Dingin AC di selasar lant** tiga ini seolah meresap langsung ke tulang sumsumku, membuat jemariku yang memegang map plastik tebal berisi draf skripsi terasa kaku dan membiru. Aku mencoba mengatur napas, namun paru-paruku rasanya menyempit. Di depanku, pintu kayu bercat cokelat tua itu tampak seperti gerbang menuju penghakiman akhir.
"Minum dulu, Na. Tanganmu gemetar sampai bunyinya kedengaran ke sini."
Suara berat dan tenang itu milik Raka. Dia duduk di sampingku, menyodorkan sebotol air mineral yang embun dinginnya sudah membasahi plastik kemasannya. Aku menoleh, menatap wajahnya yang tampak jauh lebih tenang dariku, meski aku tahu dia juga sedang memikirkan jadwal sidangnya sendiri minggu depan.
"Gimana kalau aku blank, Ka? Gimana kalau Pak Sub**ta nanya metode yang nggak bisa kujawab?" suaraku bergetar, nyaris mencicit.
Raka tidak langsung menjawab dengan kalimat motivasi yang klise. Dia justru meraih tanganku, menggenggamnya erat. Telapak tangannya hangat dan kasar, kontras dengan tanganku yang sedingin es. "Kamu sudah latihan di depan cermin sampai hafal setiap koma di bab empatmu. Pak Sub**ta cuma mau tahu seberapa paham kamu sama pekerjaanmu sendiri, bukan mau makan kamu."
Dia merapikan kerah kemeja putihku yang sedikit miring, lalu menatap mataku dengan intensitas yang membuat jantungku berdegup lebih kencangβbukan karena takut sidang, tapi karena sesuatu yang lain. "Fokus, Aruna. Jangan biarkan ketakutanmu hari ini merusak apa yang sudah kita jaga berbulan-bulan."
*Apa yang sudah kita jaga.* Kalimat itu menghantamku. Kami menjaga kestabilan ini, sandiwara kemesraan yang dijadwal, demi hari ini. Agar aku tidak menangis di pojok perpustakaan karena patah hati saat seharusnya mengolah data. Agar Raka tetap disiplin membimbingku meski kami sudah merasa asing satu sama lain.
Pintu terbuka. Seorang mahasiswa keluar dengan wajah pucat pasi dan mata sembap, namun dia mengangguk kecil padakuβisyarat bahwa dia selamat.
"Aruna Nirwasita," suara asisten dosen memanggil namaku, memecah keheningan selasar.
Aku berdiri dengan kaki yang terasa seperti jeli. Raka ikut berdiri, memberikan tepukan ringan di bahuku. "Satu jam dari sekarang, kamu akan keluar dari sana sebagai calon sarjana. Ingat itu."
Aku mengangguk, menarik napas panjang, dan melangkah ma**k.
Di dalam, ruangan itu terasa jauh lebih luas dan lebih sepi. Tiga pasang mata mengawasiku dari balik meja panjang yang penuh dengan tumpukan kertas. Pak Sub**ta, dosen pengujiku yang paling ditakuti, menggeser kacamata ke ujung hidungnya.
"Silakan dimulai, Saudari Aruna. Waktu presentasi Anda sepuluh menit," ucapnya datar.
Tanganku gemetar saat menyalakan proyektor. Layar putih di depanku menampilkan judul penelitian yang telah menyita tidurku selama setahun terakhir. Aku mulai bicara. Awalnya suaraku goyah, namun saat melihat deretan grafik yang kubuat dengan bantuan Raka di malam-malam penuh kopi dan revisi, aku menemukan ritmeku.
Aku menjelaskan tentang fenomena komunikasi di era digital, tentang bagaimana pesan singkat bisa mengubah persepsi manusia. Ironis, pikirku di sela-sela presentasi. Aku bicara soal komunikasi, padahal komunikasiku dengan laki-laki yang menungguku di luar sana sedang berada di ambang kehancuran yang terencana.
"Kenapa Anda menggunakan teori ini? Bukankah ada celah di variabel kedua Anda?" Pak Sub**ta memotong, suaranya tajam seperti silet.
Duniaku serasa berhenti sejenak. Aku teringat Raka pernah menanyakan hal yang sama saat kami simulasi di kafe minggu lalu. 'Na, kalau ditanya soal variabel ini, jangan defensif. Jelaskan keterbatasannya, lalu ma**k ke solusi.'
Aku berdehem, membasahi tenggorokan yang kering. "Terima kasih atas pertanyaannya, Pak. Betul bahwa ada keterbatasan dalam penggunaan teori tersebut pada variabel kedua, namun dalam konteks sampel yang saya ambil..."
Kata-kata mengalir begitu saja. Aku mempertahankan argumenku seolah-olah aku sedang mempertahankan hidupku sendiri. Setiap pertanyaan sulit kuhadapi dengan logika yang tajam. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa berkuasa atas diriku sendiri. Aku bukan sekadar 'kekasih kontrak' Raka, aku adalah Aruna yang cerdas dan kompeten.
Satu jam kemudian, aku diminta keluar ruangan sejenak agar para penguji bisa berunding.
Begitu pintu tertutup di belakangku, aku menyandarkan punggung ke tembok dan merosot perlahan. Napas yang tadi kutahan kini keluar dalam satu embusan panjang yang lega. Raka langsung menghampiriku, berjongkok di depanku dengan wajah penuh tanya.
"Gimana?" tanyanya pendek.
"Aku bisa jawab semuanya," bisikku. "Pak Sub**ta sempat mendesak soal metodologi, tapi aku ingat saranmu."
Raka tersenyumβsenyum tulus yang jarang kulihat belakangan ini. Dia mengusap kepalaku pelan. "Sudah kubilang, kan?"
Pintu kembali terbuka. Aku diminta ma**k untuk mendengarkan keputusan.
"Berdasarkan hasil diskusi tim penguji, Saudari Aruna Nirwasita dinyatakan... lulus dengan nilai A."
Suara ketukan palu Pak Sub**ta terdengar seperti musik paling indah di telingaku. Aku membungkuk berkali-kali, mengucapkan terima kasih dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Begitu aku keluar dari ruangan untuk kedua kalinya, aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku berlari kecil dan menghambur ke pelukan Raka.
Dia menangkapku, mengangkat tubuhku sedikit dan memutarnya. Teman-teman seangkatanku yang menunggu di selasar bersorak, mengira ini adalah puncak romantis dari pasangan idola kampus. Raka memelukku erat, sangat erat, sampai aku bisa mencium aroma detergen dari kemejanya yang familier.
"Selamat, Na. Kamu berhasil," bisiknya tepat di telingaku.
Aku memejamkan mata, menikmati kehangatan itu. Namun, di tengah euforia ini, sebuah pikiran gelap menyelinap ma**k seperti kabut. Kontrak kami tertulis dengan jelas: *Hubungan berakhir setelah kedua belah pihak menyelesaikan sidang skripsi dan dinyatakan lulus.*
Aku baru saja menyelesaikan bagianku. Aku baru saja memutus satu rant** yang menahan kami tetap bersama.
Raka melepaskan pelukannya perlahan, menatapku dengan binar bangga yang perlahan meredup, digantikan oleh kesadaran yang sama denganku. Dia merapikan rambutku yang berantakan, namun gerakannya kini terasa lebih ragu.
"Satu langkah lagi, Na," katanya, suaranya kini terdengar berat dan berbeda dari sebelumnya. "Minggu depan giliranku. Dan setelah itu... kita selesai."
Kegembiraan yang tadi meluap-luap seketika menguap, meninggalkan rasa hampa yang dingin di ulu hatiku. Aku menatap toga yang dipajang di etalase dekat ruang dekanat. Toga itu tidak lagi terlihat seperti simbol kesuksesan, melainkan seperti kain kafan untuk hubungan kami.
"Ka," panggilku lirih saat kami berjalan beriringan menuju parkiran.
"Ya?"
"Boleh nggak, kalau setelah sidangmu nanti, kita... nggak langsung bahas itu?"
Raka menghentikan langkahnya tepat di samping motornya. Dia tidak menoleh padaku. Tangannya mencengkeram helm dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih. "Kita sudah sepakat, Aruna. Jangan membuat ini jadi lebih sulit dari yang seharusnya."
Dia memberikan helm padaku, namun matanya menghindari tatapanku. Aku tahu dia takut. Sama takutnya denganku. Bahwa kenyataan yang selama ini kami tunda dengan tumpukan kertas skripsi kini tinggal berjarak tujuh hari lagi.
Minggu depan, saat palu sidang Raka diketuk, kontrak kami resmi kedaluwarsa. Dan aku baru menyadari, aku sama sekali tidak siap menghadapi dunia tanpa status 'kita', sec**** apa pun hubungan itu saat ini.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!