Aroma mi instan kuah soto menyeruak memenuhi lorong lant** dua, memicu perutku untuk bergejolak protes. Aku melirik jam di pergelangan tangan—pukul delapan malam. Setelah berkutat dengan tugas desain grafis yang menguras kewarasan, perutku butuh a**pan. Aku melepas kerudung instan yang sejak tadi melingkar lemas di leherku, membiarkan rambutku yang berantakan tergerai bebas.
Seperti biasa, begitu ma**k ke area "aman" di dalam kos, aku menanggalkan segala beban. Aku hanya mengenakan daster kaos berwarna abu-abu yang sudah menipis karena terlalu sering dicuci. Tanpa pelapis tambahan di balik daster itu, aku merasa bisa bernapas lega. Sensasi dingin lant** semen yang kupijak terasa sinkron dengan kelegaan yang kurasakan setiap kali aku tidak perlu menjaga citra sebagai "Salsabila yang santun" seperti di kampus.
Namun, langkahku terhenti tepat di ambang pintu dapur bersama. Suara tawa yang melengking pelan dan denting sendok yang beradu dengan piring pecah belah membuat bulu kudukku sedikit meremang. Ada Tiara, Ranti, dan beberapa penghuni kamar pojok yang sedang berkumpul di meja makan panjang.
"Eh, lihat deh," bisik Tiara, namun volumenya sengaja tidak dikecilkan. "Siapa itu yang baru keluar?"
Aku mematung. Aku berniat hanya mengambil air panas di dispenser, tapi radar kecemasanku mendadak berdenging kencang. Ranti menoleh, matanya memindai penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara jijik dan geli.
"Salsa, kan?" Ranti mencibir, tangannya sibuk mengaduk teh manis. "Ya ampun, Sal. Aku hampir nggak ngenalin kamu kalau nggak lihat muka kamu. Di kampus kelihatannya... ya tahu sendiri lah, rapi banget, syar'i banget. Tapi di sini? Kok kayak... apa ya sebutannya? Agak jomplang."
Tenggorokanku mendadak terasa kering, seolah-olah ada segenggam pasir yang tersangkut di sana. Aku mencoba memaksakan senyum tipis, meski tanganku yang memegang mug mulai terasa dingin. "Namanya juga di rumah sendiri, Ran. Pengin sant** aja."
"Sant** sih sant**, tapi ya nggak gitu juga kali," Tiara menimpali, ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, tapi matanya yang berkilat mengejek tidak bisa disembunyikan. "Maksudku, kalau cowok pengantar paket nggak sengaja ma**k atau ada tamu tiba-tiba, apa nggak malu? Penampilan kamu itu... maaf ya, Sal, kesannya jadi kayak 'murahan' kalau dibandingin sama pas pakai hijab. Kamu nggak ngerasa munafik apa?"
Kata 'munafik' menghantam dadaku seperti godam besar. Napasku tercekat. Aku bisa merasakan panas yang merayap dari leher menuju pipiku. Rasanya seperti dite*******i di bawah lampu sorot panggung. Semua kenyamanan yang tadinya kupuja-puja, dalam sekejap berubah menjadi sumber kehinaan.
"Aku cuma pengin nyaman," suaraku keluar lebih kecil dari yang kuharapkan. Getarannya sangat kentara.
"Nyaman itu bukan berarti berantakan dan nggak tahu aturan berpakaian, Sal," lanjut Ranti makin berani. Ia melirik bagian dadaku yang tertutup daster longgar, lalu saling lirik dengan Tiara sambil terkikik. "Kita semua perempuan di sini, tapi ya ada batasnya. Kalau Arini yang lihat, pasti dia sudah ngomel panjang lebar. Eh, tapi Arini kan emang disiplin, mungkin dia juga udah capek ya ngingetin kamu?"
Aku mengepalkan tangan di samping paha. Rasa malu itu kini bercampur dengan amarah yang tertahan. Ingin rasanya aku berteriak bahwa privasiku bukan konsumsi publik, bahwa apa yang kupakai di balik pintu kos ini tidak ada hubungannya dengan kesantunanku di luar. Namun, lidahku kelu. Aku merasa kecil, sangat kecil, di tengah tawa mereka yang terdengar makin nyaring di telingaku.
Tepat saat itu, langkah kaki yang tegas terdengar dari arah tangga. Suara sandal rumah yang beradu dengan lant** itu sangat kukenal. Arini.
Dia muncul dengan buku medis tebal di pelukannya, rambutnya terikat rapi meski dia hanya berada di dalam kos. Matanya yang tajam di balik kacamata langsung menangkap situasi tegang di dapur. Dia menatapku yang berdiri kaku, lalu beralih menatap Tiara dan Ranti yang masih memasang wajah mengejek.
"Ada apa ini? Berisik sekali sampai kedengaran ke bawah," suara Arini datar, namun penuh penekanan.
Tiara berdeham, mencoba menguasai keadaan. "Nggak ada apa-apa, Rin. Kita cuma lagi... kasih saran sedikit ke teman sekamar kamu ini. Habisnya, dia kok makin lama makin nggak memperhatikan penampilan. Kasihan kan kamu kalau harus satu kamar sama orang yang nggak bisa jaga 'image'."
Aku menunduk, tidak berani menatap Arini. Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakannya. Arini adalah orang paling cerewet soal kerapian. Dia pasti akan setuju dengan mereka. Dia pasti akan menggunakan momen ini untuk menceramahiku lagi tentang betapa cerobohnya aku. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, siap jatuh kapan saja.
"Saran?" Arini melangkah mendekat. Dia berdiri tepat di sampingku, aroma sabun antiseptiknya yang khas tercium kuat. "Kalau yang kalian maksud 'saran' adalah merundung orang lain soal apa yang dia pakai di area pribadi, kurasa kalian salah ma**k jurusan. Bukannya kalian mahasiswa komunikasi? Harusnya tahu bedanya memberi saran dengan menghina."
Suasana mendadak hening. Tiara dan Ranti tampak terkejut, begitu juga aku. Aku memberanikan diri melirik Arini dari sudut mata. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi, tapi tatapannya pada Tiara begitu dingin.
"Salsabila mungkin memang berantakan menurut standar kalian," lanjut Arini, suaranya naik satu oktav. "Tapi dia membayar sewa kamar yang sama dengan kalian. Apa yang dia pakai untuk merasa nyaman di sini adalah urusannya, selama dia tidak te******* di lorong. Dan soal 'image'..." Arini menjeda, matanya menyipit. "Kurasa image kalian yang suka bergunjing jauh lebih buruk daripada image Salsabila yang cuma ingin bernapas tanpa tekanan b**."
Wajah Tiara dan Ranti memerah seketika. Mereka tidak menyangka si perfeksionis Arini justru akan membelaku. Tanpa berkata-kata lagi, mereka membereskan piring mereka dengan terburu-buru dan berjalan cepat meninggalkan dapur.
Aku masih terpaku di tempat, jantungku berdegup kencang. Setetes air mata akhirnya lolos juga. Aku merasa lega, tapi juga merasa sangat aneh. Arini—orang yang setiap hari mengomeliku soal handuk basah dan buku yang berceceran—baru saja membelaku di depan umum.
Arini menghela napas panjang, lalu berbalik menatapku. Tangannya masih memeluk buku medisnya dengan erat.
"Jangan geer," ucapnya dingin, memecah keheningan yang canggung. "Aku membelamu bukan karena aku setuju dengan daster tipismu itu."
Aku mengusap pipiku cepat-cepat. "Rin, makasih..."
"Simpan terima kasihmu," potongnya cepat. Dia menatapku dari atas ke bawah, persis seperti yang dilakukan Ranti tadi, tapi kali ini tidak ada kebencian di matanya, hanya rasa kesal yang biasa. "Cepat ambil airmu dan ma**k kamar. Kamu kelihatan kacau. Dan besok..." dia menggantung kalimatnya, membuatku menahan napas.
"Besok, aku akan membelikanmu daster yang lebih layak dan tidak menerawang. Aku tidak tahan melihat teman sekamarku dihina orang lain hanya karena dia terlalu malas untuk membeli baju tidur yang benar."
Arini berbalik dan berjalan pergi tanpa menunggu jawabanku. Aku berdiri terpaku di dapur yang kini sunyi, menatap punggungnya yang menjauh. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di dadaku, meredam rasa malu yang tadi sempat membakar. Namun, di balik itu, aku tersadar akan satu hal: Arini mungkin cerewet, tapi dia punya cara sendiri untuk menjaga teritorinya—terma**k menjagaku.
Tapi, apakah "perlindungan" Arini ini berarti dia akan semakin ikut campur dalam hidupku? Aku melihat mug kosong di tanganku, menyadari bahwa mulai besok, hidupku di Kamar 202 mungkin tidak akan pernah sama lagi. Arini bukan lagi sekadar teman sekamar yang berisik; dia telah menarik garis perang dengan orang lain demi aku, dan aku tidak tahu apakah aku harus senang atau justru merasa lebih terancam.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!