Ujung bolpoin gel hitam itu mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu yang sudah kupastikan bebas dari debu. Aku menghela napas, menyesuaikan posisi kacamata yang sedikit melorot, lalu kembali menatap lembar kertas HVS di hadapanku. Di atasnya, tertulis judul dengan huruf kapital yang tegas: **KESEPAKATAN BERSAMA KAMAR 202**.
Sebagai mahasiswi kedokteran, aku tahu betul bahwa lingkungan yang kacau adalah sarang bagi bakteri dan, yang lebih buruk lagi, kekacauan mental. Aku tidak bisa menghafal 206 tulang manusia jika di sudut mataku aku melihat tumpukan kaus kaki bekas pakai yang mencuat dari bawah tempat tidur.
Pintu kamar terbuka. Salsabila melangkah ma**k dengan gont**. Jilbab pasminanya tersampir asal di bahu, wajahnya kuyu, dan tas ranselnya dijatuhkan begitu saja ke lant**—tepat di samping rak sepatu yang sudah kubersihkan tadi pagi.
"Sal, tas di gantungan, bukan di lant**," tegurku tanpa menoleh. Suaraku datar, tipe suara yang biasa digunakan dosen saat membacakan silabus yang membosankan.
Salsa mengerang pelan. "Aduh, Rin. Lima menit aja. Pundakku rasanya mau copot gara-gara praktikum tadi."
Ia melangkah menuju tempat tidurnya, dan aku bisa mendengar bunyi gesekan kain yang familiar. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Begitu ia merasa aman di balik "wilayahnya", ia mulai menanggalkan satu per satu lapisan pakaian luarnya. Namun, yang membuat sarafku berkedut bukan hanya soal ia yang hobi tampil 'terlalu sant**' tanpa penyangga dada itu, melainkan bagaimana ia meninggalkan jejak pakaiannya di mana-mana.
"Duduk sebentar, Sal. Ada yang harus kita bicarakan," kataku sambil memutar kursi belajar ke arahnya.
Salsa, yang kini hanya mengenakan kaus oblong kedodoran yang tipis, menjatuhkan diri ke ka**r. Ia menatapku dengan mata setengah tertutup. "Apa lagi, Bu Dokter? Aku capek banget, beneran."
Aku menyodorkan kertas itu ke hadapannya. "Jadwal piket. Senin dan Kamis itu bagianmu menyapu, mengepel, dan membuang sampah. Selasa dan Jumat bagianku. Rabu dan Sabtu kita deep cleaning bersama. Hari Minggu bebas, asal tidak ada barang yang tercecer di area komunal."
Salsa mengambil kertas itu dengan ujung telunjuknya, seolah-olah itu adalah dokumen terkutuk. Ia membacanya dengan dahi berkerut. "Poin nomor lima... 'Dilarang meninggalkan pakaian dalam atau pakaian kotor di area yang terlihat mata'? Rin, ini kamar kita, bukan asrama militer."
"Ini ruang publik bagi kita berdua, Sal," koreksiku tegas. "Aku tidak mau saat aku sedang fokus belajar, aku harus melihat pemandangan... yang kurang pantas. Terma**k soal caramu berpakaian di dalam kamar. Tolong, setidaknya gunakan sesuatu yang lebih 'terstruktur'. Bagaimana kalau tiba-tiba ada ibu kos atau teman lain mengetuk pintu?"
Salsa mendengus, tawa sarkastik keluar dari hidungnya. "Di luar aku sudah bungkus diri rapi-rapi, Rin. Di sini aku cuma mau napas. Kamu tahu nggak rasanya sesak pakai b** dua belas jam seharian? Rasanya kayak paru-parumu diremas!"
"Disiplin itu memang tidak selalu nyaman, tapi perlu," jawabku sambil melipat tangan di dada. "Aku juga butuh kenyamanan visual. Aku tidak bisa belajar kalau melihat kamarku berantakan seperti kapal pecah. Tanda tangani, atau kita akan terus berdebat setiap malam."
Salsa menatapku tajam. Ada kilat pemberontakan di matanya yang biasanya jenaka. Ia menyambar bolpoin dari tanganku dengan gerakan kasar, lalu membubuhkan tanda tangan yang sangat besar—hampir memenuhi setengah bagian bawah kertas—sebagai bentuk protes yang jelas.
"Oke, Arini yang Sempurna," gumamnya. Ia bangkit, berjalan menuju lemarinya dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan. "Aku akan ikuti aturan mainmu. Tapi jangan salahkan aku kalau kamar ini jadi terlalu 'steril' sampai-sampai kuman pun takut ma**k."
Aku merasa menang. Aku kembali ke mejaku, membuka buku anatomi, dan mulai tenggelam dalam terminologi Latin yang menenangkan. Suasana hening menyelimuti kamar 202 selama satu jam berikutnya. Hanya ada suara gesekan kertas dan detak jam dinding. Aku merasa puas; akhirnya ada keteraturan di sini.
Namun, kepuasan itu tidak bertahan lama.
Aku mencium bau sesuatu. Tajam, menyengat, dan sangat tidak asing. Bau terasi goreng yang bercampur dengan aroma bawang putih yang kuat. Aku menoleh ke belakang dan mataku membelalak.
Salsa sedang duduk bersila di lant**—tepat di tengah-tengah karpet bulu yang baru saja kupesan minggu lalu. Di depannya ada sebungkus nasi rames dengan kuah gulai yang meluap hingga ke pinggir kertas minyak. Ia makan dengan tangan, suapannya besar-besar, dan yang membuat jantungku hampir copot adalah caranyanya meletakkan tulang-tulang ayam langsung di atas plastik alas yang tipis.
"Salsa! Apa-apaan itu? Aku sudah bilang, makan di meja makan di luar atau setidaknya pakai alas yang benar!" seruku, hampir melompat dari kursi.
Salsa mendongak, menjilat ibu jarinya dengan sant**. "Oh, maaf. Di aturan tadi kan cuma tertulis soal menyapu dan membuang sampah. Nggak ada larangan makan nasi padang di lant**, kan? Lagian, aku lapar banget. Butuh energi buat 'disiplin' besok."
Dengan gerakan yang sengaja dibuat ceroboh, ia meraih botol minumnya, namun tangannya yang berminyak seolah 'terpeleset'. Botol itu terguling, airnya tumpah membasahi sudut karpet, dan sebuah tulang rawan ayam meluncur manis ke arah tumpukan buku catatan radiologiku yang terbuka di lant**.
"Aduh, tumpah deh," ucapnya datar, tanpa ada nada penyesalan sedikit pun di wajahnya. Ia justru tersenyum manis—senyum yang menandakan bahwa ini baru saja dimulai.
Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku memutih. Keteraturan yang baru saja kubangun susah payah hancur dalam hitungan detik. Dan saat aku melihat Salsa dengan sengaja mengelap tangannya yang berminyak ke selembar tisu lalu membiarkan tisu itu terbang tertiup angin kipas angin tepat ke arah wajahku, aku tahu bahwa jadwal piket ini bukan akhir dari masalah kami. Ini adalah deklarasi perang.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!