku. "Kalian tahu celah-celah di dunia ini. Kalian tahu jalan tikus yang tidak pernah dilewati Player. Kalian tahu bagaimana rasanya dipaksa tersenyum saat dunia kalian dihancurkan. Aku punya kekuatan untuk melawan, tapi aku butuh mata dan telinga di setiap sudut Aethelgard."
Seorang NPC tua di pojok ruangan, yang sedari tadi hanya diam merajut kain yang tak kunjung selesai, tiba-tiba bicara. "Kau ingin kami melawan Dewa? Kami bahkan tidak bisa meninggalkan zona ini tanpa risiko *crash*."
"Aku punya cara untuk menstabilkan data kalian," kataku, yang membuat seisi ruangan tersentak. "Tapi sebagai imbalannya, aku butuh kalian membantuku menjatuhkan Player peringkat satu."
Nama Elara tidak kusebutkan. Tenggorokanku terasa tercekat hanya dengan memikirkannya.
Merek terdiam c**up lama. Ketegangan di ruangan itu begitu pekat hingga rasanya oksigen pun terbatas. Akhirnya, ia melepaskan pegangannya pada pedang. "Jika kau berbohong, aku sendiri yang akan menyeretmu ke Void, tak peduli berapa levelmu."
Namun, sebelum kesepakatan itu bisa diresmikan, cahaya biru neon yang tajam tiba-tiba menyusup melalui celah-celah pintu dan jendela. Suara dengung mekanis yang sangat kukenali menggetarkan dinding kedai.
*[System Announcement: Integrity Scan in Progress. Searching for Unregistered Entity 'RENO'.]*
Wajah Elin memucat. "Mereka menemukanmu! Kau membawa mereka ke sini!"
"Sial," bisikku. Aku melihat ke arah pintu yang mulai berpendar putih. Sistem tidak lagi mengirimkan pesan peringatan biasa; mereka mengirimkan *Eraser Sentinels*. Jika NPC di ruangan ini tertangkap bersamaku, mereka tidak akan hanya di-respawn. Mereka akan dianggap sebagai data yang terinfeksi dan dihapus selamanya.
Aku menatap Merek dengan putus asa. "Jika kalian ingin hidup, bantu aku mematikan transmisi sinyal di menara pengawas distrik ini sekarang juga. Atau kita semua akan menjadi nol dan satu dalam lima menit."
Pintu depan meledak menjadi partikel piksel putih, dan sesosok makhluk tanpa wajah dengan jubah perak melayang ma**k, pedang cahayanya sudah terhunus ke arahku. Pertemuan aliansi ini baru saja berubah menjadi pelarian maut.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!