Bunyi klik dari kunci pintu Kamar 202 selalu menjadi melodi paling indah di telinga Salsabila. Begitu daun pintu kayu itu tertutup rapat, dunianya yang penuh sandiwara formal di luar sana seketika runtuh. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu, memejamkan mata sejenak sembari menghela napas panjang yang seolah sudah ia tahan sejak jam matakuliah pertama tadi pagi.
Udara gerah Jakarta siang itu terasa menempel di kulitnya seperti lem. Perlahan, jemari Salsa bergerak lincah mencabut jarum pentul yang menyatukan kain sifon di bawah dagunya. Ia menarik napas lega saat lilitan jilbab itu terlepas, membiarkan rambut hitamnya yang lembap oleh keringat jatuh terurai ke bahu. Rasanya seolah beban sepuluh kilogram baru saja diangkat dari kepalanya.
"Bebas..." bisiknya pada sunyi ruangan.
Salsa melangkah menuju lemari, gerakannya cepat dan tidak sabaran. Tas ranselnya dilempar begitu saja ke atas meja belajar yang sedikit berantakan. Tangannya meraba ke balik blus katun yang ia kenakan, mencari pengait di punggung. Dengan satu gerakan terampil yang sudah terlatih, ia melepas kaitan b**-nya. Begitu benda yang terasa seperti kawat penjara itu terlepas, Salsa memejamkan mata, menikmati sensasi luar biasa saat paru-parunya bisa mengembang sempurna tanpa tekanan.
Ia melempar b** itu ke dalam keranjang baju kotor, lalu dengan cepat mengganti blusnya dengan selembar tanktop berbahan katun tipis yang sudah mulai pudar warnanya. Tanpa b**, tanpa lapisan ganda, hanya kain tipis yang membelai kulitnya. Inilah Salsabila yang sesungguhnya. Bukan Salsabila sang mahasiswi teladan yang rapi dan tertutup, melainkan Salsa yang hanya memuja satu hal: kenyamanan mutlak.
Ia merebahkan tubuhnya di atas ka**r, menyalakan kipas angin kecil ke arah wajahnya, dan mulai menscroll ponsel. Keheningan kamar ini adalah kemewahan, setidaknya sampai Arini kembali dari laboratorium anatomi dua jam lagi.
Namun, keberuntungan Salsa sepertinya sedang cuti hari ini.
Terdengar langkah kaki yang tegas dan berirama di lorong. Jantung Salsa berdegup kencang saat suara kunci diputar dari luar terdengar. Ia tidak sempat bangkit, apalagi mencari kaus luar untuk menutupi tubuhnya, saat pintu terbuka lebar.
Arini berdiri di sana. Rambutnya terikat kuncir kuda yang sangat rapi, jas lab tersampir bersih di lengannya, dan tatapannya setajam pisau bedah yang biasa ia gunakan. Arini mematung di ambang pintu, matanya menyapu pemandangan di depannya: Salsa yang sedang telentang dengan pakaian yang menurut standar Arini adalah 'bencana moral'.
"Salsa?" Suara Arini datar, namun ada nada tinggi yang tertahan di sana.
Salsa memaksakan senyum kaku, masih dalam posisi rebahan. "Eh, Rin. Kok cepat banget baliknya? Katanya ada praktikum sampai sore?"
Arini tidak menjawab. Ia melangkah ma**k, menutup pintu dengan bunyi debuman pelan yang sengaja ditekan, lalu meletakkan tasnya dengan posisi yang sejajar sempurna dengan tepian meja. Ia berbalik, melipat tangan di dada, dan menatap Salsa dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kamu tidak merasa ada yang salah dengan caramu berpakaian sekarang?" tanya Arini. Kalimatnya bukan pertanyaan, melainkan sebuah dakwaan.
Salsa menghela napas, ia mulai bangkit dan duduk di tepi ranjang, mencoba tidak terlihat terintimidasi. "Rin, ini kamar kita. Kamar pribadi. Aku cuma mau napas sebentar. Di luar itu panas banget, kamu tahu kan?"
Arini mendekat satu langkah. "Pribadi bukan berarti tanpa etika, Salsa. Kita berbagi ruang. Aku tidak nyaman melihatmu... begini. Sangat tidak rapi, tidak sopan, dan sejujurnya, secara higienis itu tidak baik. Keringatmu menempel langsung di sprei tanpa lapisan pakaian yang layak."
Salsa memutar bola matanya. "Higienis? Rin, ini cuma tanktop. Dan sprei ini sprei-ku sendiri, bukan punya kamu. Aku butuh relaksasi. Kamu nggak tahu rasanya seharian pakai baju berlapis-lapis dan jilbab yang bikin leher gatal?"
"Aku juga memakai pakaian tertutup, Salsa. Aku juga gerah," potong Arini cepat, nada suaranya mulai naik satu oktav. "Tapi aku punya disiplin. Ada aturan tak tertulis tentang bagaimana kita harus bersikap di depan orang lain, meskipun itu teman sekamar sendiri. Bagaimana kalau tiba-tiba ada ibu kos datang? Atau teman lain mengetuk pintu? Kamu mau menunjukkan pemandangan vulgar seperti ini?"
"Vulgar? Yang benar saja!" Salsa berdiri, rasa panas di dadanya bukan lagi karena cuaca, tapi karena kekesalan. "Ini tubuhku, Arini. Di dalam kamar ini, aku berhak menjadi diriku sendiri. Aku nggak minta kamu ikut-ikutan nggak pakai b**, jadi jangan atur-atur apa yang harus kupakai di tempat tidurku sendiri."
Arini menghela napas panjang, ekspresinya berubah menjadi raut wajah seorang guru yang sedang menghadapi murid paling bebal di kelas. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari tasnyaβbuku yang sudah Salsa curigai sejak hari pertama mereka pindah sebagai 'buku dosa'.
"Sejak awal kita pindah, aku sudah bilang kalau aku menghargai kerapian dan standar kesopanan yang tinggi," kata Arini sambil menuliskan sesuatu dengan pena peraknya. "Poin nomor tiga di peraturan kamar yang kita sepakati secara lisan adalah menjaga citra baik. Apa yang kamu lakukan sekarang melanggar kenyamanan visualku sebagai rekan sekamarmu."
"Kenyamanan visual?" Salsa tertawa hambar. "Kamu pikir aku ini pajangan di museum anatomi kamu? Aku manusia, Rin. Aku capek. Aku cuma pengen bebas dari kawat dan kain gerah ini selama satu jam saja!"
"Satu jam atau satu menit, prinsip tetap prinsip," Arini menyimpan kembali bukunya. Ia menatap Salsa dengan tatapan dingin yang membuat Salsa merasa seperti bakteri di bawah mikroskop. "Aku minta kamu pakai kaus yang layak sekarang juga. Dan tolong, b** itu... jangan diletakkan sembarangan di keranjang yang terbuka. Itu tidak etis dilihat mata."
Salsa mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Ia menatap Arini yang kini mulai sibuk menyemprotkan cairan disinfektan ke mejanya sendiri, seolah keberadaan Salsa dengan tanktopnya telah mengkontaminasi udara di seluruh ruangan.
"Arini," panggil Salsa dengan suara rendah yang bergetar karena emosi.
"Apa lagi? Pakai bajumu, baru kita bicara," sahut Arini tanpa menoleh.
Salsa menatap punggung kaku teman sekamarnya itu. Ia menyadari satu hal: ini bukan sekadar soal pakaian. Ini adalah awal dari perang dingin di Kamar 202. Dan jika Arini pikir ia bisa mengubah Salsabila menjadi boneka manekin yang kaku dan 'sopan' setiap detik, maka mahasiswi kedokteran itu baru saja memulai diagnosa yang salah besar.
Salsa meraih kaus kebesaran di atas kursinya, memakainya dengan hentakan kasar, lalu berjalan menuju pintu.
"Mau ke mana?" tanya Arini saat mendengar gagang pintu diputar.
Salsa menoleh sedikit, memberikan tatapan paling menantang yang pernah ia tunjukkan. "Mencari oksigen. Karena sepertinya, di kamar ini, bernapas pun harus pakai izin dan aturan tertulis darimu."
Salsa keluar dan membanting pintu, meninggalkan Arini yang terpaku menatap debu-debu yang beterbangan di udara kamar yang tiba-tiba terasa sangat menyesakkan. Namun, di koridor, Salsa baru menyadari satu hal; ia lupa memakai sandalnya, dan dompetnya tertinggal di dalam kamar yang kini terasa seperti medan perang.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!