Lonceng di atas pintu kafe berdenting, menyambut embusan angin sore yang kering. Aku memperbaiki letak kerah kemeja flanelku, memastikan tidak ada lipatan yang janggal. Di depanku, seorang perempuan bernama Sintia sedang menyesap *iced hazelnut latte*-nya dengan anggun. Dia cantik, cerdas, dan yang paling penting: dia bukan Aruna.
"Jadi, kamu lebih suka riset lapangan daripada studi literatur?" suara Sintia membuyarkan lamunanku. Ia tersenyum, menunjukkan lesung pipi yang manis.
Aku berdeham, mencoba memfokuskan pandangan pada wajahnya, bukan pada jendela besar di samping kami yang memantulkan bayanganku sendiri. "Ya, menurutku data primer jauh lebih jujur. Kita bisa merasakan denyut masalahnya langsung di lokasi."
"Wah, jarang ada mahasiswa tingkat akhir yang masih punya idealisme setinggi itu," puji Sintia.
Aku membalas senyumnya dengan kaku. Logikanya, aku harus merasa senang. Kencan ini adalah sebuah eksperimen. Sebuah simulasi untuk membuktikan bahwa setelah hari kelulusan nanti, setelah kontrak "putus" itu benar-benar dilaksanakan, aku akan baik-baik saja. Aku ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa dunia tidak akan berakhir saat Aruna tidak lagi ada di sampingku.
Namun, saat Sintia tertawa kecil karena leluconnya sendiri, pikiranku justru melayang ke tempat lain. Aruna tidak pernah tertawa seperti itu. Tawa Aruna lebih lirih, sering kali disert** dengan dengusan kecil di hidung yang menurutnya memalukan, tapi bagiku adalah bunyi paling jujur di dunia.
"Raka? Kamu melamun lagi?" Sintia melambaikan tangan di depan wajahku.
"Maaf," kataku cepat, meremas gelas kopiku yang mulai berembun. Dinginnya menjalar ke telapak tangan, tapi tak mampu mendinginkan kegelisahan di dadaku. "Hanya terpikir beberapa bab yang harus direvisi."
"Ternyata gosip itu benar ya, kamu memang sangat berdedikasi," Sintia menyandarkan punggung ke kursi, matanya menatapku penuh minat. "Tapi hidup bukan cuma soal skripsi, kan? Kadang kita butuh jeda."
Jeda. Kata itu memicu ingatan lain. Minggu lalu, Aruna pernah mengatakan hal yang persis sama saat aku memaksanya lembur di perpustakaan sampai jam tutup. Bedanya, Aruna mengatakannya sambil menyodorkan sebatang cokelat dan mengusap tengkukku yang kaku. Sentuhan yang selalu berhasil meruntuhkan pertahananku.
Sekarang, di depan Sintia, aku merasa seperti sedang mengenakan topeng yang terlalu sempit.
"Kamu mau coba *cheesecake*-nya? Katanya ini yang terbaik di Jakarta Selatan," tawar Sintia, memotong sepotong kecil kue dengan garpu peraknya.
Ia menyodorkan garpu itu ke arahku. Sebuah gestur intim yang seharusnya membuat debaran jantungku meningkat. Namun, yang kurasakan justru penolakan insting yang kuat. Aku teringat bagaimana Aruna selalu memprotes jika aku mencoba menyuapinya di tempat umum. *"Raka, jangan di sini, malu dilihat orang!"* katanya dengan pipi merona merah, meski akhirnya dia membuka mulut juga dengan malu-malu.
Sintia tidak malu. Dia percaya diri. Dia adalah definisi pasangan ideal yang mungkin diinginkan semua laki-laki pragmatis sepertiku. Tapi saat aku menatap matanya, aku tidak menemukan percikan yang sama. Aku tidak menemukan rasa 'pulang' yang selalu kurasakan saat menatap mata lelah Aruna setelah kami bergelut dengan kuesioner seharian.
"Terima kasih, tapi aku kurang suka manis," tolakku sehalus mungkin.
Kebohongan. Aku suka manis. Aruna tahu itu. Dia selalu memesankanku kopi dengan gula tambahan tanpa perlu kutanya.
Sintia menarik kembali tangannya, ada sedikit kekecewaan yang melintas di wajahnya sebelum ia kembali memasang senyum profesionalnya. "Oke, jadi... apa rencanamu setelah lulus nanti? Kudengar kamu sudah mulai melirik beberapa perusahaan konsultan besar?"
Aku mencoba menjawab, memaparkan rencana karierku yang sudah disusun rapi dalam tabel Excel di kepalaku. Aku bicara tentang target, gaji, dan jenjang karier. Sintia mendengarkan dengan antusias, sesekali menimpali dengan opininya yang berbobot. Percakapan ini sangat produktif. Sangat dewasa. Sangat... membosankan.
Tiba-tiba, ponselku di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar yang sengaja kubalikkan. Namun, aku sempat melihat sekilas nama pengirimnya: *Aruna*.
*Pesan: Raka, kamu di mana? Aku baru saja menemukan referensi buku yang kita cari di rak pojok belakang perpus. Buruan ke sini sebelum diambil orang!*
Jantungku berdegup kencang hanya dengan membaca deretan kata itu. Sebuah dorongan kuat untuk segera berdiri dan meninggalkan kafe ini muncul seketika. Aku bisa membayangkan wajah antusias Aruna, rambutnya yang mungkin sedikit berantakan karena seharian berada di ruangan ber-AC, dan aroma kertas lama yang selalu menempel di bajunya setelah dari perpustakaan.
"Ada yang penting?" tanya Sintia, melirik ponselku.
"Bukan apa-apa. Hanya urusan kampus," jawabku bohong, lagi.
Aku mencoba kembali fokus pada Sintia, tapi segalanya terasa semakin hambar. Suara musik di kafe ini, aroma kopi mahal, bahkan wajah cantik di depanku, semuanya terasa seperti gangguan. Aku menyadari satu hal yang menyakitkan: aku sedang berkencan dengan seorang perempuan hebat, namun di kepalaku, aku sedang berdebat dengan Aruna tentang metode penelitian.
Aku gagal. Eksperimen ini berantakan.
"Sintia, maaf," kataku tiba-tiba, memotong penjelasannya tentang tren pasar saham. "Sepertinya aku harus pergi sekarang. Ada urusan mendadak yang harus kuselesaikan di kampus."
Sintia tertegun, garpunya menggantung di udara. "Oh? Sekarang? Tapi kita baru satu jam di sini."
"Aku benar-benar minta maaf. Aku akan bayar semuanya," aku merogoh dompet, meletakkan beberapa lembar uang di meja tanpa menghitungnya lagi.
"Raka, kamu oke?" Sintia bertanya dengan nada bingung sekaligus tersinggung.
"Aku oke. Hanya saja... ada sesuatu yang tertinggal dan aku harus mengambilnya sekarang juga sebelum hilang," kataku, lebih kepada diriku sendiri daripada kepadanya.
Aku bergegas keluar dari kafe, membiarkan denting lonceng itu terdengar untuk terakhir kalinya. Udara sore menyambutku, dan aku menarik napas dalam-dalam. Aku tidak merasa lega karena berhasil melarikan diri, aku justru merasa takut.
Logikaku mengatakan bahwa aku harus membiasakan diri tanpa Aruna. Kontrak itu dibuat agar kami bisa berpisah dengan kepala tegak tanpa ada drama. Tapi berdiri di trotoar ini, dengan tangan gemetar memegang kunci motor, aku menyadari satu kenyataan pahit yang selama ini kusembunyikan di balik jadwal kemesraan mekanis kami.
Aku mencoba mencari pengganti untuk membuktikan bahwa aku bisa move on, tapi yang kutemukan justru kepastian bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengisi kekosongan yang akan ditinggalkan Aruna nanti.
Aku menghidupkan mesin motor, memacu kendaraan menuju kampus. Pikiranku kalut. Jika satu kencan singkat saja sudah membuatku merasa kehilangan arah seperti ini, bagaimana aku bisa bertahan saat hari kelulusan benar-benar tiba dan kontrak itu berakhir?
Saat aku sampai di depan gerbang perpustakaan, aku melihat Aruna berdiri di sana, memegang sebuah buku tebal dengan senyum kemenangan. Namun, senyum itu perlahan memudar saat dia melihat ekspresi wajahku yang kacau.
"Raka? Kamu kenapa? Katanya tadi mau ketemu dosen di luar?" tanya Aruna bingung.
Aku menatapnya lama, mencoba mencari celah di hatiku untuk mulai membencinya atau setidaknya terbiasa tanpanya. Tapi tidak ada. Yang ada hanyalah rasa sesak yang semakin mencekik.
"Na," suaraku serak. "Kita... kita harus bicara soal jadwal minggu depan."
Aruna mengerutkan kening, mendekat selangkah. "Jadwal apa? Bukannya sudah kita sepakati di kontrak?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap buku di tangannya, menyadari bahwa kontrak yang kami buat untuk menyelamatkan masa depan kami, mungkin justru menjadi bom waktu yang akan menghancurkan kami lebih parah dari sekadar patah hati biasa. Dan yang paling menakutkan adalah, aku mulai merasa bahwa aku tidak ingin bom itu pernah meledak.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!