Suara detak jam dinding di Kamar 202 biasanya tenggelam oleh suara ketikan cepat dari laptop Arini atau gumaman hafalan istilah anatomi yang keluar dari bibirnya. Namun malam ini, keheningan yang ada terasa berat dan tidak wajar. Salsabila meregangkan tubuhnya di atas ka**r, menikmati sensasi bebas tanpa kawat b** yang biasanya melilit dada seharian. Ia hanya mengenakan kaus oblong abu-abu yang sudah menipis dan celana kain longgar. Rambutnya diikat asal-asalan, sebuah kemewahan privasi yang selalu ia syukuri setiap kali pintu kamar terkunci rapat.
Biasanya, pada jam sebelas malam seperti ini, Arini akan berbalik dan menegurnya karena meletakkan bungkus keripik sembarangan. Tapi malam ini, punggung tegak yang biasanya kaku seperti penggaris itu tampak melengkung layaknya busur yang hampir patah.
"Rin? Tumben belum ganti baju tidur?" tanya Salsa, suaranya memecah kesunyian.
Arini tidak menjawab. Tangannya yang memegang bolpoin tampak gemetar di atas buku *Grayβs Anatomy* yang tebalnya sudah seperti bantal. Salsa mengernyit. Ia bangkit dari tempat tidur, mengabaikan fakta bahwa ia sedang dalam mode "tanpa pelindung" yang biasanya membuatnya agak mawas diri jika Arini menatapnya terlalu tajam.
Salsa mendekat. Saat ia berada c**up dekat, ia bisa mendengar napas Arini yang pendek dan berat. Wajah mahasiswi kedokteran yang biasanya selalu tampak rapi dan "tersetrika" itu kini pucat pasi, dengan rona merah yang tidak sehat di area tulang pipi.
"Rin, lo sakit?" Salsa mengulurkan tangan, hendak menyentuh dahi Arini.
"Jangan," potong Arini cepat, meski suaranya terdengar serak dan lemah. Ia menjauhkan kepalanya, mencoba kembali fokus pada barisan teks di depannya. "Gue cuma... kurang tidur. Besok ada ujian sistem saraf. Gue nggak boleh tertinggal."
"Kurang tidur nggak bikin muka lo kayak kertas kalkir begini, Rin," sahut Salsa, kali ini lebih tegas. Ia tidak peduli pada penolakan itu dan nekat menempelkan punggung tangannya ke dahi Arini. "Astaga! Lo panas banget! Ini sih bukan kurang tidur, ini namanya bunuh diri pelan-pelan."
Arini menepis tangan Salsa dengan sisa tenaga yang ia miliki. Matanya yang sayu mencoba menatap Salsa dengan ketajaman yang biasanya, namun gagal total. "Salsa, tolong. Gue punya jadwal. Gue harus selesai baca bab ini sebelum jam dua pagi. Jangan ganggu."
Salsa mengembuskan napas panjang, berkacak pinggang. "Jadwal lo nggak akan berguna kalau besok lo pingsan di ruang ujian. Lo lihat tangan lo, Rin? Gemetar begitu mau pegang stetoskop?"
"Gue bisa handle ini sendiri," gumam Arini keras kepala. Ia mencoba berdiri, mungkin berniat mengambil air minum, namun baru saja ia menumpu berat badan pada kedua kakinya, keseimbangannya goyah. Dunia seolah berputar bagi Arini, dan jika Salsa tidak sigap menangkap lengannya, wajah mahasiswi teladan itu pasti sudah mencium lant** keramik yang dingin.
Salsa merasakan panas tubuh Arini menembus kaus tipisnya. "Oke, c**up keras kepalanya. Sekarang, lo tidur. Nggak ada tapi-tapi."
"Tapi catatanku..."
"Catatan lo nggak akan lari!" Salsa memapah Arini menuju tempat tidur. Tubuh Arini yang biasanya kaku dan penuh kendali kini terasa lemas, menyerah pada gravitasi. Setelah berhasil membaringkan temannya, Salsa segera bergerak impulsif. Ia mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air hangat di kamar mandi, lalu kembali ke samping tempat tidur Arini.
Arini mencoba memprotes saat Salsa mulai menyeka keringat dingin di leher dan dahinya, namun tenaganya sudah habis. Ia hanya bisa memejamkan mata, membiarkan Salsa mengambil alih.
"Kenapa sih lo selalu maksain diri?" tanya Salsa pelan sambil memeras handuk. "Gue tahu lo mau jadi dokter hebat, tapi dokter juga manusia, kan? Bukan robot yang tinggal dicolok listrik."
Bibir Arini bergetar. "Lo nggak paham, Sal. Gue nggak punya kemewahan buat sant** kayak lo. Orang tua gue... harapan mereka besar. Kalau gue gagal sekali saja, rasanya seluruh dunia bakal runtuh."
Salsa terdiam. Ia melihat sisi lain dari si "Nona Sempurna" yang selama ini selalu mengaturnya tentang kerapian jilbab atau letak sepatu. Di balik sifat cerewet dan kaku itu, ternyata ada ketakutan besar yang menghimpit. Salsa merasa sedikit bersalah karena selama ini sering menganggap Arini hanya sekadar menyebalkan.
"Dunia nggak akan runtuh cuma karena lo istirahat satu malam, Rin," kata Salsa lembut. Ia bangkit, membuatkan segelas teh hangat dengan madu yang ia simpan di dalam loker makanannya. "Nih, minum dulu sedikit. Biar perut lo enak."
Arini meminumnya perlahan, dibantu oleh Salsa yang menyangga punggungnya. Setelah beberapa teguk, napas Arini mulai agak teratur, meski panas tubuhnya belum sepenuhnya turun.
"Makasih," bisik Arini sangat pelan, hampir tak terdengar. Ia menatap Salsa, lalu matanya turun ke arah kaus longgar yang dikenakan teman sekamarnya itu. Dalam kondisi normal, Arini pasti sudah berkomentar tentang bagaimana "tidak pantasnya" penampilan Salsa tanpa penyangga dada meski di dalam kamar. Namun kali ini, ia hanya tersenyum tipis dan getir. "Lo... beneran nggak pake 'itu' lagi ya?"
Salsa tertawa kecil, sedikit tersipu tapi tidak berniat menutupi diri. "Kenyamanan itu nomor satu, Rin. Sama kayak lo yang butuh istirahat sekarang. Tidurlah. Gue bakal bangunin lo jam lima pagi buat belajar lagi kalau lo emang maksa. Tapi sekarang, tutup mata lo."
Arini akhirnya menyerah. Matanya terpejam, dan tak butuh waktu lama sampai napasnya terdengar dalam dan teratur. Salsa memperhatiakn wajah temannya itu, merasa sedikit lega. Ia merapikan selimut Arini, lalu kembali ke mejanya sendiri.
Salsa baru saja akan mematikan lampu utama dan menyalakan lampu meja yang lebih redup ketika ia melihat ponsel Arini di atas meja belajar bergetar. Sebuah pesan ma**k di layar yang menyala.
Salsa ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya menang saat ia melihat nama pengirimnya: *Ibu*.
*βArini, bagaimana belajarnya? Jangan lupa, nilai anatomi harus A seperti kakakmu dulu. Ibu sudah bilang pada tetangga kalau kamu calon dokter terbaik di keluarga kita. Jangan mengecewakan, ya.β*
Salsa tertegun membaca pesan itu. Tangannya mengepal. Pantas saja Arini seperti dikejar s**** setiap hari. Namun, getaran ponsel itu tidak berhenti di situ. Sebuah pangg***n ma**k dari nomor yang sama mulai memecah keheningan malam, dan kali ini, suaranya c**up keras untuk membuat Arini yang baru saja terlelap mulai mengerang gelisah dalam tidurnya.
Salsa melirik Arini, lalu melirik ponsel yang terus berisik itu. Jika ia mengangkatnya, ia melanggar privasi Arini yang sangat ketat. Tapi jika ia membiarkannya, Arini pasti terbangun dan kembali terjebak dalam siklus stres yang membahayakan kesehatannya.
Pintu kamar tiba-tiba diketuk dari luar dengan keras. "Arini? Salsa? Kalian belum tidur? Kok berisik banget suara HP-nya?" Itu suara Bu Kost, yang terkenal sangat disiplin soal jam malam dan ketenangan.
Salsa menahan napas. Arini mulai membuka matanya, tampak linglung dan kesakitan. Situasi mendadak menjadi kacau. Tenang yang ia usahakan tadi menguap begitu saja. Ada rahasia yang harus dijaga, ada kesehatan yang harus diprioritaskan, dan sekarang, ada otoritas yang mengetuk pintu di saat Salsa sedang dalam kondisi paling tidak siap untuk terlihat oleh orang luar.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!