Tangan kaku karena memegang pena selama tiga jam akhirnya bisa kulepaskan. Begitu pintu Kamar 202 tertutup di belakang punggungku, aku menyandarkan kepala pada daun pintu kayu yang dingin itu selama beberapa detik. Rasanya seolah seluruh beban dari enam mata kuliah berat menguap dari kepalaku, menyisakan ruang kosong yang sangat melegakan.
"Alhamdulillah, tamat juga penderitaan ini," gumamku pelan.
Aku tidak membuang waktu. Dengan gerakan yang sudah terlatih, aku melepas satu per satu jarum pentul yang menahan jilbab segiempatku. Begitu kain itu terlepas, rambutku yang lembap dan berantakan terjatuh bebas. Tapi kenyamanan sesungguhnya baru dimulai saat aku menyelinap ke balik lemari pakaian, melepas *b*** yang sedari pagi terasa mencekik rusukku, lalu menggantinya dengan kaus oblong kebesaran yang kainnya sudah menipis dimakan usia.
Ah, kebebasan. Tanpa kawat yang menusuk, tanpa tekanan di pundak. Inilah Salsabila yang asli.
"Salsa! Kamu baru pulang langsung melempar jilbab di atas ka**r begitu saja?"
Suara itu setajam pisau bedah. Aku menoleh dan mendapati Arini berdiri di ambang pintu kamar mandi, handuk kecil tersampir di bahunya. Matanya yang kelelahan karena begadang belajar anatomi tetap tidak kehilangan ketajamannya saat melihat tumpukan kain di tempat tidurku.
"Cuma sebentar, Rin. Napas dulu, dong," sahutku sambil merebahkan diri di lant** yang dialasi karpet bulu. "Otakku baru saja diperas sampai kering oleh ujian Statistik."
Arini mendengus, tetapi dia tidak melanjutkan omelannya. Dia melangkah menuju tempat tidurku, mengambil jilbabku, lalu melipatnya dengan presisi yang hanya dimiliki oleh calon dokter perfeksionis. Dia kemudian meletakkannya di rak gantung.
"Kita sudah sepakat, Sal. Kamar yang berantakan mencerminkan pikiran yang berantakan," katanya, meski suaranya terdengar lebih parau dari biasanya. "Tapi... karena hari ini hari terakhir semester, aku akan memaafkanmu kali ini. Hanya kali ini."
Aku terkekeh, melihatnya duduk di kursi belajarnya yang selalu rapi. Di atas mejanya, buku-buku tebal tersusun sesuai tinggi dan warna punggung buku. Kontras sekali dengan mejaku yang penuh dengan remahan biskuit, tumpukan kertas sketsa, dan kabel pengisi daya yang menjalar seperti akar pohon.
"Pesan martabak besar, yuk? Aku yang bayar. Sebagai perayaan kita bertahan hidup selama enam bulan terakhir," ajakku sambil menggoyangkan ponsel di depan wajahnya.
Arini tampak ingin menolakβmungkin ingin membahas soal kalori atau lemak jenuhβtapi perutnya justru berbunyi dengan sangat keras. Wajahnya memerah, dan dia akhirnya mengangguk pelan. "Pakai telur bebek dua. Jangan lupa bilang ke penjualnya jangan terlalu banyak minyak."
"Siap, Dokter!"
Setengah jam kemudian, aroma gurih daging dan telur memenuhi kamar 202. Kami duduk berhadapan di atas karpet. Arini, dengan daster katunnya yang disetrika licin, dan aku, dengan penampilan yang mungkin akan membuat ibuku pingsan jika melihatnya di tempat umum.
"Tadi ujianmu gimana?" tanyaku sambil mengunyah martabak dengan lahap.
Arini terdiam sejenak, memandangi potongan martabaknya seolah sedang melakukan bedah mayat. "Susah. Ada beberapa soal tentang saraf kranial yang membuatku ragu. Aku takut nilaiku turun."
Aku memperhatikan Arini. Garis hitam di bawah matanya tampak jelas. Dia selalu belajar sampai jam tiga pagi, memastikan setiap det**l ma**k ke kepalanya. Dia adalah orang yang akan memarahiku jika aku lupa mencuci piring, tapi dia juga orang yang diam-diam menaruh vitamin di atas mejaku saat aku mulai batuk-batuk minggu lalu.
"Rin, kamu itu terlalu keras pada diri sendiri," kataku tulus. "Kamu orang paling pintar yang aku kenal. Kalau kamu saja merasa susah, bayangkan bagaimana nasib mahasiswa lain."
Arini mengangkat kepalanya, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku hanya tidak ingin gagal, Sal. Orang tuaku menaruh harapan besar. Aku tidak punya kemewahan untuk bersikap sant** seperti kamu."
Kalimat itu biasanya akan memicu perdebatan. Aku biasanya akan membela diri bahwa 'sant** bukan berarti tidak serius'. Tapi malam ini, aku melihat sesuatu yang berbeda di matanya. Ada kerapuhan yang selama ini dia sembunyikan di balik topeng kedisiplinannya yang kaku.
Dia lalu merogoh saku dasternya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Sebuah gantungan kunci berbentuk kucing dengan kuas lukis di tangannya. Dia menyodorkannya padaku.
"Apa ini?" tanyaku heran.
"Tadi lewat toko alat tulis saat pulang dari kampus. Aku ingat kamu mengeluh kuas lukismu banyak yang hilang karena kamu ceroboh menaruhnya. Gantungan ini ada kantong kecilnya di belakang, bisa untuk menyimpan kuas atau benda kecil lainnya. Supaya kamu tidak menghilangkannya lagi."
Aku menerima benda itu, merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tanganku ke dada. Arini yang cerewet, Arini yang hobi mengatur hidupku, ternyata memperhatikanku sampai ke det**l sekecil itu. Dia menghafal keluhanku yang tidak penting di tengah kepalanya yang penuh dengan istilah medis.
"Makasih, Rin. Kamu... kok tumben baik banget?" godaku, mencoba menutupi rasa haru yang mulai menyerang.
Arini membuang muka, kembali fokus pada martabaknya. "Jangan GR. Aku hanya lelah mencari barang-barangmu yang berserakan kalau aku sedang ingin menyapu lant**. Itu mengganggu efisiensiku."
Aku tersenyum lebar. Aku tahu itu bohong. Arini melakukan ini karena dia peduli. Selama ini aku menganggap kecerewetannya sebagai gangguan, sebagai hambatan bagi kebebasanku di dalam kamar ini. Tapi sekarang aku sadar, tanpa kecerewetannya, mungkin aku sudah tenggelam dalam kekacauan yang kubuat sendiri. Dia adalah jangkar yang menahanku agar tetap memijak bumi, sementara aku adalah angin yang sesekali mengajaknya terbang dan sedikit bersant**.
Kami menghabiskan sisa malam itu dengan bercerita tentang rencana libur semester. Untuk pertama kalinya, Arini tidak mengomentari cara dudukku yang tidak sopan atau fakta bahwa aku tidak mengenakan pakaian dalam di depannya. Kami hanya dua orang gadis yang lelah, berbagi makanan berminyak di sebuah kamar kost sempit.
Namun, saat suasana sedang hangat-hangatnya, ponsel Arini bergetar di atas meja. Dia melihat layarnya, dan seketika wajahnya berubah pucat pasi. Dia tidak mengangkatnya, tapi tangannya gemetar saat membalikkan ponsel tersebut agar layarnya menghadap ke bawah.
"Siapa, Rin?" tanyaku cemas.
Arini tidak menjawab. Dia langsung berdiri, merapikan bekas makanan kami dengan gerakan yang sangat terburu-buru, seolah-olah dia sedang berusaha melarikan diri dari sesuatu.
"Aku harus tidur, Sal. Besok aku... aku harus pulang pagi-pagi sekali," katanya tanpa menatap mataku.
Ada sesuatu yang salah. Kecerewetannya hilang seketika, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan. Saat dia berjalan menuju tempat tidurnya dan memunggungiku, aku menyadari bahwa liburan semester ini mungkin tidak akan berjalan sehangat martabak yang baru saja kami makan. Ada rahasia yang baru saja mengetuk pintu kamar kami, dan aku tidak tahu apakah aku siap untuk mendengarnya.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!