Bau logam berkarat dan air selokan yang menggenang menyengat hidungku saat aku melangkah lebih dalam ke Distrik Bawah. Di sini, cahaya kristal mana dari pusat kota Aethelgard hanya tersisa sebagai pendaran ungu pucat yang memantul di dinding-dinding bata yang lembap. Langkah kakiku sengaja kubuat seringan mungkin, sebuah kebiasaan lama sebagai asisten pandai besi yang sering harus mengendap-endap di antara tumpukan material berat.
Namun, di sudut mataku, sebuah jendela status melayang, berkedip merahβsebuah peringatan yang hanya bisa kulihat.
[Peringatan: Keberadaan terdeteksi oleh entitas dengan level ancaman: TINGGI.]
Aku berhenti tepat di bawah bayangan jembatan layang yang menghubungkan pasar atas dan wilayah kumuh ini. Udara di sekitarku mendadak mendingin. Bukan dingin karena hujan, tapi dingin yang tajam dan menusuk, jenis yang tercipta saat seseorang memanipulasi ruang di sekitarnya.
"C**up, NPC," sebuah suara berat bergema dari kegelapan di depanku. "Jangan membuatku harus memburu kode-kodemu ke seluruh penjuru kota. Serahkan item 'Glitched Core' itu sekarang, dan mungkin aku akan membiarkanmu terhapus dengan tenang tanpa rasa sakit."
Dari balik kabut tipis, sosok pria dengan jubah perak berkilau muncul. Di atas kepalanya, sebuah bar HP tebal berwarna emas melayang dengan nama yang membuat setiap Player di dunia ini gemetar: *Kaelen - The Void Walker (Rank 2).*
Aku mengatur napas, berusaha menjaga ekspresiku sedatar mungkin. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Tuan Player. Aku hanya seorang pekerja yang ingin pulang."
Kaelen tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca. Dia melangkah maju, dan setiap tapak kakinya meninggalkan retakan hitam di aspalβefek pasif dari *Void Walk*. "Berhenti berakting. Aku sudah melacak lonjakan data dari akunmu sejak pembaruan server kemarin. Seorang NPC dengan status yang tidak terbaca? Kau bukan sekadar bug, kau adalah harta karun berjalan."
Aku menyipitkan mata. Di pandanganku, dunia ini mulai terurai menjadi barisan kode. Aku bisa melihat statistik Kaelen yang sebenarnya di balik topeng 'Dewa' yang ia kenakan.
[STR: 450 | AGI: 510 | INT: 380]
[Status Khusus: Immune to Physical Damage (80%)]
Sangat kuat untuk ukuran manusia. Tapi bagiku... itu terlihat seperti angka yang bisa kuhapus dengan satu jentikan jari. Masalahnya, jika aku melakukannya, Sistem akan mendeteksi keberadaanku lebih cepat dari kilat.
"Aku tidak mencari masalah," kataku, tanganku mengepal di samping tubuh. "Perg***h. Cari Boss Raid atau semacamnya."
"Kau adalah Boss-nya, Anomali!"
Kaelen bergerak. Dia tidak berlari; dia meluncur menembus ruang, muncul tepat di hadapanku dalam sekejap mata. Pedang tipis berwarna hitam pekat terhunus ke leherku. Kecepatannya seharusnya mustahil untuk diikuti oleh mata NPC biasa.
*Ting.*
Suara benturan logam bergema di lorong sempit itu. Kaelen membelalak. Pedangnya tertahan, bukan oleh senjata, melainkan oleh dua jari tanganku yang menjepit bilah hitam itu.
"Apa...?" Kaelen bergumam, suaranya bergetar. Dia mencoba menarik pedangnya, tapi rasanya seolah-olah senjata itu tertanam di dalam gunung beton. "Levelku 98! Bagaimana mungkin NPC rendahan sepertimuβ"
"Aku sudah bilang, aku tidak mencari masalah," ucapku pelan. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang, bukan karena takut pada Kaelen, tapi karena di atas kepalaku, sebuah bar peringatan transparan mulai menghitung mundur.
[Integritas Realitas: 98%... 97%...]
Setiap kali aku menggunakan kekuatan 'God-Tier' ini, dunia di sekitarku mulai retak.
Kaelen berteriak geram, melepaskan skill pamungkasnya. "*VOID BURST!*"
Ledakan energi gelap meledak dari tubuhnya, menghancurkan dinding bata di kiri dan kanan kami, menciptakan lubang hitam kecil yang mengisap segala sesuatu di sekitarnya. Debu dan puing-puing beterbangan. Namun, saat asap mulai menipis, aku masih berdiri di sana. Bahkan pakaian kulit kusamku tidak robek sedikit pun.
Aku melihat ke arah Kaelen. Di matanya, aku melihat sesuatu yang jarang terlihat di mata Player tingkat atas: ketakutan murni.
"Kau... kau bukan bug," bisiknya, melangkah mundur dengan gemetar. "Kau adalah... *God-Class*?"
"Aku hanya seseorang yang ingin bertahan hidup, Kaelen," jawabku. Aku melangkah maju, dan setiap langkahku membuat bar HP-nya berkedip tidak stabil. Aku tidak memukulnya. Aku hanya menyentuh bahunya.
[Sistem Override: Mengakses Data Target...]
[Perintah: Kurangi Durabilitas Perlengkapan menjadi 0.]
Dalam sekejap, jubah perak legendarisnya hancur menjadi serpihan piksel abu-abu. Senjata hitamnya retak dan menghilang. Kaelen jatuh terduduk, kini hanya mengenakan pakaian dasar pemain pemula, seluruh kekuatannya sirna dalam satu sentuhan.
"Jangan pernah mencariku lagi," kataku dengan suara dingin yang bahkan mengejutkan diriku sendiri. "Atau aku akan menghapus akunmu dari server ini secara permanen. Tanpa respawn. Tanpa pemulihan data."
Kaelen tidak menjawab. Dia segera membuka menu log-out dengan tangan gemetar dan menghilang dalam kilatan cahaya biru, melarikan diri dari kengerian yang baru saja ia saksikan.
Aku berdiri sendirian di lorong yang hancur itu, napas terengah. Keheningan kembali menyelimuti, tapi itu bukan keheningan yang menenangkan.
Tiba-tiba, sebuah suara statis berdengung di telingaku, sangat keras hingga membuatku berlutut sambil memegangi kepala. Di depanku, sebuah jendela sistem besar muncul, berwarna merah darah, menutupi seluruh pandanganku.
[KESALAHAN KRITIS TERDETEKSI.]
[Target 'Reno' telah melampaui ambang batas manipulasi data.]
[Protokol Penghapusan Tahap 1: GAGAL.]
[Mengaktifkan Protokol Tahap 2: Pengerahan 'The World Arbiter'.]
Darah terasa membeku di nadiku. *World Arbiter*. Itu bukan monster biasa. Itu adalah program eksekusi langsung dari sistem pusat yang dirancang untuk membersihkan data korup yang paling berbahaya sekalipun.
Dan yang membuat jantungku hampir berhenti adalah sebuah notifikasi tambahan yang muncul di bawahnya.
[Pesan Ma**k dari Player Rank 1 - Elara: "Kak? Apakah itu kau? Kenapa koordinatmu memicu peringatan merah di seluruh server? Tunggu aku, aku akan datang."]
"Sial," bisikku sambil menatap langit-langit lorong yang retak. Elara menuju ke sini. Dan jika dia menemukanku sekarang, dia bukan datang untuk menyelamatkankuβdia akan dipaksa oleh sistem untuk mengeksekusiku sebagai ancaman terbesar di dunia ini.
Waktuku hampir habis. Aku harus menghilang sebelum adikku sendiri menjadi algojoku.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!