Layar laptop di hadapanku terasa seperti sedang mengejek. Kursor yang berkedip di atas halaman putih Microsoft Word itu seolah-olah berdetak mengikuti denyut di pelipisku—monoton, menjengkelkan, dan sangat lambat. Sudah hampir satu jam kami duduk di sudut perpustakaan pusat yang paling sunyi, namun progres yang kubuat hanyalah dua paragraf pendahuluan yang menurutku sendiri terdengar seperti sampah.
Aku melirik ke samping. Aruna sedang menopang dagu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya terus-menerus mengklik *scroll wheel* pada *mouse*-nya. Bunyi *klik-klik-klik* itu mulai terdengar seperti suara tetesan air di dalam gua yang sunyi. Sangat konsisten hingga membuatku ingin meledak.
"Na," tegurku pelan, berusaha menjaga suaraku agar tidak mengganggu mahasiswa lain yang juga sedang bertaruh nyawa dengan literatur mereka. "Bisa berhenti bunyiin itu nggak? Fokusku keganggu."
Aruna tidak langsung menoleh. Dia menghela napas panjang—tipe napas yang menunjukkan bahwa dia juga sedang berada di ambang batas kesabaran. "Aku lagi nyari jurnal, Raka. Kalau nggak aku *scroll*, gimana aku bisa baca?"
"Tapi kamu nggak perlu ngeklik sekencang itu, kan?"
Aruna memutar kursinya, menatapku dengan mata yang sedikit sembap. Mungkin karena kurang tidur, atau mungkin karena dia baru saja menghapus satu sub-bab yang dianggap dosen pembimbingnya tidak relevan. "Ini suara *mouse*, Ka. Bukan suara gong. Kamu aja yang lagi sensitif karena bab satu kamu belum kelar-kelar."
Kalimat itu seperti percikan api yang jatuh di atas tumpukan jerami kering. Aku merasakan rahangku mengeras. Biasanya, di titik ini, aku akan membalas dengan komentar pedas tentang manajemen waktunya yang buruk, dan kami akan berakhir dengan perdebatan panjang yang berlangsung hingga parkiran kampus, lalu tidak bertegur sapa selama tiga hari.
Namun, tepat sebelum kata-kata tajam itu meluncur, aku teringat pada sebuah dokumen PDF yang tersimpan di folder 'Penting' di ponselku. *Kontrak Batas Waktu: Pasal 2, Ayat 1. Dilarang memicu konflik yang menguras energi mental selama jam bimbingan dan penelitian. Prioritas utama adalah stabilitas emosional demi kelancaran akademik.*
Aku memejamkan mata sejenak, menghirup aroma pengap buku-buku tua dan kopi instan yang sudah dingin. Aku harus menahan ini. Kami tidak punya waktu untuk drama.
"Maaf," kataku akhirnya, kata yang terasa asing dan berat di lidah. "Aku cuma... agak stres sama bimbingan besok. Dosen Pak Gunawan minta data primer, padahal aku belum sebar kuesioner."
Aruna tampak sedikit terkejut mendengar aku meminta maaf lebih dulu. Dia terdiam, lalu bahunya yang tegang perlahan meluruh. Dia menyandarkan punggung ke kursi kayu yang keras itu. "Pak Gunawan memang perfeksionis. Kamu butuh bantuan buat nyusun kuesionernya?"
Aku menoleh padanya, mencari sisa-sisa kemarahan di matanya, tapi yang kutemukan hanyalah kelelahan yang sama dengan yang kurasakan. "Nanti malam mungkin. Sekarang aku butuh kopi lagi."
Aku melirik jam tangan pintarku. Pukul 15.30. Dalam 'Jadwal Kemesraan' yang kami sepakati, jam ini adalah waktu untuk *Affirmation Break*. Sebuah aturan mekanis yang kami buat agar lingkungan sekitar tidak mencurigai bahwa hubungan kami sebenarnya sudah berada di ambang kehancuran.
"Ayo keluar sebentar," ajakku sambil menutup laptop.
Aruna mengerutkan kening. "Baru juga sejam, Ka."
"Aturan nomor empat, Na. Istirahat tiap dua jam atau saat tensi naik. Kita udah lewat batas."
Tanpa banyak bicara, Aruna merapikan barang-barangnya. Kami berjalan berdampingan menuju kafetaria di luar gedung perpustakaan. Jarak di antara kami hanya beberapa sentimeter, namun rasanya seperti ada jurang yang dalam. Namun, saat melewati kerumunan adik tingkat di lobi, aku secara otomatis meraih jemarinya.
Tangannya dingin. Aruna sempat tersentak kecil, sebuah reaksi insting sebelum dia membalas genggamanku dengan sama eratnya. Ini adalah akting yang sudah kami latih. Di mata orang lain, kami adalah Raka dan Aruna, pasangan tangguh yang saling mendukung di tengah badai skripsi. Tidak ada yang tahu bahwa genggaman tangan ini bukan berasal dari keinginan untuk menyentuh, melainkan kewajiban kontraktual.
Kami duduk di bangku semen di bawah pohon m***ni. Aku menyodorkan segelas Americano dingin padanya.
"Makasih," gumamnya, menyesap kopi itu perlahan. Dia menatap ke arah lapangan basket yang sedang ramai. "Kadang aku mikir, apa kita nggak keterlaluan ya, Ka? Pura-pura kayak gini cuma demi gelar sarjana?"
"Ini bukan cuma soal gelar, Na," jawabku pragmatis, mencoba menekan keraguan yang tiba-tiba muncul di dadaku. "Ini soal masa depan. Kalau kita putus sekarang, kamu bakal nangis seminggu, aku bakal nggak fokus bimbingan, dan kita berdua bakal telat lulus. Apa itu sepadan cuma gara-gara kita ngerasa 'bosan'?"
Aruna menatap gelas kopinya, memperhatikan butiran embun yang mengalir di permukaan plastik. "Bosan itu kata yang terlalu sederhana, Ka. Kita itu... kita itu hambar. Aku ngerasa kayak lagi jalan bareng robot yang kebetulan tahu jadwal makan aku."
Aku terdiam. Kalimat itu menghujam tepat di tempat yang paling sakit. Aku memang bukan tipe pria yang puitis. Bagiku, cinta adalah tentang fungsionalitas. Jika hubungan tidak lagi berfungsi untuk membuat kita lebih baik, maka hubungan itu rusak. Tapi, kontrak ini adalah cara kami memperbaiki fungsi itu—secara paksa.
"Mungkin," kataku pelan. "Tapi robot ini masih ingat kalau kamu butuh gula lebih banyak kalau lagi stres, kan?"
Aruna menoleh, sedikit senyum tipis terukir di sudut bibirnya—sesuatu yang sudah lama tidak kulihat secara tulus. "Itu ada di pasal tambahan ya?"
"Enggak, itu ada di memori luar kontrak," jawabku, sedikit kaku.
Suasana menjadi sedikit lebih ringan, namun tetap ada kecanggungan yang menggantung. Kami kembali terdiam, menikmati angin sore yang membawa aroma tanah basah. Untuk sesaat, aku lupa bahwa kami sedang bersandiwara. Rasanya hampir seperti dulu, sebelum skripsi dan tekanan dunia kerja mengubah kami menjadi dua orang asing yang terjebak dalam satu rutinitas.
Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi email ma**k. Aku membukanya dan seketika itu juga perutku terasa seperti diremas.
"Ada apa?" tanya Aruna, menyadari perubahan ekspresiku.
"Pak Gunawan," suaraku tercekat. "Dia minta bimbingan dimajuin jadi jam delapan besok pagi. Dan dia minta draf Bab Tiga udah harus ada di meja dia sebelum jam tujuh."
Aruna membelalak. "Bab Tiga? Kamu kan baru mulai Pendahuluan!"
Panic mulai merayap di dadaku. Ini bukan lagi soal drama hubungan; ini soal kegagalan yang nyata. Tanganku yang tadinya memegang tangan Aruna kini mulai gemetar tipis. Ketakutan terbesarku—menjadi tidak berguna dan tertinggal—mendadak terasa begitu dekat.
Aruna melihat reaksiku. Tanpa diduga, dia tidak menghakimi atau mengeluh tentang bagaimana hal ini akan mengganggu jadwalnya sendiri. Dia justru bergeser mendekat, merangkul lenganku, dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Kita balik ke dalem," katanya tegas. "Aku bantu kamu cari referensi buat metode penelitiannya. Kamu ngetik, aku yang sortir datanya. Kita nggak bakal tidur malam ini."
Aku menatapnya, bingung. "Tapi kontrak kita bilang jam sepuluh malam itu waktu buat istirahat masing-masing."
Aruna mendongak, matanya menatapku dengan intensitas yang sudah lama hilang. "Pers**** sama kontrak buat malam ini, Ka. Aku nggak bakal biarin kamu hancur di depan Pak Gunawan."
Genggaman tangannya di lenganku terasa berbeda kali ini. Bukan lagi mekanis, bukan lagi karena pasal-pasal tertulis. Ada sesuatu yang lain yang mulai menyusup di antara tekanan revisi dan ketakutan akan masa depan. Sesuatu yang seharusnya sudah mati, namun entah bagaimana, justru kembali berdenyut karena keadaan darurat ini.
Kami kembali ma**k ke dalam perpustakaan, siap menghadapi peperangan yang sesungguhnya. Namun, di balik tekad itu, aku menyadari satu hal yang lebih menakutkan daripada dosen pembimbingku: bagaimana jika sandiwara ini justru membuatku tidak ingin mengakhiri kontrak ini saat hari kelulusan itu tiba?
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!