Kontrak Batas Waktu: Kita Putus Setelah Skripsi

Bab 5: Bab 5 - Munculnya orang ketiga (mantan Raka) yang menco...

Pengaturan Membaca

Layar laptop di hadapanku memancarkan cahaya biru yang mulai membuat mataku perih. Kursor di dokumen Microsoft Word itu berkedip-kedip, seolah mengejek produktivitas yang mandek di bab metodologi penelitian. Aku menghela napas panjang, memijat pangkal hidungku yang berdenyut. Di sebelah kanan laptop, draf skripsiku yang penuh dengan coretan tinta merah dari dosen pembimbing tergeletak seperti tumpukan kegagalan yang belum selesai dirapikan.

Lalu ada ponselku. Di layar kunci, terpampang notifikasi dari kalender digital yang kami buat bersama: *14.00 – Sesi Belajar Bersama di Kafe Aruna.*

Aku melirik jam tangan. Masih ada tiga puluh menit sebelum jadwal "kemesraan mekanis" itu dimulai. Aku dan Aruna sudah sepakat—tiga kali seminggu kami harus terlihat sebagai pasangan ideal di depan publik demi menjaga stabilitas emosional kami sendiri. Tidak ada drama, tidak ada air mata, hanya dua orang yang bekerja menuju garis finis kelulusan.

"Raka?"

Suara itu lembut, namun c**up untuk membuat bulu kudukku berdiri. Itu bukan suara Aruna. Suara Aruna memiliki nada tegas yang biasanya terselubung lelah, sementara suara ini... suara ini membawa aroma parfum vanilla dan kenangan masa tingkat satu yang seharusnya sudah kukubur dalam-dalam.

Aku mendongak. Di hadapanku berdiri Clarissa. Rambutnya yang dulu panjang kini dipotong sebahu, namun senyumnya—sedikit miring dan penuh percaya diri—tetap sama. Dia mengenakan kemeja linen tipis dan membawa segelas *iced americano*.

"Boleh duduk?" tanyanya tanpa menunggu jawaban, menarik kursi di depanku.

Aku berdeham, buru-buru menggeser tumpukan kertas skripsiku agar tidak tersenggol. "Clarissa. Hai. Sudah lama tidak kelihatan."

"Aku baru balik dari magang di Jakarta," katanya, matanya menyapu draf di depanku. "Skripsi, ya? Masih ambisius seperti dulu, Raka Dewangga. Tidak berubah sedikit pun."

Aku hanya tersenyum tipis, tipe senyum yang aku gunakan untuk menghadapi dosen yang membosankan. Tanganku tanpa sadar meremas bolpoin. Ada sesuatu yang janggal saat melihatnya di sini, di tempat yang biasanya menjadi 'wilayah' aku dan Aruna.

"Aku dengar kabarmu," lanjut Clarissa. Ia menyesap minumannya, matanya menatapku lurus melampaui tepian gelas. "Katanya kamu dan Aruna masih... ya, masih begitu. Pasangan legendaris kampus."

Ada nada skeptis dalam suaranya yang membuatku tidak nyaman. Seolah dia tahu bahwa di balik pegangan tangan kami di kantin, ada kontrak tertulis yang mengatur kapan kami boleh melepaskan kaitan jari. Aku berdeham lagi, tenggorokanku mendadak kering.

"Ya, kami baik-baik saja," jawabku datar. Pragmatis. Singkat. Itu cara terbaik untuk menghindari komplikasi.

Clarissa tertawa kecil, suara yang dulu kupikir musik, tapi sekarang terdengar seperti gangguan frekuensi radio. "Kamu selalu buruk dalam berbohong, Raka. Bahumu kaku. Kamu tidak menatap mataku saat mengatakannya. Aruna pasti benar-benar membuatmu bekerja keras untuk mempertahankan citra itu."

"Aku tidak tahu apa maksudmu," ujarku, mencoba memfokuskan kembali perhatian pada layar laptop.

Clarissa condong ke depan, melintasi meja kecil yang memisahkan kami. Jarak ini terlalu dekat. Aku bisa mencium wangi vanillanya dengan lebih jelas sekarang. "Raka, aku tahu kontrak-kontrak tidak tertulis yang sering kamu buat dengan dirimu sendiri. Kamu takut gagal, kan? Kamu takut kalau kalian putus sekarang, duniamu runtuh sebelum wisuda."

Aku terpaku. Ketepatannya menghujam jantungku.

"Tapi kamu tahu, kan?" Clarissa merendahkan suaranya, jemarinya yang lentik menyentuh pinggiran laptopku, hampir mengenai jemariku. "Setelah wisuda, semuanya berakhir. Kamu akan bebas. Dan aku... aku juga akan ada di sini. Aku punya info lowongan di perusahaan multinasional tempatku magang kemarin. Mereka butuh orang dengan kualifikasi sepertimu."

Pikiranku berputar. Secara teknis, dalam hitungan bulan, aku akan menjadi pria lajang. Hubunganku dengan Aruna hanyalah sebuah sandiwara dengan tanggal kedaluwarsa yang sudah ditentukan. Jika aku memikirkan masa depanku—seperti yang selalu kulakukan—menjalin hubungan baik dengan Clarissa sekarang adalah langkah yang logis. Dia adalah koneksi. Dia adalah pelarian yang mudah.

Namun, bayangan Aruna yang sedang berjuang dengan revisinya, Aruna yang semalam tertidur di bahuku saat kami pura-pura menonton film, mendadak melintas.

"Raka?" Clarissa memanggil lagi, suaranya lebih mendayu. "Mungkin kita bisa minum kopi yang lebih... serius, kapan-kapan? Tanpa skripsi di atas meja."

Aku menatap jemari Clarissa yang kini berani menyentuh punggung tanganku. Kulitnya dingin. Berbeda dengan tangan Aruna yang selalu terasa hangat, bahkan saat dia sedang marah sekalipun.

Tepat saat itu, lonceng di pintu kafe berdenting. Aku menoleh secara refleks. Aruna berdiri di sana, mengenakan *sweater* rajut kebesarannya dengan lingkaran hitam di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan oleh *concealer* manapun. Dia memegang dua cup kopi tambahan—mungkin untuk sesi lembur kami sore ini.

Langkah Aruna terhenti saat matanya menangkap pemandangan di depanku. Clarissa yang condong ke arahku, tangannya yang berada di atas tanganku, dan posisiku yang seolah terjebak.

Aruna tidak marah. Dia tidak berteriak. Dia hanya berdiri mematung, ekspresinya kosong, namun aku bisa melihat binar terluka di matanya sebelum dia dengan cepat mengubahnya menjadi topeng ketenangan yang biasa kami gunakan.

Aku segera menarik tanganku dari jangkauan Clarissa, tapi kerusakannya sudah terjadi. Kontrak kami sangat jelas: dilarang melibatkan orang ketiga sampai hari kelulusan demi menjaga fokus. Dan di sana, di ambang pintu, Aruna menatapku seolah aku baru saja merobek satu pasal penting dalam perjanjian kami.

"Oh," suara Aruna terdengar datar dari kejauhan, "Sepertinya aku datang terlalu awal untuk jadwal kita, Ka?"

Aku berdiri dengan kaku, merasa seperti terdakwa yang tertangkap basah di ruang sidang, padahal aku bahkan belum memulai pembelaanku. Dilema itu menghantamku telak: haruskah aku bersikap sebagai kekasih yang setia demi kontrak, atau membiarkan celah ini terbuka karena memang itulah akhir yang kami rencanakan?

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca