Layar laptop yang berpendar di dalam kamar yang remang itu seolah mengejekku. Kursor pada baris subjek surel itu berkedip-kedip, menanti sebuah keputusan yang seharusnya membuatku melompat kegirangan. *Letter of Offering – Management Trainee Program.*
Aku menyandarkan punggung ke kursi kayu yang keras, membiarkan bunyi deritnya memecah keheningan malam. Tanganku yang terasa dingin perlahan mengusap wajah. Ini adalah apa yang selalu aku rencanakan. Sebuah jalur karier yang mapan, gaji di atas rata-rata untuk lulusan baru, dan jaminan masa depan yang stabil—persis seperti yang diharapkan orang tuaku. Namun, ada satu baris di paragraf ketiga yang membuat dadaku terasa seperti dihantam godam: *“Penempatan awal: Site Kalimantan Timur. Kandidat diharapkan bersedia dimobilisasi dalam waktu dua minggu setelah kelulusan.”*
Kalimantan. Dua ribu kilometer dari Jakarta. Dua ribu kilometer dari Aruna.
Aku mengembuskan napas panjang, mencoba memanggil kembali logika pragmatis yang selama ini menjadi kompas hidupku. Bukankah ini alasan awal kami membuat kontrak g*** itu? Kami sudah sepakat bahwa dunia setelah kampus adalah rimba yang berbeda. Kami merasa hubungan ini sudah hambar, terjebak dalam rutinitas yang menyesakkan, dan perpisahan saat wisuda adalah cara paling 'bersih' agar kami bisa mengejar ambisi masing-masing tanpa beban emosional.
Aku meraih ponsel, melihat jadwal 'kemesraan' yang kami buat di kalender bersama. *Malam ini: Sesi Belajar Bareng di Perpustakaan Pusat (20.00 - 22.00).*
Aruna sudah di sana. Dia selalu tepat waktu jika meny сто menyangkut revisi Bab 4-nya yang penuh dengan coretan merah dari Pak Danu. Aku segera menyambar jaket dan kunci motor, berusaha mengabaikan lubang besar yang perlahan menganga di ulu hatiku.
***
Perpustakaan pusat terasa dingin dan beraroma kertas lama bercampur pembersih lant**. Aku menemukan Aruna di sudut favorit kami—meja panjang di dekat jendela yang menghadap ke arah danau kampus. Rambutnya diikat asal-asalan, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang terlihat pucat di bawah lampu neon.
"Hei," sapaku pelan sambil meletakkan segelas kopi dingin di samping laptopnya.
Aruna menoleh, memberikan senyum tipis yang—berdasarkan kontrak kami—adalah protokol standar saat bertemu. "Makasih, Ka. Kamu telat sepuluh menit."
"Maaf. Ada surel ma**k tadi," jawabku singkat sambil membuka laptop.
Aruna menghentikan ketikannya. Matanya yang lelah kini menatapku lekat. Dia punya kemampuan aneh untuk membaca ketegangan di bahuku, bahkan sebelum aku mengucapkannya. "Kabar baik?"
Aku ragu sejenak, lalu mengangguk. "Aku keterima di perusahaan pertambangan itu. Program MT-nya."
Mata Aruna membelalak pelan. Ada binar kebanggaan di sana, namun hanya bertahan satu detik sebelum akhirnya meredup. "Wah... selamat, Ka. Itu kan impian kamu banget."
"Iya," kataku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. "Tapi penempatannya di Kalimantan. Aku harus berangkat dua minggu setelah sidang Yudisium."
Hening mendadak menjadi sangat tebal di antara kami. Suara gesekan bolpoin dari meja sebelah terdengar seperti dentuman keras. Aruna tidak segera merespons. Dia kembali menatap layar laptopnya, tapi jemarinya hanya diam di atas *keyboard*.
"Kalimantan jauh ya," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
"Sangat jauh," balasku. "Tidak ada lagi jadwal belajar bareng. Tidak ada lagi kontrak yang harus dipatuhi."
Aruna tertawa kecil, tapi suaranya terdengar getir. "Lucu ya. Kita buat kontrak itu supaya kita nggak hancur kalau putus di tengah skripsi. Kita pikir jarak emosional yang kita buat bakal bikin perpisahan nanti jadi lebih mudah."
Aku memperhatikan jemari Aruna yang mulai memilin ujung kabel pengisi daya laptopnya—kebiasaan buruknya jika dia sedang cemas. Aku ingin meraih tangannya, menggenggamnya, dan mengatakan bahwa jarak itu tidak masalah. Tapi logika di kepalaku berteriak protes. *Raka, ingat alasanmu. Kamu ingin fokus. Kamu ingin sukses. Hubungan ini sudah mati sebelum kontrak dimulai.*
"Ini membuktikan kalau keputusan kita benar, Ar," kataku, mencoba terdengar tegas meski hatiku berontak. "Bayangkan kalau kita masih 'pacaran beneran' sekarang. Berita ini bakal jadi drama besar. Kita bakal nangis-nangis, bertengkar soal LDR, dan skripsi kita nggak bakal selesai tepat waktu."
Aruna menoleh padaku, matanya berkaca-kaca meski dia berusaha keras menahannya. "Kamu benar-benar menganggap hubungan kita cuma sekadar 'drama' kalau nggak ada kontrak ini, Ka?"
"Bukan begitu maksudku..."
"Lalu apa?" potongnya cepat. "Tidakkah kamu merasa kalau selama tiga bulan terakhir, sejak kita tanda tangan kontrak itu, kita justru merasa lebih dekat daripada setahun sebelumnya? Kamu tahu aku suka kopi tanpa gula sekarang karena aku sering lembur. Aku tahu kamu nggak bisa tidur kalau belum baca draf bab baru. Kita bukan sekadar menjalankan jadwal, Ka. Kita ada untuk satu sama lain."
Aku terdiam. Dadaku sesak. Dia benar. Sandiwara yang kami buat justru menyingkap lapisan-lapisan kejujuran yang selama ini tertutup oleh kebosanan.
"Tapi kenyataannya tetap sama, Ar," suaraku merendah, hampir berbisik. "Aku akan pergi ke Kalimantan. Dan kamu akan tetap di sini, mengejar beasiswa ke luar negeri seperti yang kamu rencanakan. Kita punya jalan yang berbeda."
Aruna menutup laptopnya dengan suara *klik* yang tajam. Dia merapikan buku-bukunya dengan gerakan yang mekanis dan kaku.
"Iya, kamu benar. Logika Raka Dewangga memang tidak pernah salah," ucapnya sambil berdiri. Dia menatapku, dan kali ini aku melihat ada luka yang dalam di sana—sesuatu yang tidak tercantum dalam kontrak kami. "Kontrak ini efektif. Sangat efektif sampai aku lupa kalau perpisahan kita itu nyata, bukan cuma sekadar jadwal di kalender."
Dia menyampirkan tasnya ke bahu. "Aku mau balik ke kos duluan. Nggak usah diantar. Sesuai kontrak, hari ini adalah 'waktu mandiri' kalau salah satu dari kita merasa jenuh, kan?"
Aku hanya bisa terpaku melihat punggungnya menjauh, melewati rak-rak buku yang tinggi. Rasanya aneh. Aku baru saja mendapatkan pekerjaan impianku, alasan yang memperkuat mengapa kami memang harus berpisah. Seharusnya aku merasa lega karena jalan menuju masa depanku kini bersih dari hambatan.
Namun, saat aku melihat kursi kosong di depanku dan sisa kopi yang mulai mendingin, aku menyadari satu hal yang luput dari perhitunganku yang pragmatis.
Kepergianku ke luar pulau bukan lagi sekadar perpindahan geografis. Itu adalah palu hakim yang akan mengetok keputusan akhir bagi kami. Dan entah mengapa, membayangkan hidup tanpa jadwal makan siang yang dipaksakan atau pesan singkat "sudah bimbingan?" dari Aruna, membuat pencapaianku malam ini terasa seperti kegagalan yang paling sunyi.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat dari Aruna ma**k.
*Aruna: Selamat untuk kerjanya, Raka. Aku senang buat kamu. Dan kamu benar, Kalimantan itu jauh. Terlalu jauh untuk sebuah sandiwara.*
Aku menatap layar itu lama sekali, sampai layar itu mati dengan sendirinya, meninggalkan bayanganku yang tampak ragu di permukaan kaca yang gelap. Kontrak ini hampir berakhir, tapi mengapa rasanya aku justru baru saja memulai sebuah kesalahan besar?
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!