Udara pesisir Muara Gembong terasa seperti uap panas yang menempel di kulit, membawa aroma garam, solar, dan amis ikan yang pekat. Aku mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan, sementara tangan kiriku mencengkeram tripod kamera dengan erat. Di depanku, Aruna sedang berjongkok di atas dermaga kayu yang sudah mulai lapuk, sibuk mencatat penuturan seorang nelayan tua untuk data sosiologi skripsinya.
Aku melirik jam tangan. Pukul 14.30. Sesuai jadwal yang kami sepakati dalam 'Kontrak Batas Waktu', hari ini adalah jatahku untuk mendampingi riset lapangannya secara penuh. Tidak ada keluhan, tidak ada bantahan. Itu adalah poin efisiensi yang kutulis sendiri di pasal tiga: *Dukungan Akademik Mutlak*.
Namun, melihat Aruna sekarangβdengan rambut yang diikat asal-asalan, beberapa helai anak rambut yang basah menempel di lehernya, dan binar antusias di matanya setiap kali informan itu berceritaβmembuat dadaku terasa sedikit sesak. Itu bukan sesak karena panas matahari, melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Sesuatu yang seharusnya sudah kami matikan sejak penandatanganan perjanjian itu.
"Terima kasih banyak, Pak Haji. Data ini sangat membantu untuk bab tiga saya," suara Aruna terdengar renyah, kontras dengan deru mesin kapal di kejauhan.
Dia berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang celana jinnya yang terkena debu, lalu menoleh ke arahku. Senyumnya melebarβsenyum tulus yang sudah jarang kulihat selama enam bulan terakhir, sebelum kontrak ini ada.
"Raka, kamu dapat fotonya kan? Pas Pak Haji nunjukin jaring tadi?" tanyanya sambil menghampiriku.
"Dapat. Sudut pandangnya bagus, pencahayaannya pas," jawabku datar, berusaha menjaga nada bicaraku seprofesional mungkin. Aku menyodorkan botol air mineral yang sudah tidak dingin lagi padanya.
Aruna menerimanya, meminumnya dengan rakus hingga jakunnya naik-turun. Beberapa tetes air lolos dari sudut bibirnya, mengalir jatuh ke kerah kausnya. Aku tertegun sejenak, mengikuti arah tetesan itu sebelum dengan cepat membuang muka ke arah cakrawala. Sial.
"Ingat tempat ini?" tanya Aruna tiba-tiba, suaranya melunak.
Aku terdiam. Tentu saja aku ingat. Tiga tahun lalu, saat kami masih mahasiswa baru yang penuh gairah dan kenaifan, kami pernah ke pant** yang tak jauh dari sini. Saat itu bukan untuk skripsi, tapi untuk merayakan hari jadi kami yang pertama. Kami menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berdebat tentang nama-nama rasi bintang sambil berbagi satu bungkus keripik pedas.
"Itu sudah lama, Na. Fokus ke data saja," kataku, mencoba membangun kembali benteng pertahanan yang mulai retak.
"Aku cuma tanya, Raka. Kenapa kamu selalu bersikap seolah mengenang sesuatu adalah pelanggaran hukum?" Aruna melangkah mendekat, ma**k ke dalam ruang pribadiku. Aroma parfum vanilanya yang bercampur dengan aroma laut menerpa indra penciumanku.
Aku mundur selangkah, menaruh tripod di pundak. "Karena mengenang tidak akan menyelesaikan revisi bab empatmu. Kita di sini untuk kerja."
Aruna menghela napas panjang, tampak kecewa namun tidak terkejut. Kami mulai berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju penginapan kecil tempat kami memarkir motor. Matahari mulai turun, menciptakan semburat jingga yang memantul di permukaan air payau. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya ada suara langkah kaki kami dan kepakan sayap burung bangau.
Tiba-tiba, Aruna tersandung bongkahan batu yang menonjol.
"Eh!"
Secara refleks, aku melepaskan tripod dan menangkap pinggangnya. Tubuh Aruna menab**k dadaku dengan keras. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, atau mungkin itu detak jantungku sendiri yang berdentum di balik tulang rusuk. Tangan kananku melingkar di punggungnya, sementara tangan kiriku menahan lengannya.
Kami membeku.
Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku. Aku bisa melihat bintik-bintik matahari di hidungnya dan pupil matanya yang melebar. Hembusan napasnya yang hangat terasa di bibirku. Di momen itu, segala logika pragmatis yang kubanggakan menguap begitu saja. Aku teringat bagaimana rasanya menciumnya tanpa ada beban kontrak di pundak kami. Aku merindukan rasa itu. Sangat merindukannya.
Ibu jari tanganku tanpa sadar bergerak pelan di pinggangnya, merasakan kelembutan kulitnya di balik kaus tipis yang ia kenakan. Aruna tidak menjauh. Sebaliknya, dia justru mencengkeram kemejaku, menarikku sedikit lebih dekat. Matanya bertanya, menantang, sekaligus memohon.
Ketegangan di antara kami memuncak hingga ke titik jenuh. Ini adalah pelanggaran. Ini di luar 'jadwal kemesraan' yang sudah diatur di kalender digital kami. Seharusnya aku melepaskannya sekarang, meminta maaf, dan melanjutkan perjalanan seolah tidak ada yang terjadi.
Namun, tubuhku menolak perintah otakku.
Wajahku mulai merunduk, perlahan, seolah ditarik oleh magnet yang tak terlihat. Aruna memejamkan mata, kepalanya sedikit mendongak. Di sela-sela suara ombak, aku bisa mendengar bisikan kecil dari hatiku yang paling dalam, bagian yang selama ini kusembunyikan di bawah tumpukan diktat kuliah: *Pers**** dengan kontrak itu.*
Tepat saat bibir kami hampir bersentuhan, ponsel di saku celanaku bergetar hebat. Bunyi notifikasi WhatsApp yang bertubi-tubi memecah keheningan yang rapuh itu.
Aku tersentak dan melepaskan peganganku dengan kasar. Aruna hampir limbung jika dia tidak segera menyeimbangkan diri. Aku merogoh ponselku dengan tangan yang sedikit gemetar.
Ada pesan dari grup bimbingan skripsi. Dosen pembimbingku baru saja mengunggah jadwal sidang semu untuk minggu depan, dan namaku berada di urutan pertama.
"Raka?" suara Aruna terdengar serak, ada nada terluka yang berusaha ia tutupi.
Aku menatap layar ponsel, lalu menatap Aruna yang kini berdiri dua langkah dariku dengan rambut berantakan dan bibir yang masih sedikit terbuka. Kenyataan menghantamku seperti godam besi. Sidang sudah di depan mata. Kelulusan tinggal menghitung hari. Dan itu berarti, akhir dari hubungan sandiwara ini juga sudah sangat dekat.
"Kita harus balik ke Jakarta sekarang," kataku, suaraku kembali kaku dan dingin, meski tanganku masih bergetar saat memungut tripod dari tanah. "Dosen pembimbingku minta draf bab lima malam ini. Kita nggak punya waktu lagi untuk main-main seperti tadi."
Aku berjalan mendahuluinya tanpa menoleh lagi, mengabaikan rasa sakit yang berdenyut di dadaku karena aku tahu, jika aku melihat ke belakang sekali saja, aku mungkin akan menghancurkan kontrak yang kubuat sendiri dan memohon padanya untuk tidak pernah pergi. Namun, di antara tumpukan ambisi dan ketakutan akan kegagalan, aku memilih untuk tetap menjadi Raka yang pragmatisβmeskipun itu berarti aku harus mencekik perasaanku sendiri sampai mati.
Aku tidak menyadari, bahwa di belakangku, Aruna tidak bergerak sedikit pun. Dia hanya berdiri menatap punggungku dengan genggaman tangan yang mengepal kuat, seolah dia baru saja memutuskan sesuatu yang akan mengubah segalanya di perjalanan pulang nanti.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!