Ujung pulpen gel-ku mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu di area komunal lant** dua dengan irama yang kaku. Di depanku, buku tebal *Anatomi Klinis* terbuka lebar, tetapi fokusku justru terdistraksi oleh uap tipis dari kopi hitam yang mulai mendingin. Aku benci distraksi. Bagiku, jadwal belajar adalah hal sakral yang tidak boleh diganggu oleh apa pun, terma**k kebisingan kecil di area *pantry* yang hanya berjarak beberapa meter dari posisiku sekarang.
"Kamu serius lihat dia kayak gitu? Padahal di kampus penampilannya santun banget, kan?"
Suara cempreng itu milik Widya, penghuni kamar 205 yang dikenal sebagai informan tercepat di kosan ini. Aku menghela napas, berusaha kembali ke barisan saraf kranial, tapi telingaku seolah memiliki kehendak sendiri untuk menangkap setiap kata yang terlontar.
"Iya, demi apa pun! Kemarin pas aku lewat depan kamarnya, pintunya agak terbuka gara-gara Salsa lagi terima paket atau apa gitu. Dia cuma pakai kaus oblong tipis, gomb**ng, dan jelas banget... ya ampun, dia nggak pakai b**, Wid! Padahal dia pakai jilbab kalau keluar. Apa nggak munafik namanya?" Suara satunya lagi, kalau tidak salah milik Ratna, terdengar penuh nada penghakiman yang kental.
Genggamanku pada pulpen mengeras. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa panas yang mulai menjalar dari tengkuk ke pipi. Itu adalah deskripsi tentang Salsabila. Teman sekamarku yang impulsif, berantakan, dan memang memiliki obsesi aneh untuk membebaskan dirinya dari segala jenis pakaian dalam yang menyesakkan begitu dia menginjakkan kaki di dalam kamar 202.
"Duh, aku sih nggak habis pikir," lanjut Widya sambil tertawa kecil yang terdengar mengejek. "Biasanya yang kayak gitu tuh pencitraan aja di luar. Kasihan ya si Arini, mahasiswi kedokteran teladan kita, harus sekamar sama cewek yang standarnya... yah, serendah itu. Pasti Arini stres banget ngadepin dia."
Aku menutup buku anatomi itu dengan dentuman yang sengaja aku keraskan. Suara *gedebuk* itu seketika membungkam tawa mereka. Aku berdiri, merapikan letak kacamataku yang sedikit merosot, lalu berjalan menuju *pantry* dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar terdengar tegas.
Begitu aku muncul di ambang pintu *pantry*, Widya dan Ratna berjengit. Mereka tampak canggung, memegang cangkir masing-masing seolah itu adalah perisai.
"Eh, Arini... belum tidur? Tadi kita cuma lagi... anu, ngobrol sant**," Widya mencoba mencairkan suasana dengan senyum yang dipaksakan.
Aku tidak membalas senyumnya. Aku menatap mereka bergantian dengan tatapan dingin yang biasa aku gunakan saat menghadapi adik tingkat yang salah menyambungkan selang infus di laboratorium simulasi.
"Aku tidak tahu sejak kapan kurikulum di kosan ini berubah menjadi studi ka**s mengenai kehidupan pribadi orang lain," ucapku datar. Suaraku tenang, namun aku bisa merasakan getaran kemarahan di dalamnya.
Ratna berdehem, mencoba membela diri. "Lho, Rin, kita kan cuma heran aja. Kamu kan orangnya disiplin, rapi, berpakaian selalu pantas. Apa kamu nggak risih lihat Salsa yang... yah, kamu tahu sendiri, agak sembarangan kalau di dalam kamar?"
Aku melangkah satu tindak lebih dekat. Aku tahu, reputasiku sebagai mahasiswi teladan yang kaku dan perfeksionis adalah satu-satunya alasan mereka masih bersikap sopan padaku. Jika aku membela Salsa, aku mungkin akan dianggap aneh, atau lebih buruk lagi, mereka akan mulai mema**kkanku ke dalam lingkaran gosip mereka yang beracun.
"Apa yang Salsa lakukan di dalam kamar 202 adalah ranah privasi yang sudah kami sepakati," kataku dengan penekanan pada setiap kata. "Dia adalah teman sekamar yang menghargai batasan. Dia tidak pernah telat bayar listrik, dia tidak pernah berisik di jam tidurku, dan yang paling penting, dia tidak pernah mengurusi bagian tubuh orang lain di area publik."
Widya tampak tersinggung. "Tapi Rin, ini soal etika. Dia itu pakai jilbabβ"
"Etika?" aku memotongnya dengan tajam. "Etika mana yang mengajarkan kita untuk mengintip ke dalam celah pintu kamar orang lain lalu menjadikannya bahan tawaan di dapur umum? Sebagai mahasiswi, kupikir kapasitas otak kalian lebih besar daripada sekadar mengurusi apakah seseorang memakai b** atau tidak di ruang pribadinya sendiri."
Suasana menjadi sangat kaku. Ratna tampak memerah padam, sementara Widya memalingkan wajah, tidak berani menatap mataku. Aku tahu, besok pagi mungkin akan ada cerita baru yang beredar: bahwa Arini yang 'sempurna' ternyata sudah tertular 'ketidakwarasan' Salsabila. Reputasi mahasiswi kedokteran yang anggun dan berwibawa yang selama ini kujaga dengan susah payah mungkin akan retak. Namun, bayangan Salsa yang menyambutku dengan tawa renyah dan tawaran camilan setiap kali aku pulang kuliah dengan wajah kuyu, membuatku merasa retakan itu sepadan.
"Kalau kalian punya waktu luang untuk menghakimi gaya hidup orang lain, mungkin kalian butuh lebih banyak tugas kuliah," tambahku lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah namun menusuk. "Dan satu hal lagi, Salsa tidak munafik. Dia hanya tahu di mana dia harus menjadi milik publik, dan di mana dia berhak menjadi dirinya sendiri. Sesuatu yang sepertinya belum kalian pahami."
Tanpa menunggu jawaban, aku berbalik dan berjalan kembali ke mejaku. Aku membereskan buku-bukuku dengan gerakan efisien. Tanganku sedikit gemetar saat mema**kkan buku ke dalam tas, sisa dari lonjakan adrenalin yang tidak biasa. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnyaβmenjadi pusat konfrontasi hanya untuk membela seseorang yang bahkan sering membuatku sakit kepala karena kecerobohannya.
Aku berjalan menuju kamar 202. Begitu aku memutar kunci dan ma**k, pemandangan yang menyambutku adalah Salsa yang sedang rebahan di lant** dengan posisi telungkup, hanya memakai kaus oblong kedodoran warna kuning pudar dan celana pendek bermotif beruang. Dia sedang sibuk menggambar sesuatu di buku sketsanya, kakinya bergoyang-goyang di udara.
"Rinnn! Akhirnya pulang dari pertapaan di meja depan!" serunya tanpa menoleh, suaranya ceria seperti biasa. "Tadi ada Widya lewat depan kamar, dia kayaknya lihat aku pas lagi buka pintu buat ambil GoFood. Eh, tapi kok mukanya sinis banget ya? Apa aku salah lihat?"
Aku menutup pintu rapat-rapat, menguncinya, lalu bersandar di sana sejenak. Aku menatap punggung Salsa yang tampak sangat bebas, sangat tidak terbebani oleh ekspektasi dunia. Ada rasa aneh yang merayap di dadakuβsebuah keinginan untuk melindungi ketenangan yang berantakan ini.
"Arini? Kok diam aja?" Salsa berbalik, menatapku dengan mata bulatnya yang jujur. "Kamu sakit ya? Mukamu agak merah."
Aku menghela napas panjang, lalu mulai melepaskan jaket almamaterku. "Bukan apa-apa, Sal. Hanya habis menghadapi beberapa kuman yang mengganggu di luar sana."
Salsa tertawa, menganggap kata-kataku sebagai sarkasme medis biasa. Dia tidak tahu bahwa di luar sana, perang dingin baru saja dimulai, dan namaku kini berada di garis depan bersamanya. Namun, saat aku melihatnya kembali asyik dengan dunianya, aku menyadari bahwa kamar ini memang seharusnya menjadi tempat di mana semua label dan tuntutan dunia luar berhenti di depan pintu.
Hanya saja, aku tahu Widya dan teman-temannya bukan tipe orang yang mudah diam. Dan aku bertanya-tanya, sampai kapan aku bisa mempertahankan benteng ini sebelum mereka menemukan cara lain untuk meruntuhkannya.
"Rin, nanti pinjam catatan Farmakologi ya!" teriak Salsa tiba-tiba sambil melempar bantal ke arahku.
Aku menangkap bantal itu, lalu menghela napas pendek. "Berhenti berteriak, Salsa. Dan pakai pakaian yang lebih pantas kalau kamu mau aku mengajarimu."
Meskipun aku baru saja membelanya, disiplinku tetaplah disiplin. Namun, saat aku duduk di tempat tidurku, aku menyadari satu hal: aku baru saja mempertaruhkan citra sempurnaku demi cewek yang bahkan tidak sadar dia sedang dibicarakan satu lant**. Dan yang paling menakutkan adalah, aku tidak menyesalinya sama sekali.
Setidaknya sampai ponselku bergetar, menampilkan notifikasi dari grup WhatsApp penghuni kos yang mulai ramai oleh pesan-pesan yang sengaja dihapus. Mereka mulai bergerak.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!