Telapak tanganku terasa dingin dan lembap, kontras dengan udara koridor kampus yang mulai menghangat karena matahari pukul sepuluh pagi. Aku menatap map plastik transparan di pangkuanku. Di dalamnya, tumpukan kertas setebal empat puluh halaman itu tampak seperti tumpukan vonis mati. Seminar Proposal. Dua kata yang c**up untuk membuat perutku mulas dan kepalaku berdenyut ritmis sejak semalam.
Aku memejamkan mata, mencoba mengatur napas yang pendek-pendek. Tiba-tiba, sesuatu yang dingin menyentuh pipiku.
Aku tersentak dan membuka mata. Raka berdiri di sana, menyodorkan sebotol air mineral dingin yang permukaannya sudah berembun. Wajahnya datar seperti biasa, tapi sorot matanya tertuju padaku dengan intensitas yang sulit kujelaskan.
"Minum dulu. Kamu belum mema**kkan cairan apa pun sejak tadi pagi selain kafein," ucapnya dengan nada memerintah yang biasanya membuatku kesal, tapi kali ini terasa seperti jangkar di tengah badai.
Aku menerimanya dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Rak. Kamu nggak ada kelas?"
"Kosong. Lagipula, jadwal kemesraan kita hari ini mencakup 'pendampingan di saat kritis', kan?" Raka duduk di sampingku, membuka tas punggungnya, lalu mengeluarkan sebuah cokelat batang. Dia mematahkan ujungnya dan menyuapkannya ke arah mulutku. "Buka mulutmu. Kamu butuh glukosa supaya otakmu nggak macet di depan Pak Handoko nanti."
Aku menurut saja, membiarkan rasa manis itu meleleh di lidahku. Seharusnya ini terasa mekanis. Seharusnya ini hanyalah bagian dari butir-butir kontrak yang kami sepakati di atas kertas dua minggu lalu. Kami berjanji untuk tetap berperan sebagai pasangan yang saling mendukung demi menjaga stabilitas mental sampai sidang skripsi usai. Namun, cara Raka memperhatikan kerutan di keningku dan bagaimana dia dengan telaten merapikan anak rambut yang menempel di pipiku, terasa jauh dari sekadar sandiwara.
"Kamu sudah hafal semua argumen untuk kerangka berpikirmu?" tanyanya, suaranya rendah dan menenangkan.
"Aku takut lupa semuanya saat melihat wajah Pak Handoko yang seperti singa itu," bisikku jujur.
Raka mengambil map dari pangkuanku, membukanya pada halaman metode penelitian. "Dengar, Aruna. Aku yang menemanimu mengetik ini sampai jam tiga pagi di kafe kemarin. Aku tahu kamu paham setiap barisnya. Kalau kamu lupa, bayangkan saja Pak Handoko itu hanya sekumpulan algoritma yang butuh input data. Dan kamulah penyedia datanya."
Dia menggenggam tanganku. Jemarinya yang panjang dan hangat membungkus kepalanku yang dingin. Genggaman itu kuat, seolah dia sedang mentransfer semua ketenangan yang dia miliki kepadaku. Detak jantungku yang tadinya liar mulai melambat, menyesuaikan diri dengan ritme napas Raka yang stabil.
"Pintu terbuka," bisik Raka saat melihat asisten dosen memanggil namaku.
Aku berdiri dengan kaki yang terasa seperti jeli. Raka ikut berdiri, lalu tiba-tiba dia menarikku ke dalam pelukannya. Bukan pelukan singkat yang biasa kami lakukan saat berpamitan di depan kos. Ini pelukan yang dalam, protektif, dan penuh aroma parfum *woody* miliknya yang selalu membuatku merasa aman.
"Hancurkan mereka di dalam sana, Aruna," bisiknya tepat di telingaku. "Aku tunggu di sini. Aku nggak akan ke mana-mana."
Satu jam di dalam ruangan itu terasa seperti selamanya. Pak Handoko menguliti hipotesis-ku, sementara Bu Sarah mempertanyakan keabsahan sumber dataku. Aku dicecar, disudutkan, dan dipaksa mempertahankan ide yang telah kususun berbulan-bulan. Namun, setiap kali aku merasa ingin menyerah dan menangis, aku teringat genggaman tangan Raka di koridor tadi. Aku teringat suaranya yang mengatakan bahwa dia tidak akan ke mana-mana.
Ketika aku akhirnya melangkah keluar ruangan dengan kaki lemas dan mata berkaca-kaca karena legaβkarena mereka akhirnya memberikan lampu hijau untuk lanjut ke penelitianβorang pertama yang kulihat adalah Raka. Dia tidak sedang bermain ponsel. Dia sedang berdiri, bersandar di dinding koridor, menatap pintu ruangan itu dengan raut cemas yang jarang dia tunjukkan pada siapa pun.
Begitu matanya bertemu denganku, bahunya merosot turun, tanda dia pun ikut melepaskan ketegangan.
"Gimana?" tanyanya saat aku berjalan mendekat.
Aku hanya bisa mengangguk pelan, air mata yang tadi kutahan akhirnya tumpah juga. Raka segera menarikku ke dalam pelukannya lagi, mengabaikan beberapa mahasiswa lain yang lewat dan menatap kami dengan iri. Dia mengusap punggungku perlahan, membiarkan kemejanya basah oleh air mataku.
"Sudah kubilang, kan? Kamu hebat," katanya lembut.
Di pelukannya, di tengah hiruk-pikuk kampus, sebuah keraguan besar mulai menyusup ke dalam benakku. Raka adalah orang yang paling mengerti betapa kerasnya aku bekerja. Dia adalah orang yang tahu kapan aku butuh kopi dan kapan aku butuh diam. Dia melakukan semua ini dengan sangat baikβterlalu baik untuk seseorang yang sedang menjalankan kontrak perpisahan.
Kalau dukungan sehebat ini hanyalah bagian dari sebuah sandiwara agar kami tetap waras, lantas apa bedanya dengan cinta yang sebenarnya?
Aku melepaskan pelukan itu sedikit, menatap matanya yang berwarna cokelat gelap. Raka tidak memalingkan wajah. Dia justru mengusap air mata di pipiku dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang terlalu lembut untuk seseorang yang mengaku hanya ingin bersikap pragmatis.
"Rak..." suaraku tercekat.
"Ya?"
"Makasih. Aku nggak tahu gimana caranya melewati ini kalau nggak ada kamu."
Raka terdiam sejenak. Ekspresinya mengeras, seolah dia sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Dia menarik tangannya kembali, mema**kkannya ke dalam saku celana, dan jarak di antara kami tiba-tiba terasa sejauh bermil-mil meskipun kami berdiri berhadapan.
"Itu bagian dari kesepakatan, Aruna," katanya dengan suara yang kembali kaku, meski matanya berkata lain. "Kita saling menjaga sampai toga itu dipakai. Itu fungsinya kontrak kita, kan?"
Aku tertegun. Kata-katanya adalah pengingat yang dingin bahwa semua perhatian ini memiliki tanggal kedaluwarsa. Bahwa dukungan luar biasa ini adalah investasi agar perpisahan kami nanti tidak berantakan karena urusan akademik. Namun, semakin keras Raka mencoba mengingatkanku pada kontrak itu, semakin aku merasa ada yang salah dengan rencana kami.
"Ayo, aku traktir makan siang. Kamu butuh tenaga untuk revisi pertama," ajaknya sambil berbalik jalan terlebih dahulu.
Aku mengikuti langkahnya dari belakang, menatap punggung tegap itu. Hatiku mencelos. Perjanjian ini dibuat untuk menyelamatkan masa depan kami, tapi melihat bagaimana Raka memperlakukanku hari ini, aku mulai takut bahwa masa depan yang ingin kami selamatkan itu justru akan terasa sangat sepi tanpanya.
Saat kami sampai di parkiran, ponsel Raka bergetar. Dia melihat layarnya sebentar, keningnya berkerut tajam, lalu dia segera mematikan layarnya seolah tidak ingin aku melihat siapa yang menelepon.
"Siapa?" tanyaku spontan.
Raka tidak menjawab langsung. Dia menghidupkan mesin motornya, suaranya tenggelam dalam deru knalpot. "Bukan siapa-siapa. Cuma urusan bimbingan juga."
Dia berbohong. Aku bisa melihat kilat kecemasan yang berbeda di matanya, sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan seminar proposalku. Dan untuk pertama kalinya sejak kontrak itu ditandatangani, aku menyadari bahwa mungkin bukan hanya aku yang menyembunyikan keraguan di balik sandiwara ini.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!