Simpul dasi di leherku rasanya mencekik lebih kuat dari biasanya. Aku memperbaikinya untuk kelima kalinya di depan cermin toilet lant** tiga gedung dekanat, memastikan tidak ada satu pun serat kain yang tidak pada tempatnya. Napas yang kukeluarkan terdengar berat, bergema di antara dinding keramik putih yang dingin. Di pantulan cermin, wajahku tampak pucat, tapi mataku tetap tajamβdisiplin yang sudah mendarah daging membuatku menolak untuk terlihat goyah.
Hari ini adalah puncaknya. Empat tahun kuliah, ratusan malam tanpa tidur, dan berlembar-lembar revisi yang penuh coretan tinta merah dari Pak Heru, dosen pembimbingku yang tak kenal ampun. Semuanya bermuara pada satu jam di dalam ruang sidang 302.
Aku melangkah keluar, menyusuri koridor yang senyap. Di kejauhan, aku melihat Aruna duduk di kursi tunggu kayu. Dia mengenakan blus putih yang rapi, tangannya menggenggam sebungkus cokelat kesukaanku dan satu buket kecil bunga matahari. Saat matanya bertemu denganku, dia memberikan senyum yangβjika orang lain melihatnyaβtampak seperti dukungan penuh kasih dari seorang kekasih ideal.
Namun, aku tahu kebenarannya. Senyum itu adalah bagian dari Pasal 4 Jadwal Kemesraan kami: *Memberikan dukungan emosional maksimal pada hari H sidang skripsi.*
"Raka," panggilnya lembut saat aku mendekat. Dia berdiri, merapikan kerah kemejaku yang sebenarnya sudah sempurna. "Kamu sudah siap. Kamu yang paling tahu isi skripsi ini lebih dari siapa pun di dunia."
Aku mengangguk kaku. "Terima kasih, Na."
"Ingat, jangan terlalu cepat bicara kalau lagi gugup. Tarik napas." Aruna meremas pelan jemariku. Tangannya hangat, berbanding terbalik dengan tanganku yang sedingin es.
Pintu ruangan 302 terbuka. Seorang staf akademik memanggil namaku. Aku menatap Aruna sekali lagi, dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya yang melampaui kontrak kami. Ada ketakutan di sana, atau mungkin kesedihan yang sama dengan yang mulai merayapi dadaku. Tapi aku segera menepisnya. Aku butuh fokus. Aku butuh nilai A.
Di dalam ruangan, aroma kertas lama dan pendingin ruangan yang dipasang terlalu rendah menyambutku. Tiga dosen penguji sudah duduk dengan laptop dan tumpukan naskah skripsiku di depan mereka. Pak Heru berada di tengah, kacamatanya melorot di ujung hidung, menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Silakan dimulai, Saudara Raka," ucapnya datar.
Presentasiku berjalan seperti mesin yang diminyaki dengan baik. Aku menjawab setiap serangan pertanyaan tentang metodologi dan analisis data dengan presisi. Pragmatismeku menjadi senjata utama; aku tidak memberi ruang bagi keraguan. Ketika penguji kedua mencoba menyudutkan temuan penelitianku, aku membalasnya dengan sitasi teori yang sudah kuhafal di luar kepala.
Namun, di tengah-tengah sesi tanya jawab yang intens itu, pikiranku mendadak tergelincir. Aku melihat arloji di pergelangan tanganku. Pukul sepuluh pagi. Dalam hitungan jam, statusku akan berubah. Aku akan selangkah lebih dekat dengan kelulusan. Dan itu berarti, kontrak kami akan segera berakhir.
*Kita putus setelah skripsi.*
Kalimat itu tiba-tiba berdenging di telingaku, lebih nyaring dari pertanyaan penguji ketiga. Fokusku goyah sejenak. Aku terdiam selama lima detik yang terasa seperti keabadian, sebelum akhirnya berhasil menarik kembali kesadaranku dan menyelesaikan argumen penutup.
"Silakan tunggu di luar, kami akan merapatkan hasilnya," kata Pak Heru.
Aku melangkah keluar dengan tungkai yang terasa ringan, hampir melayang. Aruna langsung berdiri begitu melihatku. Dia tidak bertanya bagaimana hasilnya; dia hanya menyodorkan air mineral yang sudah dibuka tutupnya. Aku meminumnya sampai habis, merasakan air dingin itu membasahi tenggorokanku yang kering.
Lima belas menit kemudian, aku dipanggil kembali.
"Saudara Raka Dewangga," Pak Heru berdiri, diikuti dua penguji lainnya. "Setelah mempertimbangkan orisinalitas penelitian dan kemampuan Anda mempertahankan argumen, kami memutuskan bahwa Anda dinyatakan lulus." Beliau menjeda, memberikan senyum tipis yang jarang sekali diperlihatkan. "Dengan nilai A."
Aku menyalami mereka satu per satu. Ucapan selamat mengalir, tapi entah mengapa, suara-suara itu terdengar jauh. Ada kepuasan yang meledak di dadaku, sebuah pencapaian yang seharusnya membuatku melompat kegirangan. Aku telah berhasil. Aku tidak gagal di mata orang tuaku. Masa depanku secara akademis sudah terjamin.
Saat aku keluar dari ruangan, Aruna sudah menungguku dengan mata berbinar. Begitu aku membisikkan kata "A", dia langsung memelukku. Erat. Sangat erat sampai aku bisa mencium aroma parfum vanilanya yang menenangkan. Teman-teman yang lain mulai berdatangan, memberikan ucapan selamat, menyampirkan selempang satin bertuliskan *Raka Dewangga, S.E.* di bahuku.
Kamera ponsel ber-flash, tawa pecah di koridor, dan Aruna tetap berada di sampingku, memerankan perannya sebagai kekasih yang bangga dengan sempurna. Kami berfoto bersama, dia mencium pipiku di depan kamera, dan aku merangkul pinggangnya.
Namun, di tengah keriuhan itu, hatiku justru terasa hampa. Seperti sebuah lubang hitam yang perlahan mengisap semua rasa bangga yang baru saja kurasakan.
Aku menatap Aruna yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Dia terlihat sangat cantik dengan bunga matahari itu di pelukannya. Namun, pikiranku justru melayang ke tanggal kalender yang sudah kami tandai di apartemen. Sidangku sudah selesai. Sidang Aruna dua minggu lagi. Setelah itu, yudisium. Lalu wisuda.
Dan setelah toga itu dikenakan, tidak ada lagi alasan untuk kontrak ini ada. Tidak ada lagi jadwal kemesraan hari Selasa, tidak ada lagi kewajiban untuk saling menguatkan di tengah tekanan revisi.
"Raka? Kamu kok bengong?" Aruna menyentuh lenganku, ekspresinya berubah khawatir.
"Aku cuma... capek," dustaku, meski aku tahu dia bisa melihat kebohonganku.
Aku meraih tangannya, menggenggamnya kuat-kuat seolah jika aku melepaskannya sekarang, dia akan menguap seperti asap. Nilai A itu kini terasa seperti sebuah piala yang terbuat dari es; dingin dan perlahan mencair di tanganku. Aku baru saja memenangkan masa depanku, tapi di saat yang sama, aku menyadari bahwa aku sedang menghitung mundur detik-detik terakhirku bersamanya.
"Kita makan siang bareng?" tanya Aruna, suaranya kini lebih rendah, hanya untuk pendengaranku. "Sesuai jadwal?"
Aku menatap matanya, mencari-cari apakah dia merasakan kehampaan yang sama. "Iya. Sesuai jadwal."
Saat kami berjalan beriringan menuju parkiran, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Selama ini aku takut gagal dalam studiku. Tapi sekarang, berdiri di puncak keberhasilan ini, ketakutan terbesarku justru baru saja dimulai: aku tidak tahu bagaimana cara menjalani hidup tanpa alasan untuk menahannya tetap tinggal.
Langkah kaki kami bergema di aspal, dan setiap langkah itu terasa seperti bunyi palu yang memaku peti mati hubungan kami. Karena bagiku, nilai A ini bukan hanya tanda kelulusan, tapi juga lonceng kematian bagi sandiwara yang mulai terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.
Dan yang paling menakutkan adalah, Aruna tampak baik-baik saja dengan itu semua.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!