Keringat mulai mengalir di balik lapisan kerudung parisku, menciptakan sensasi lembap yang membuat tengkuk terasa gatal. Matahari pukul dua siang ini seolah sedang melakukan demonstrasi kekuatan tepat di atas kepalaku. Dengan tangan kanan yang menyeret koper besar dan tangan kiri memegang tas jinjing berisi tumpukan buku, aku merasa seperti kuli panggul dadakan.
"Kamar dua-nol-dua... dua-nol-dua..." gumamku, menyusuri koridor lant** dua kos putri ini.
Lant** marmer putih di bawah kakiku terasa dingin, kontras dengan udara pengap yang kuhirup. Begitu menemukan pintu kayu berwarna cokelat gelap dengan pelat kuningan angka 202, aku hampir ingin bersorak. Dengan sisa tenaga yang ada, aku memutar kunci yang tadi diberikan oleh Ibu Kos di lant** bawah.
*Cklek.*
Pintu terbuka, menyemburkan aroma pembersih lant** rasa lemon yang menyegarkan. Aku segera ma**k, menendang pintu hingga tertutup dengan tumit, dan menjatuhkan koper begitu saja. "Surga!" teriakku tertahan.
Hal pertama yang kulakukan bukanlah merapikan barang, melainkan membebaskan diri. Tanganku bergerak cepat melepas jarum pentul di bawah dagu, lalu menyampirkan kerudung yang sudah basah oleh keringat itu ke sembarang tempatβsepertinya mendarat di atas tumpukan bantal di ka**r sebelah kanan. Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan kulit kepalaku bernapas.
Tapi itu belum c**up. Puncak dari segala penderitaan menjadi wanita di siang hari yang terik adalah benda elastis yang melingkar erat di dada. Aku segera membuka kancing kardigan luarku, menyisakan kaus dalaman tipis tanpa lengan. Tanganku merogoh ke balik punggung, mencari pengait logam yang sejak tadi terasa seperti mencekik rusukku.
*Klik.*
"Aaah... g***, ini baru namanya hidup," desahku panjang. Aku menarik benda itu keluar lewat lubang lengan kausku dan melemparkannya ke atas meja belajar yang masih kosong. Tanpa beban, aku merebahkan diri di atas ka**r yang terasa empuk, merentangkan tangan dan kaki lebar-lebar. Rasanya seolah paru-paruku baru saja membesar dua kali lipat. Di kamar ini, di balik pintu yang terkunci ini, aku bukan Salsabila si mahasiswi teladan yang anggun. Aku hanyalah Salsa yang mencint** kebebasan tanpa tekanan kawat dan busa.
Aku memejamkan mata sejenak, menikmati semilir angin dari jendela yang sedikit terbuka. Namun, rasa kantukku mendadak buyar saat mataku menangkap sesuatu yang janggal.
Aku menoleh ke sisi kiri kamar. Di sana, sebuah ka**r sudah tertata sangat rapiβbegitu rapi hingga tidak ada satu pun kerutan di sprainya. Di atas meja belajar di sisi itu, buku-buku tebal berjajar berdasarkan tinggi dan warna punggung buku. Ada sebuah stetoskop yang tergantung manis di rak kecil, dan sebuah papan tulis mini berisi jadwal yang ditulis dengan kaligrafi yang sangat presisi.
"Lho? Katanya kamar ini kosong separuh?" bisikku pada diri sendiri. Jantungku mulai berdegup tidak keruan.
Aku kembali melihat barang-barangku yang berserakan. Kerudungku yang kumal ada di atas bantalnya, dan b**-kuβYa Tuhanβtergeletak malang tepat di atas tumpukan buku catatan medis yang tampak sangat suci di meja sebelah.
Baru saja aku hendak melompat untuk membereskan kekacauan itu, suara kunci diputar dari luar men****ntikan seluruh gerakanku.
Dunia seakan melambat. Pintu terbuka dengan perlahan, menampakkan seorang gadis dengan kacamata berbingkai tipis, mengenakan kemeja putih yang disetrika sangat licin hingga tidak ada satu pun lipatan yang salah. Ia membawa tas selempang kulit berwarna cokelat dan sebuah map plastik di pelukannya.
Ia mematung di ambang pintu. Matanya yang tajam di balik lensa kacamata itu bergerak perlahan, mulai dari kakiku yang tidak memakai kaus kaki, naik ke arah kepalaku yang berantakan, lalu turun ke arah dadaku yang kini terlihat... yah, sangat "bebas" di balik kaus tipis.
Dan terakhir, pandangannya terpaku pada benda berwarna krem yang teronggok di atas buku catatannya.
"Siapa kamu?" suaranya dingin, jernih, dan menusuk. Ia melangkah ma**k, menutup pintu dengan bunyi *klik* yang sangat sopan namun terasa mengancam.
Aku tergagap, mencoba menutupi dadaku dengan tangan yang gemetar. "E-eh, aku... aku Salsabila. Penghuni baru di kamar ini. Kamu... Arini, ya?"
Gadis itu tidak menjawab sapaanku. Ia berjalan mendekati meja belajarnya, mengambil penggaris panjang dari tempat pensil, lalu menggunakan ujung penggaris itu untuk mengangkat b**-ku seolah-olah benda itu adalah limbah medis yang beracun.
"Pertama," ucapnya sambil menatapku dengan tatapan menghakimi yang membuatku ingin menghilang ke dalam lubang semut. "Ini adalah ruang bersama, bukan kamar mandi pribadi. Kedua, saya tidak menoleransi pakaian dalam yang diletakkan di atas buku Anatomi saya. Dan ketiga..." ia menunjuk ke arah tumpukan koper dan kerudungku yang berserakan, "kamu punya waktu lima menit untuk melenyapkan semua kekacauan ini, atau saya akan menganggapnya sebagai sampah dan membuangnya ke koridor."
Aku melongo. Kebebasan yang baru kunikmati selama sepuluh menit tadi hancur berkeping-keping. Aku menelan ludah, menatap Arini yang kini mulai mengeluarkan sebotol *hand sanitizer* dan menyemprot permukaan mejanya dengan kalap.
"Tapi... ini kan juga kamarku?" protesku lemah.
Arini berhenti menyemprot, lalu menoleh padaku dengan senyum yang sama sekali tidak terlihat ramah. "Mulai hari ini, kamar ini adalah laboratorium kedisiplinan. Jika kamu tidak bisa mengikuti standar kerapian saya, silakan cari kamar lain sebelum matahari terbenam. Paham?"
Aku terdiam, menyadari bahwa kehidupan kos yang kubayangkan akan penuh sant** dan kenyamanan, justru baru saja berubah menjadi medan perang melawan seorang perfeksionis yang baru saja mengangkat pakaian dalamku dengan penggaris besi.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!