Suara denting sendok yang beradu dengan dinding cangkir porselen itu terdengar seperti lonceng kematian bagi percakapan kami. Sudah lima belas menit kami duduk di sudut kafe favorit ini, namun satu-satunya interaksi yang terjadi hanyalah embusan napas berat dan bunyi ketikan dari laptop masing-masing. Di hadapanku, Aruna sedang mengerutkan kening, menatap layar dengan tatapan kosong, sementara jemarinya sesekali memutar ujung rambutnya yang kecokelatan—sebuah kebiasaan yang dulu kupikir manis, namun sekarang terasa seperti pengingat betapa stagnannya kami.
Aku melirik kalender di ponsel. Semester delapan. Puncak dari segala tekanan akademik. Di atas meja, tumpukan jurnal penelitian dan draf bab satu skripsiku berserakan, bersaing mendapatkan ruang dengan segelas *iced americano* yang sudah mencair.
"Na," panggilku pelan. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, seolah-olah sudah lama tidak digunakan untuk berbicara dengan seseorang yang duduk hanya berjarak setengah meter dariku.
Aruna tidak mendongak. "Hm?"
"Kita sudah nggak bicara soal kita sendiri selama sebulan terakhir," kataku datar. Aku tidak bermaksud terdengar menuduh, tapi begitulah caraku berbicara—selalu terukur dan langsung pada poinnya. "Setiap kita bertemu, pembicaraan kita hanya berputar di sekitar dosen pembimbing, revisi, atau keluhan soal statistik. Kamu merasakannya juga, kan?"
Kali ini, Aruna berhenti memutar rambutnya. Dia mengangkat wajah, menatapku dengan mata yang tampak lelah. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. "Lalu aku harus bilang apa, Rak? Aku juga capek. Aku sedang berusaha supaya nggak meledak karena revisi dari Pak Surya. Kamu mau aku membahas apa? Liburan yang nggak mungkin kita jalani sekarang?"
Aku mengatupkan rahang. Rasa sesak itu kembali muncul—perasaan jenuh yang sudah menggerogoti pondasi hubungan kami selama berbulan-bulan. Kami seperti dua orang asing yang terjebak dalam rutinitas "pasangan ideal" hanya karena kami sudah bersama sejak semester pertama. Semua orang melihat kami sebagai *relationship goals*, tapi di dalam sini, aku merasa seperti sedang menjaga api yang sudah lama padam.
"Aku pikir, kita sudah di titik jenuh yang parah," lanjutku, mengabaikan getaran kecil di dadaku. "Dan kita berdua tahu, memaksakan ini sekarang hanya akan berakhir dengan pertengkaran besar. Dan pertengkaran besar berarti patah hati. Kamu tahu apa yang terjadi kalau salah satu dari kita patah hati sekarang?"
Aruna menyandarkan punggung ke kursi, melipat tangan di depan dada. Ekspresinya mengeras. "Apa? Kamu mau bilang kita putus saja supaya kamu bisa fokus skripsi tanpa gangguan aku?"
"Bukan begitu," sanggahku cepat, meski sebagian dari diriku tahu bahwa perpisahan adalah hasil akhir yang logis. "Kalau kita putus sekarang, emosi kita akan hancur. Kamu nggak akan bisa bimbingan dengan tenang, dan aku nggak akan bisa menyelesaikan bab empatku. Kita akan gagal, Na. Masa depan kita taruhannya. Orang tua kita sudah berekspektasi tinggi."
Aruna tertawa hambar, suara yang tidak mencapai matanya. "Jadi, aku ini beban akademik buat kamu? Hubungan ini cuma variabel pengganggu dalam penelitian kamu?"
"Ini soal manajemen risiko, Aruna!" suaraku sedikit meninggi, membuat seorang mahasiswa di meja sebelah menoleh. Aku berdehem, merendahkan volume suara. "Aku hanya ingin kita bersikap pragmatis. Kita butuh stabilitas untuk lulus. Tapi kita juga tahu kalau kita sudah nggak... cocok lagi."
Aruna terdiam. Dia menatap ke luar jendela kafe, ke arah jalanan yang mulai basah karena rintik hujan. Keheningan kali ini terasa lebih tajam dari sebelumnya. Aku bisa melihat jakunnya bergerak saat dia menelan ludah, sebuah tanda bahwa dia sedang menahan sesuatu.
"Jadi apa tawaranmu, Pak Ketua Kelas yang Selalu Punya Rencana?" sindirnya, namun nadanya kini lebih tenang, lebih dingin.
Aku menarik napas panjang, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari tas laptopku—buku yang sudah kuisi dengan beberapa poin pemikiran selama beberapa malam terakhir. "Kita buat kontrak. Perjanjian Batas Waktu."
Aruna menaikkan sebelah alisnya, tampak sangsi sekaligus penasaran.
"Kita tetap berstatus pacaran sampai hari wisuda," kataku mantap. "Kita tetap akan pergi makan bareng seminggu sekali, saling kirim pesan 'semangat' di pagi hari, dan hadir di sidang skripsi masing-masing sebagai pendukung utama. Kita akan melakukan semua 'kewajiban' kekasih agar kesehatan mental kita terjaga dari drama patah hati."
"Sandiwara?" Aruna berbisik.
"Stabilitas emosional terencana," koreksiku. "Begitu toga dikenakan dan ijazah di tangan, kita resmi putus. Tanpa drama, tanpa dendam. Kita jalan masing-masing sebagai sarjana yang sukses."
Aruna menatapku seolah aku adalah alien yang baru saja mendarat di Bumi. Dia mengambil buku catatanku, membaca poin-poin yang kutulis dengan rapi: *Jadwal kencan mekanis, batas frekuensi bertengkar, dan larangan membahas masalah perasaan yang terlalu dalam hingga skripsi selesai.*
"Kamu benar-benar g***, Raka," ucapnya lirih. "Kamu memperlakukan hubungan kita seperti proyek magang yang ada tanggal kedaluwarsanya."
"Ini demi kebaikan kita berdua, Na. Kamu nggak mau kan menangis di depan dosen pembimbing cuma karena kita habis putus semalam?"
Aruna terdiam c**up lama. Dia menatap tanganku yang berada di atas meja, lalu perlahan menjauhkan tangannya sendiri seolah aku adalah benda panas. Namun, matanya kembali menatap draf skripsinya yang tebal. Aku tahu dia sedang menghitung peluang. Dia sama ambisiusnya denganku. Dia tahu betapa hancurnya dia jika harus menghadapi kegagalan akademik sekarang.
"Oke," katanya tiba-tiba. Suaranya tegas, meski ada getaran samar di sana. "Kita lakukan. Kontrak batas waktu. Kita putus tepat setelah nama kita dipanggil di aula wisuda."
Aku merasa ada beban yang terangkat dari bahuku, namun anehnya, ada rasa hampa yang menyusul dengan cepat. Aku mengambil pulpen dan menyodorkannya padanya. "Sepakat?"
Aruna tidak langsung menyambut pulpen itu. Dia menatapku tajam, seolah mencari sisa-sisa cinta di mataku yang mungkin masih tertinggal. "Tapi ada satu syarat, Raka. Selama kontrak ini berjalan, jangan pernah sekalipun kamu bersikap seolah ini cuma sandiwara di depan umum. Kalau kita harus pura-pura bahagia, kamu harus jadi aktor terbaik yang pernah ada."
Aku mengangguk pelan. "Aku bisa melakukannya."
Saat Aruna menarik buku catatan itu untuk membubuhkan tanda tangannya di bawah poin-poin g*** yang kubuat, sebuah petir menyambar di kejauhan, diikuti hujan deras yang langsung mengguyur kaca jendela. Kami baru saja meresmikan akhir dari hubungan kami dengan cara yang paling terencana, tanpa menyadari bahwa dalam setiap kontrak, selalu ada klausul yang tidak terduga—dan perasaan manusia bukanlah sesuatu yang bisa diatur dalam jadwal mingguan.
Aruna mengembalikan buku itu padaku. Tangannya bersentuhan dengan tanganku selama satu detik, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sengatan listrik yang tidak seharusnya ada di sana.
"Kontrak dimulai hari ini," bisik Aruna.
Aku menutup buku itu rapat-rapat. "Ya. Sampai wisuda tiba."
Namun, saat aku menatap matanya, aku melihat sesuatu yang tidak ada dalam draf kontrakku: ketakutan yang sama besarnya dengan ketakutanku. Kini, sandiwara paling besar dalam hidup kami baru saja dimulai, dan aku tidak tahu apakah aku c**up kuat untuk memainkan peran sebagai kekasih yang baik bagi wanita yang baru saja kusepakati untuk kutinggalkan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!