Suara kipas angin gantung di langit-langit kantin fakultas berderit ritmis, seolah menghitung detik yang merayap lambat. Di depanku, Raka sedang sibuk dengan ponselnya, jemarinya bergerak lincah membalas surel atau mungkin memeriksa pengumuman pendaftaran yudisium untuk kesekian kalinya. Aku menyesap es kopi susuku yang sudah mencair, rasanya kini hambar, persis seperti suasana di antara kami siang ini.
Biasanya, di tengah revisi yang mengg***, tangan Raka akan sesekali meraih jemariku di bawah meja, memberi remasan kecil yang menyalurkan kekuatan. Atau setidaknya, dia akan mengeluh tentang dosen pembimbingnya yang perfeksionis. Namun sekarang, setelah draf final skripsi kami resmi dijilid dan diserahkan, ruang di antara kami mendadak terasa luas dan steril.
"Sudah cek portal akademik lagi?" tanya Raka tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Suaranya datar, tipe suara yang ia gunakan saat berbicara dengan ketua tingkat atau petugas administrasi.
"Sudah. Masih status 'Diverifikasi'. Mungkin sore nanti," jawabku singkat. Aku memperhatikan kerutan tipis di dahinya. Raka selalu terlihat tampan saat sedang serius, tapi hari ini, ketampanan itu terasa seperti sebuah poster di dinding galeri; indah dilihat, namun tak bisa disentuh.
Kami sedang berada dalam fase yang kami sebut sebagai 'masa transisi'. Sejak seminggu yang lalu, tepat setelah sidang skripsi kami berdua dinyatakan lulus, Raka mengusulkan agar kami mulai mengurangi frekuensi kontak fisik dan komunikasi yang bersifat emosional. Katanya, agar nanti saat hari kelulusan tiba, transisi menjadi 'mantan' tidak akan terlalu mengejutkan sistem saraf kami.
Pragmatis. Sangat khas Raka Dewangga.
"Baguslah," gumamnya. Ia meletakkan ponselnya di meja, tapi tangannya tetap berada di sana, tidak bergerak seinci pun untuk mendekat ke arahku. "Setelah yudisium keluar, kita tinggal pesan toga. Kamu mau ambil sendiri atau kolektif sama anak-anak yang lain?"
Aku memaksakan sebuah senyum tipis. "Mungkin kolektif saja. Biar tidak repot."
"Oke. Aku juga."
Hening lagi. Aku menatap ujung sepatu ketsku yang sudah agak kusam. Biasanya, aku akan melontarkan candaan tentang betapa kaku dirinya, lalu dia akan membalas dengan dengusan geli sebelum akhirnya kami tertawa bersama. Namun hari ini, lidahku terasa kelu. Ada ganjalan di tenggorokan yang membuat setiap kata yang ingin kuucapkan tertahan begitu saja.
Aku menyadari satu hal: melepaskan seseorang ternyata jauh lebih sulit saat orang itu masih duduk tepat di hadapanmu.
"Na," panggilnya tiba-tiba.
Aku mendongak, berharap melihat sedikit kilatan hangat di matanya. "Ya?"
"Minggu depan ada acara perpisahan di kontrakan Dimas. Kamu datang?"
Aku terdiam sejenak. Dimas adalah teman dekat Raka, dan hampir semua orang di lingkaran pertemanan kami menganggap kami adalah pasangan abadi yang akan berakhir di pelaminan. Datang ke sana berarti harus berakting lagi, memakai topeng 'pasangan ideal' di depan semua orang, padahal di dalam sini, aku merasa seperti sedang memegang selembar kertas yang sudah sobek di bagian tengahnya.
"Aku tidak tahu, Raka. Mungkin aku harus mulai mengemas barang-barang di kos. Ibu sudah tanya kapan aku pulang ke Bandung."
Raka mengangguk pelan, ada jeda panjang sebelum dia merespons. "Benar. Lebih baik mulai dicicil dari sekarang. Aku juga sudah mulai mengepak buku-buku."
Rasanya aneh mendengar kami membicarakan masa depan yang tidak melibatkan satu sama lain. Setiap rencana yang kami susunβkepulangan, mencari kerja, pendaftaran yudisiumβsemuanya terdengar seperti instruksi manual untuk membongkar sebuah bangunan yang sudah kami dirikan selama empat tahun.
Raka melirik jam tangannya, lalu berdiri. "Aku harus ke perpustakaan sebentar, mau mengurus surat bebas pinjam. Kamu mau ikut atau..."
"Aku di sini saja," potongku cepat. Aku tidak sanggup berjalan bersisian dengannya di koridor kampus tanpa boleh menggandeng lengannya. Jarak sepuluh sentimeter di antara bahu kami saat berjalan akan terasa lebih menyakitkan daripada jarak antar kota.
"Baiklah. Sampai nanti, Na."
Dia berbalik dan berjalan pergi. Aku memperhatikan punggungnya yang tegap, langkah kakinya yang mantap dan teratur. Raka tidak menoleh lagi. Dia benar-benar sedang melatih dirinya sendiri untuk terbiasa tidak melihat ke arahku.
Aku menyandarkan punggung ke kursi kayu yang keras, menarik napas panjang yang terasa sesak. Di meja sebelah, sepasang mahasiswa baru sedang tertawa-tawa sambil berbagi satu piring mi instan. Mereka terlihat begitu bersemangat, begitu penuh dengan kemungkinan. Aku ingin memperingatkan mereka bahwa skripsi bukan hanya akhir dari masa studi, tapi bisa jadi akhir dari segala hal yang mereka anggap akan bertahan selamanya.
Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi surel ma**k.
*Subjek: Pengumuman Yudisium Periode IV - Fakultas Ekonomi dan Bisnis*
Tanganku gemetar saat membuka pesan itu. Mataku dengan cepat mencari namaku dan nama Raka di lampiran dokumen PDF. Ada di sana. *Aruna Paramitha - Lulus. Raka Dewangga - Lulus.*
Ini dia. Garis finis yang kami incar selama ini.
Aku seharusnya merasa lega. Aku seharusnya ingin berteriak kegirangan dan memeluk Raka karena kami berhasil melewati tekanan akademik yang hampir membuat kami g***. Namun, saat melihat nama kami bersisian di daftar itu, yang kurasakan justru ketakutan yang mencekam.
Yudisium sudah keluar. Artinya, waktu kontrak kami tinggal menghitung hari menuju seremoni wisuda.
Aku menatap layar ponselku, jemariku berhenti di atas kontak Raka. Aku ingin mengirim pesan padanya, ingin mengatakan "Kita berhasil, Ka!", tapi aku teringat pada aturan 'transisi' yang dia buat. Tidak ada perayaan berlebihan. Tidak ada luapan emosi.
Tepat saat itu, aku melihat Raka kembali. Dia tidak menuju ke arahku, melainkan berhenti di ambang pintu kantin, menatap ponselnyaβmungkin baru membaca surel yang sama. Dia menoleh ke arahku dari kejauhan. Tatapan kami bertemu sejenak. Tidak ada senyum, tidak ada lambaian tangan kemenangan. Hanya sebuah anggukan kecil yang kaku, sebelum dia benar-benar menghilang di balik pilar bangunan.
Dingin yang merayap di dadaku bukan berasal dari es kopi yang sudah habis. Melainkan dari kesadaran pahit bahwa kami sedang memenangkan gelar sarjana, tapi di saat yang sama, kami sedang kalah telak dalam mempertahankan apa yang paling berharga.
Aku meremas ponsel di tanganku, menyadari bahwa ketakutan terbesarku bukan lagi tentang revisi atau dosen penguji. Ketakutan terbesarku adalah hari saat aku harus memakai toga, bersalaman dengan Raka untuk terakhir kalinya sebagai kekasih, lalu berjalan ke arah yang berlawanan tanpa pernah punya alasan untuk berbalik lagi.
Dan yudisium ini, adalah lonceng kematian yang mulai berdenting.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!