Lampu kuning temaram dari kafe atap ini memantul di permukaan gelas es kopi susuku yang tinggal separuh. Di depanku, Raka sedang sibuk memotong steaknya dengan presisi yang hampir membuatku tertawa. Cara dia memegang pisau dan garpu sama persis dengan caranya menggaris margin di draf skripsinya: kaku, terukur, dan tanpa cela.
"Bab tiga kamu sudah di-ACC total?" tanya Raka tanpa mendongak, suaranya berat namun lembut, tenggelam di antara denting instrumen jazz yang mengalun dari pelantang suara.
Aku mengangguk, menyandarkan punggung ke kursi rotan yang empuk. "Pak Handoko cuma minta tambahkan sedikit tentang teori fenomenologi di sub-bab terakhir. Sisanya aman. Aku merasa beban lima puluh kilo baru saja diangkat dari pundakku."
Raka akhirnya mendongak. Sudut bibirnya terangkat tipisβsebuah senyum yang jarang kulihat selama enam bulan terakhir sebelum kontrak ini ada. "Bagus. Kamu layak merayakannya. Sesuai kesepakatan, progres signifikan berarti satu malam apresiasi."
Aku mengeluarkan ponsel, menggeser layar hingga menemukan aplikasi kalender bersama yang kami buat. "Jadwal Kemesraan Mekanis," gumamku membaca judul pengingat yang muncul di layar. "Pukul 19.00 sampai 21.00: Makan malam romantis tanpa membahas revisi kecuali di lima menit pertama."
Raka meletakkan pisaunya. "Dan kita baru saja menghabiskan empat menit pertama untuk membahas Pak Handoko. Masih ada satu menit lagi kalau kamu mau mengeluh tentang daftar pustaka."
Aku tertawa, benar-benar tertawa. Bukan tawa sopan yang biasa kulakukan saat kami masih terjebak dalam fase 'bosan' setahun lalu, melainkan tawa lepas yang membuat perutku sedikit kaku. "Tidak, terima kasih. Aku ingin menikmati sisa waktu ini sebagai Aruna yang manusia, bukan Aruna sang budak korporasiβeh, budak skripsi."
Raka meraih tanganku di atas meja. Jemarinya yang panjang dan hangat menyelinap di sela-sela jariku. Ini adalah bagian dari prosedur. Di depan publik, kami harus terlihat sebagai pasangan yang solid agar tidak ada pertanyaan mengganggu dari teman-teman atau keluarga yang bisa memecah fokus kami. Namun, saat kulit kami bersentuhan, ada sengatan listrik yang seharusnya sudah mati sejak lama.
Aku memperhatikan wajahnya di bawah lampu gantung. Garis lelah di bawah matanya tidak bisa disembunyikan, tapi matanya... matanya terlihat lebih hidup.
"Kenapa melihatku begitu?" tanya Raka.
"Kamu terlihat lebih tenang," ujarku jujur. "Dulu, kalau kita kencan seperti ini, kamu pasti akan sibuk mengecek ponsel atau mengeluh tentang betapa membosankannya pilihan film yang kita tonton. Sekarang, kamu benar-benar di sini."
Raka terdiam sejenak, ibu jarinya mengusap punggung tanganku perlahan. "Mungkin karena sekarang aku tahu ada batas waktunya, Na. Karena aku tahu kencan ini punya 'tanggal kedaluwarsa' di hari sidang kita nanti, aku merasa tidak perlu menuntut apa pun darimu. Aku cuma perlu menjalani skenario ini dengan baik."
Kata-katanya seharusnya terdengar menyakitkan. Dia bilang dia bisa bersikap manis hanya karena ini adalah bagian dari kontrak. Tapi yang terasa di dadaku justru sebaliknya. Ada rasa sesak yang aneh.
Sepanjang makan malam, percakapan kami mengalir tanpa hambatan. Kami membicarakan hal-hal konyol, seperti bayangan kami tentang dunia kerja yang menakutkan, hingga impian-impian kecil yang dulu sering kami bicarakan di awal pacaran namun terkubur oleh rutinitas. Tidak ada tuntutan. Tidak ada pertanyaan "Kita mau dibawa ke mana?". Tidak ada kecurigaan.
Semua terasa begitu ringan karena kami sudah sepakat untuk berakhir.
"Kamu tahu apa yang lucu?" tanyaku saat kami berjalan menuju parkiran, angin malam memainkan ujung rambutku.
Raka menoleh sambil merangkul bahukuβlagi-lagi, gerakan 'akting' yang sangat natural. "Apa?"
"Dulu, saat kita benar-benar pacaran, kita sering bertengkar hanya karena aku lupa membalas pesanmu atau karena kamu terlalu kaku mengatur jadwal kencan. Tapi sekarang, saat kita cuma akting... aku merasa kita lebih kompak daripada pasangan mana pun di kampus."
Langkah Raka melambat saat kami sampai di samping mobilnya. Dia tidak langsung membukakan pintu untukku. Dia memutar tubuhku agar menghadapnya. Jarak kami sangat dekat hingga aku bisa mencium aroma parfum kayu cendana yang bercampur dengan aroma kopi dari bajunya.
"Aku juga merasakannya," bisik Raka. Suaranya terdengar serak. "Aneh, kan? Kita lebih bahagia saat berpura-pura daripada saat kita mencoba dengan sungguh-sungguh dulu."
Tatapan mata Raka jatuh ke bibirku. Untuk sesaat, suasana di parkiran yang sepi itu berubah drastis. Ini tidak ada dalam jadwal. Tidak ada poin dalam kontrak yang mengharuskan kami berdiri sedekat ini di bawah lampu parkir yang remang-remang dengan napas yang memburu.
Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dada dengan liar. Aku ingin menarik diri, mengingatkan diriku sendiri bahwa ini hanya mekanisme pertahanan agar skripsi kami lancar. Tapi tanganku justru meremas ujung jaketnya.
Raka mendekatkan wajahnya, hidung kami hampir bersentuhan. "Na, kalau ini cuma sandiwara..." suaranya tertahan di tenggorokan, "kenapa rasanya sesakit ini saat aku ingat kontrak itu akan berakhir sebentar lagi?"
Aku tidak bisa menjawab. Logikaku meneriakkan peringatan tentang revisi bab empat yang menunggu di meja belajar, tentang janji untuk tidak melibatkan perasaan lagi. Namun, saat Raka memiringkan kepalanya dan perlahan menipiskan jarak di antara kami, aku menyadari satu hal yang mengerikan.
Kami menciptakan zona nyaman yang begitu sempurna dalam kebohongan ini, hingga saat kenyataan untuk berpisah itu benar-benar datang, aku tidak yakin sanggup menghadapinya tanpa hancur lebih parah dari sebelumnya.
Sebelum bibirnya menyentuh milikku, sebuah notifikasi nyaring dari ponsel di saku jaket Raka memecah keheningan. Bunyi pesan ma**k yang agresif. Raka tersentak, menjauhkan wajahnya dengan napas tersengal.
Dia merogoh ponselnya, wajahnya seketika menegang. "Dosen pembimbingku," gumamnya, suaranya kembali datar dan kaku, seolah sihir beberapa detik lalu telah menguap. "Dia minta pertemuan darurat besok pagi pukul tujuh. Ada masalah dengan data penelitianku."
Gelembung indah itu pecah. Raka kembali menjadi mesin yang disiplin, dan aku kembali menjadi rekan kontraknya. Aku memaksakan senyum, meski hatiku terasa seperti baru saja dijatuhkan dari lant** sepuluh.
"Ayo pulang," kataku, berusaha menjaga suaraku tetap stabil. "Kita punya jadwal belajar intensif besok, kan?"
Raka mengangguk, membukakan pintu mobil untukku tanpa menatap mataku lagi. Di dalam mobil yang hening, aku menyadari satu konflik baru yang jauh lebih berbahaya daripada kegagalan skripsi: aku mulai mencint** pria yang sudah sepakat untuk meninggalkanku di hari kelulusan nanti. Dan aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan, revisi skripsi yang tidak ada habisnya, atau kenyataan bahwa kontrak ini berjalan terlalu sukses.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!