Cahaya matahari sore menerobos ma**k melalui celah gorden Kamar 202, menyinari debu-debu halus yang menari di udara. Aku duduk di tepi tempat tidurku, merasakan sensasi kain kaos katun yang longgar menyentuh kulit punggungku. Rasanya luar biasa. Seperti baru saja melepaskan baju zirah setelah perang panjang seharian di kampus. Tanpa kawat yang menusuk, tanpa tali yang menjepit bahu. Hanya aku, kaos *oversized*, dan kebebasan yang hakiki.
Namun, kebebasan itu selalu terasa sedikit "berisiko" sejak Arini pindah ke sini.
Di seberang ruangan, Arini sedang duduk tegak di kursinya. Punggungnya lurus sempurna, seolah ada penggaris yang ditempelkan di balik bajunya. Bunyi detak jam dinding seolah beradu dengan suara ketikan cepat dari laptop mahasiswi kedokteran itu. Aku berdehem pelan, mencoba memecah keheningan yang sedikit canggung setelah ketegangan beberapa hari terakhir.
"Rin," panggilku.
Arini tidak menoleh, tapi jari-jarinya berhenti bergerak. Ia membetulkan posisi kacamatanya dengan ujung telunjuk. "Ya, Sal? Ada yang tidak rapi lagi?"
Aku meringis pelan. Pertanyaannya selalu langsung ke sasaran. "Bukan itu. Soal... kenyamanan kita berdua. Aku rasa kita butuh bicara serius, tapi sant**. *Diplomasi Kamar 202*, kalau kamu mau menyebutnya begitu."
Kali ini, Arini memutar kursinya. Matanya yang tajam menatapku, menyelidiki. Ia melihat ke arah kerah kaosku yang sedikit melorot, lalu dengan cepat membuang muka, seolah-olah melihat sesuatu yang tidak sopan.
"Aku tahu kamu risih melihatku begini," kataku cepat sebelum dia sempat melayangkan protes. "Tapi Rin, bagiku, kamar ini adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa bernapas. Di luar sana, aku adalah Salsabila yang tertutup, rapi, dan sesuai standar semua orang. Di sini? Aku cuma ingin jadi manusia yang nggak tercekik pakaian dalam sendiri."
Arini menghela napas panjang. Ia menutup laptopnya dengan suara *klik* yang tegas. "Aku menghargai kebutuhan privasimu, Sal. Masalahnya bukan pada apa yang kamu pakai atau tidak kamu pakai. Tapi pada batasannya. Aku tidak terbiasa dengan ketidakteraturan. Bagiku, pakaian adalah bentuk kesiapan mental. Bagaimana kalau tiba-tiba ada tamu? Atau keadaan darurat?"
"Makanya, mari kita buat kesepakatan," ujarku sambil bangkit dan mengambil selembar kertas kosong serta spidol warna-warni dari atas nakas. Aku duduk bersila di lant**, memberi isyarat agar dia ikut bergabung.
Arini tampak ragu sejenak, melihat lant** kamarnya yang baru saja ia pel dengan cairan antiseptik, sebelum akhirnya duduk dengan anggun di hadapanku.
"Poin pertama," aku menulis dengan huruf kapital besar. "HAK ASASI KENYAMANAN."
Arini menaikkan sebelah alisnya. "Istilah yang sangat... kreatif."
"Dengarkan dulu. Di dalam kamar, saat hanya ada kita berdua, aku bebas tidak memakai b**. Sebagai gantinya, aku berjanji tidak akan lari-larian keluar kamar dengan kondisi begini, dan aku akan selalu memakai *outer* atau jaket kalau ada orang yang mengetuk pintu."
Arini terdiam, tampak menimbang-nimbang secara klinis di dalam kepalanya. "Oke. Tapi dengan satu syarat tambahan: kamu tidak boleh meletakkan 'benda itu' sembarangan. Jangan di atas meja belajar, jangan di sandaran kursi, apalagi di dekat tumpukan buku diktatku. Simpan di laci atau gantungan tersembunyi."
"Setuju!" balasku semangat. "Poin kedua: ZONA STERIL DAN ZONA NYAMAN. Kamu boleh mengatur kerapian meja dan rak bukumu se-perfeksionis mungkin. Aku nggak akan sentuh. Tapi, tolong biarkan ka**r dan area lant** di sisiku sedikit lebih... 'berjiwa'. Maksudku, jangan langsung mengomel kalau ada satu atau dua helai kerudung yang belum sempat aku lipat."
"Satu hari," potong Arini tegas. "Aku beri waktu maksimal dua puluh empat jam untuk membereskan 'jiwa' di areamu itu. Lebih dari itu, aku akan menganggapnya sebagai sampah yang mengganggu estetika."
Aku tertawa kecil. "Deal. Dua puluh empat jam."
Kami menghabiskan tiga puluh menit berikutnya menyusun daftar aturan itu. Mulai dari jadwal piket menyapu, pembagian rak di kulkas kecil kami, hingga aturan 'jam malam' untuk lampu utama. Arini ternyata tidak sekeras yang aku kira. Saat aku mengusulkan untuk memesan martabak setiap Sabtu malam sebagai 'biaya sewa' atas kecerewetannya, dia bahkan sempat tersenyum tipisβsebuah pemandangan langka yang lebih mahal dari nilai A di kartu hasil studiku.
"Ini," Arini menyodorkan tangannya setelah kami selesai menandatangani kertas itu seperti sebuah pakta perdamaian negara. "Semoga ini bisa mengurangi frekuensi perdebatan kita yang tidak produktif."
Aku menjabat tangannya erat. "Terima kasih sudah mau berkompromi, Rin. Aku tahu aku bukan teman sekamar yang paling mudah dihadapi."
"Memang tidak," sahutnya jujur, membuatku hampir tersedak. "Tapi setidaknya kamu jujur. Itu lebih baik daripada teman sekamar yang terlihat rapi di depan tapi menyimpan makanan busuk di bawah tempat tidur."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Arini pindah, atmosfer di Kamar 202 terasa ringan. Aku merebahkan diri di tempat tidur, merasakan angin dari kipas angin yang membelai kulitku tanpa penghalang kain yang menyesakkan. Arini kembali ke laptopnya, tapi kali ini ia memasang *earphone*, memberiku privasi suara yang sebelumnya tidak pernah ia hiraukan.
Aku hampir saja terlelap dalam rasa damai yang baru ditemukan ini, sampai sebuah ketukan keras dan mendadak terdengar di pintu kamar kami.
*Tok! Tok! Tok!*
"Salsabila! Kamu di dalam? Ini aku, Kak Damar!"
Mataku membelalak sempurna. Jantungku serasa merosot ke perut. Kak Damar? Ketua BEM yang terkenal sangat konservatif sekaligus kakak tingkat yang paling aku segani di jurusan?
Aku menatap Arini dengan horor. Tanganku refleks menyilang di depan dada, menyadari bahwa di balik kaos tipis ini, aku benar-benar "bebas".
"Aturan nomor satu!" bisik Arini dengan nada panik sekaligus mendesak. "Outer! Mana jaketmu?!"
Aku panik, meraba-raba kegelapan di bawah tempat tidur dan di balik tumpukan bantal. Jaket itu tidak ada. Dan ketukan di pintu terdengar semakin tidak sabar.
"Salsa? Aku tahu kamu belum tidur, lampunya masih menyala!" suara berat Damar terdengar tepat di balik daun pintu yang tipis itu.
Arini berdiri, menatap pintu lalu menatapku dengan wajah yang seolah mengatakan bahwa ini adalah ujian pertama dari kesepakatan kami yang baru berusia satu jam. Celakanya, aku baru sadar kalau jaket yang kucari tadi sedang berada di dalam mesin cuci di lant** bawah.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!