Cahaya lampu meja belajarku terasa menusuk mata, tapi aku tidak berani memadamkannya. Di hadapanku, buku tebal *Gray’s Anatomy* terbuka lebar, menampilkan skema saraf yang tampak seperti benang kusut—sama seperti pikiranku saat ini. Aku memijat pangkal hidungku yang berdenyut. Sudah jam sebelas malam, dan aku masih terjebak di bab yang sama selama dua jam terakhir.
"Arin? Kamu belum tidur?"
Suara itu pelan, nyaris berbisik. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu itu Salsabila. Aku mendengar derit tempat tidurnya dan bunyi kain yang bergeser. Biasanya, aku akan langsung menegurnya karena masih terjaga atau mengingatkannya untuk merapikan tumpukan kaus kaki di sudut ruangan, tapi malam ini energi itu menguap entah ke mana.
"Belum," jawabku singkat, suaraku serak.
Salsa mendekat. Aku bisa merasakan kehadirannya di samping mejaku. Dia mengenakan kaus oblong kedodoran yang sudah tipis—pakaian "dinas" malamnya yang selalu membuatku mengernyit karena dia tampak begitu... longgar. Tanpa beban. Tanpa struktur. Sangat kontras dengan diriku yang bahkan saat tidur pun masih mengenakan piyama kancing rapi yang disetrika licin.
"Wajahmu pucat banget, Rin. Kamu sudah makan malam?"
Aku menghela napas, menatap barisan teks yang mulai menari-nari di pandanganku. "Tadi sore cuma roti. Aku harus menyelesaikan ini, Sal. Kuis besok menentukan nilai praktikumku."
Salsa tidak menjawab. Dia menghilang ke arah dapur kecil di sudut kamar kami. Aku mendengar bunyi denting sendok dan gemericik air. Beberapa menit kemudian, sebuah mug keramik hangat diletakkan di samping tumpukan catatanku. Aroma jahe dan madu yang menenangkan menyeruak, menembus bau kertas tua yang menyesakkan.
"Minum dulu. Ini resep rahasia Ibuku kalau aku lagi stres gara-gara tugas desain," kata Salsa. Dia menarik kursi plastik dari bawah tempat tidurnya dan duduk di dekatku.
Aku menatap mug itu, lalu menatapnya. "Terima kasih."
Salsa memperhatikanku dengan tatapan yang tidak biasa. Tidak ada ejekan, tidak ada bantahan cerewet yang biasanya kami pertukarkan. "Kamu terlalu keras sama dirimu sendiri, Rin. Satu kuis nggak akan bikin dunia kiamat, kan?"
Kalimat itu memicu sesuatu di dadaku. Sebuah tawa hambar keluar dari mulutku. "Bagi orang lain, mungkin nggak. Tapi buat keluargaku? Satu nilai B itu noda."
Aku menyesap teh jahe itu. Hangatnya menjalar ke kerongkongan, sedikit mengendurkan ketegangan di bahuku. Entah karena kelelahan atau karena suasana malam yang sunyi, pertahananku mulai runtuh. Aku mulai bercerita, sesuatu yang jarang kulakukan pada siapa pun, apalagi pada teman sekamar yang sering kusebut "berantakan" ini.
"Ayahku dokter spesialis bedah saraf. Ibuku dokter anak. Kakak sulungku sekarang sedang residensi di Surabaya," aku bercerita sambil menatap pantulan diriku di permukaan teh. "Sejak aku kecil, meja makan kami bukan tempat buat cerita soal kartun atau hobi. Kami bicara soal jurnal medis, soal pasien, soal keberhasilan. Di rumahku, menjadi 'biasa saja' adalah sebuah kegagalan yang memalukan."
Salsa terdiam. Dia melipat kakinya ke atas kursi, memeluk lututnya. Tanpa riasan dan dengan rambut yang dikuncir asal-asalan, dia tampak begitu tenang.
"Jadi itu alasan kamu selalu harus terlihat sempurna? Dari cara berpakaian sampai jadwal belajar?" tanya Salsa lembut.
"Aku merasa kalau aku sedikit saja sant**, semuanya akan hancur," aku mengakui, suaraku sedikit bergetar. "Aku benci melihat kamarmu yang berantakan karena itu mengingatkanku pada hal yang nggak bisa kumiliki: kebebasan untuk tidak peduli. Aku harus rapi, aku harus disiplin, karena kalau tidak, aku nggak tahu siapa diriku di mata orang tuaku."
Salsa menghela napas panjang. Dia mengulurkan tangan, ragu sejenak, lalu menepuk bahuku pelan. "Rin, kamu itu manusia, bukan robot laboratorium. Orang tuamu mungkin hebat, tapi mereka nggak tinggal di kamar ini. Yang tinggal di sini itu kamu. Dan aku."
Dia bangkit, berjalan ke arah tempat tidurku, dan dengan lancang menutup buku anatomi besarku.
"Hei! Apa yang kamu—"
"Tidur, Arini. Tubuhmu sudah protes," potongnya tegas, tapi dengan nada yang hangat. "Kalau kamu pingsan besok pagi, nilai A-mu nggak akan ada gunanya. Biar aku yang beresin meja ini. Kamu cuci muka, ganti baju yang lebih nyaman—serius, piyama itu kelihatan mencekikmu—dan tidur."
Aku terpaku melihatnya mulai merapikan alat tulisku yang berserakan dengan gerakan yang, meskipun tidak sepresisi caraku, dilakukan dengan penuh perhatian. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa terganggu dengan caranya menyentuh barang-argangku. Ada rasa lega yang aneh saat melihat beban itu diambil alih, meski hanya untuk urusan merapikan meja.
"Kenapa kamu baik banget sama aku, Sal? Padahal aku sering banget ngomelin kamu," tanyaku sambil berdiri dengan kaki yang terasa berat.
Salsa menyeringai, senyum lebarnya yang khas kembali muncul. "Ya habisnya, kalau kamu jatuh sakit, siapa yang bakal ngingetin aku buat cuci piring? Aku butuh 'alarm' cerewetku tetap berfungsi."
Aku tersenyum tipis, benar-benar tersenyum untuk pertama kalinya hari ini. Aku berjalan menuju kamar mandi, merasa sedikit lebih ringan. Salsabila mungkin memang berantakan dalam banyak hal, tapi malam ini, dia adalah satu-satunya hal yang membuat duniaku terasa ma**k akal.
Namun, saat aku baru saja hendak mematikan lampu setelah berganti pakaian, sebuah ketukan keras terdengar di pintu kamar kami. Ketukan itu tidak sabar, diikuti oleh suara berat seorang pria yang sangat kukenal dari balik pintu.
"Arini? Ayah tahu kamu belum tidur. Buka pintunya, ada hal penting yang harus kita bicarakan soal pemilihan peminatanmu."
Jantungku mencelos. Aku menoleh ke arah Salsa yang juga tampak terkejut. Kedamaian singkat kami hancur seketika. Ayahku ada di sini, di asrama, pada jam sebelas malam, dan dia tidak pernah datang tanpa membawa tuntutan baru.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!