Teman Sekamar Paling Cerewet

Bab 4: Bab 4 - Membuktikan bahwa cara berpakaiannya di kamar t...

Pengaturan Membaca

Udara sejuk dari pendingin ruangan di Kamar 202 menyentuh kulit lenganku begitu aku menutup pintu rapat-rapat. Ritual harian pun dimulai. Aku melepaskan jarum pentul yang menahan hijab segiempatku, membiarkan kain voal itu jatuh ke atas meja belajar, lalu menarik napas panjang seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam berjam-jam.

Namun, kelegaan itu hanya bertahan tiga detik. Begitu aku menarik kaos oblong kebesaran dari dalam lemari dan bersiap melepas pengait di punggungku, aku merasakan sepasang mata tajam sedang mengawasi dari balik tumpukan buku tebal.

"Salsa, kamu baru pulang lima menit yang lalu," suara Arini terdengar datar, namun penuh penekanan. Ia bahkan tidak mendongak dari buku anatominya, tapi aku tahu dia sedang mencatat setiap gerak-gerikku dalam kepalanya yang seorganisir rak obat itu.

"Justru karena itu, Rin. Aku sudah memakai 'baju besi' ini sejak jam tujuh pagi. Tubuhku butuh oksigen," jawabku sambil menarik keluar benda elastis yang menyesakkan itu dari balik kaos, lalu melemparnya sembarangan ke arah gantungan baju. Rasanya luar biasa. Bebas. Ringan.

Arini akhirnya mendongak. Ia meletakkan pulpennya dengan bunyi *tek* yang sengaja dikeraskan. "Pakaian adalah cerminan disiplin diri, Sal. Kalau kamu terbiasa membiarkan dirimu 'longgar' seperti itu di dalam kamar, mentalitasmu akan ikut longgar. Tidak heran meja belajarmu selalu terlihat seperti habis terkena angin puting beliung."

Aku menoleh ke arah mejaku—beberapa sketsa tersebar, tiga buah pulpen tanpa tutup, dan sisa bungkus biskuit. Oke, mungkin dia ada benarnya soal meja. Tapi soal pakaian? Itu ranah yang berbeda.

"Apa hubungannya b** dengan produktivitas?" aku bertanya sambil mengempaskan diri ke kursi belajar, mulai membuka laptop. "Aku tidak sedang memimpin rapat organisasi, aku sedang ingin mengerjakan tugas desain interior. Dan ide-ide kreatifku tidak akan keluar kalau paru-paruku merasa tercekik."

Arini berdiri, berjalan menuju lemari pakaiannya sendiri yang isinya tertata berdasarkan gradasi warna. "Cara kita berpakaian di ruang pribadi menentukan bagaimana kita memperlakukan tanggung jawab. Orang yang berantakan dalam berpakaian biasanya memiliki alur kerja yang kacau. Kamu pikir kenapa dokter harus selalu rapi bahkan saat jaga malam? Karena kerapian adalah bentuk kesiapan mental."

Aku memutar bola mata. Arini selalu punya teori medis atau filosofis untuk segala hal, mulai dari cara memotong kuku sampai cara meletakkan sandal.

"Dengar, Rin," aku berbalik, menghadapnya dengan serius. "Kamar ini adalah satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu menjadi 'Salsabila sang mahasiswi teladan'. Di luar sana, aku harus memastikan tidak ada satu helai rambut pun yang keluar, baju tidak kusut, dan senyum selalu terpasang. Di sini? Aku ingin menjadi manusia. Dan menjadi manusia berarti ingin nyaman."

"Nyaman bukan berarti malas, Salsa," sahutnya pendek. Ia mulai merapikan tumpukan kertas di mejaku tanpa izin. "Lihat ini. Sketsamu tercampur dengan kuitansi laundry. Bagaimana kamu bisa fokus kalau visualmu saja seberantakan ini? Itu cermin dari pikiranmu yang tidak teratur."

Darahku sedikit mendidih. Aku bangkit dan mengambil alih kertas-kertas itu dari tangannya. "Ini bukan berantakan, Arini. Ini namanya *creative chaos*. Aku tahu persis di mana letak sketsa kafe itu, dan aku tahu kuitansi itu ada di sana untuk pengingat. Kamu menganggap kebiasaanku ini sebagai kelemahan, padahal ini caraku bertahan hidup dari tekanan kampus."

Arini menyilangkan tangan di depan dada. Jubah mandinya terikat sempurna, tidak ada lipatan yang salah. "Kita lihat saja. Aku berani bertaruh, dengan gaya hidupmu yang 'sant**' ini, kamu pasti akan melewatkan sesuatu yang penting minggu ini. Karena kekacauan fisik selalu berujung pada kekacauan jadwal."

Aku menyeringai, merasa tertantang. "Oke, mari kita buktikan. Aku akan menyelesaikan proyek desain ruang publik ini dua hari lebih cepat dari tenggat waktu, dengan cara berpakaianku yang 'berantakan' ini, dan hasilnya akan tetap sempurna. Kalau aku berhasil, kamu harus berhenti mengomentari apa yang aku pakai atau tidak aku pakai di dalam kamar ini selama satu bulan penuh."

Arini menatapku dengan tatapan menilai, seolah aku adalah spesimen laboratorium yang menarik. "Setuju. Tapi kalau kamu gagal atau ada satu saja poin penilaian yang meleset karena kamu ceroboh, kamu harus mengikuti jadwal 'kerapian' yang aku buat untukmu. Terma**k merapikan meja ini setiap malam sebelum tidur."

"Sepakat," kataku mantap.

Aku kembali ke depan laptop dengan semangat baru. Aku ingin membuktikan padanya bahwa kebebasan fisik ini justru adalah bahan bakarku. Aku mulai menggerakkan kursor, memadukan warna-warna di layar, merasa sangat ringan tanpa tekanan kawat di dada atau kain ketat yang membatasi gerak.

Satu jam berlalu dalam keheningan yang produktif. Hanya ada bunyi ketikan kibor dan gesekan halaman buku Arini. Aku merasa berada di atas angin. Ide-ide mengalir deras. Aku bahkan sudah menyelesaikan denah dasar yang biasanya memakan waktu seharian.

Namun, ketenangan itu pecah ketika ponselku di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan ma**k dari grup koordinasi mata kuliah.

Aku membukanya dengan sant**, mengira itu hanya info tambahan untuk minggu depan. Detak jantungku tiba-tiba meloncat ke tenggorokan saat membaca barisan kalimat di layar.

*“Teman-teman, maaf ada perubahan mendadak. Dosen tamu dari firma arsitektur pusat ternyata majukan jadwal kunjungannya ke malam ini jam 19.30 untuk melihat progres awal di studio. Harap semua kumpul 15 menit lagi.”*

Aku melirik jam di sudut kanan bawah laptop. 19.10.

Wajahku memucat. Aku melihat ke arah Arini yang masih tenang membaca bukunya, lalu melihat ke arah diriku sendiri—kaos oblong kedodoran tanpa dalaman, rambut berantakan yang hanya diikat asal, dan tumpukan barang yang harus kubawa ke studio dalam waktu singkat.

"Ada masalah?" Arini bertanya tanpa menoleh, suaranya terdengar terlalu tenang, seolah dia sudah memprediksi badai akan datang.

Aku tidak menjawab. Tanganku gemetar mencari jarum pentul yang tadi kulempar sembarangan. Di mana aku meletakkannya tadi? Di bawah tumpukan sketsa? Atau jatuh ke lant**?

Tepat saat itu, pintu kamar kami diketuk dari luar.

"Salsa? Kamu di dalam? Ini Kak Rio, ketua tingkat. Aku disuruh dosen cek anak-anak yang belum sampai di studio. Kamu belum berangkat?"

Suara berat di balik pintu itu membuatku membeku. Aku belum memakai hijab, belum memakai b**, dan kamarku adalah zona perang yang tidak siap menerima tamu—atau bahkan sekadar membiarkan pintunya terbuka sedikit saja.

Arini menutup bukunya perlahan, sebuah senyum tipis yang menyebalkan muncul di sudut bibirnya. "Mau aku bukakan pintunya, Sal? Supaya Kak Rio bisa melihat betapa 'nyaman' dan 'kreatifnya' kamu sekarang?"

Aku menatapnya dengan tatapan memohon, sementara ketukan di pintu terdengar semakin tidak sabar.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca