Sebuah tarikan tajam seolah menghujam tepat di bawah tulang belikatku setiap kali aku mencoba menarik napas panjang. Aku mengaduh pelan, jemariku meraba-raba area punggung yang terasa sekeras papan cucian. Rasanya seperti ada sekumpulan semut api yang sedang berparade di sepanjang saraf tulang belakangku.
Aku merebahkan diri di atas ka**r dengan posisi telungkup, membiarkan wajahku terbenam di bantal yang mulai terasa lembap oleh keringat dingin. Kamar 202 sore itu terasa begitu hening, hanya ada suara gesekan ujung pulpen Arini di atas kertas dan denting tipis kipas angin yang berputar malas. Di balik kenyamanan kaus longgar tanpa penyangga yang biasanya membuatku merasa merdeka, kali ini ada rasa nyeri yang menolak untuk pergi.
"Aduh..." aku mengerang sedikit lebih keras, sengaja agar sosok yang duduk tegak di meja sebelah melirik.
Arini tidak bergeming. Punggungnya yang selalu lurus seperti penggaris besi itu tetap kaku. Rambutnya diikat kuda dengan sangat rapi, tak ada satu helai pun yang berani keluar dari barisan. Dia sedang berkutat dengan buku anatomi setebal bantal, nampak begitu khusyuk seolah dunianya hanya terdiri dari diagram otot dan saraf.
"Rin," panggilku lirih. Suaraku sedikit serak.
"Hm?" Arini menyahut tanpa menoleh. Ujung pulpennya masih menari-nari, mencatat poin-poin penting dengan tulisan tangan yang saking rapinya menyerupai cetakan komputer.
"Punggungku sakit banget. Kayaknya salah urat atau apa gitu. Kamu punya balsam nggak? Atau mungkin minyak kayu putih?"
Arini menghentikan gerakan tangannya. Dia menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar seperti sebuah pengumuman bahwa konsentrasinya baru saja dirampok. Dia berbalik pelan, menatapku dengan kacamata yang meluncur sedikit ke ujung hidungnya. Matanya menyapu penampilanku—rambut berantakan, posisi tidur yang tidak estetis, dan tentu saja, kenyataan bahwa aku sedang tidak memakai b** di balik kaus kebesaran itu.
"Efek postur tubuh yang buruk, Salsa," ucapnya datar, suaranya sedingin es batu di dalam gelas laboratorium. "Kalau kamu terus-terusan membungkuk saat main ponsel atau duduk dengan posisi miring saat belajar, distribusi beban tubuhmu jadi tidak merata. *Musculus trapezius*-mu tegang."
Aku mengerutkan kening, mencoba mencerna istilah medis yang barusan dia lempar. "Iya, aku tahu itu otot. Masalahnya sekarang sakit, Rin. Ada obat atau apa gitu?"
Arini bangkit berdiri, tapi bukan untuk mendekatiku. Dia berjalan ke arah lemarinya yang tersusun sangat terorganisir. Dia mengambil sebuah botol kecil dari kotak P3K miliknya, membacanya sebentar, lalu meletakkannya di pinggir mejaku. Jaraknya sekitar dua meter dari tempatku terbaring.
"Pakai itu. Tapi itu cuma pereda nyeri topikal. Tidak akan menyembuhkan kalau kebiasaanmu tidak diubah," katanya dingin, lalu kembali duduk dan membuka bukunya lagi.
Aku menatap botol kecil itu dengan nanar. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya, dan itu bukan karena nyeri punggung. Aku mengharapkan sedikit empati, mungkin tawaran untuk membantu membalurkan minyak itu di bagian yang tidak bisa kujangkau, atau setidaknya pertanyaan ramah seperti, "Bagian mana yang paling sakit?"
Alih-alih, aku justru mendapatkan kuliah singkat tentang anatomi tubuh.
Dengan sisa-sisa tenaga, aku menyeret tubuhku untuk duduk di pinggir ka**r. Setiap gerakan terasa seperti tarikan kawat berduri di dalam kulit. Aku meraih botol itu. Isinya cairan bening dengan aroma mentol yang sangat menyengat. Aku mencoba meraih punggung tengahku, memutar tangan dengan sudut yang aneh, namun tanganku tak sampai. Rasa sakit itu justru semakin menusuk saat aku mencoba memaksakan gerakan.
"Rin... boleh minta tolong nggak?" tanyaku ragu. Suaraku mencicit. "Tanganku nggak sampai ke bagian yang sakit."
Arini terdiam sesaat. Jemarinya yang memegang pulpen tampak menegang. "Aku sedang mengejar target bacaan untuk kuis besok pagi, Salsa. Dan lagi, aku tidak terbiasa melakukan kontak fisik yang tidak perlu."
Kalimat itu menghujamku lebih telak daripada nyeri punggungku. Aku tertegun, memegang botol minyak itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Di kamar ini, kami hanya berdua. Di luar sana, orang-orang mengenalku sebagai Salsabila yang ceria, mahasiswi ekstrovert yang selalu punya tawa untuk dibagikan. Tapi di sini, di ruang seluas empat kali empat meter ini, aku merasa seperti orang asing yang tak diinginkan.
Aku merasa terisolasi. Kesedihan itu perlahan merayap, menghangatkan pelupuk mataku. Rasanya sangat ironis; aku berbagi rahasia paling pribadiku dengan orang ini—kenyataan bahwa aku benci kekangan pakaian—tapi aku tidak bisa berbagi rasa sakit fisik tanpa merasa seperti sebuah beban yang mengganggu jadwal belajarnya.
"Oh... oke. Maaf ya ganggu," kataku pelan, berusaha menjaga agar suaraku tidak pecah.
Aku kembali berbaring, kali ini memunggungi Arini. Aku memeluk bantal guling erat-erat, mencoba mencari posisi yang tidak terlalu menyiksa. Air mata setetes jatuh tanpa permisi, membasahi kain bantal. Aku merasa sangat kecil. Apakah menjadi disiplin berarti harus membuang rasa kemanusiaan? Apakah menjadi perfeksionis berarti tidak boleh diganggu oleh penderitaan orang lain, bahkan teman sekamarnya sendiri?
Suara gesekan pulpen Arini berhenti lagi. Aku mendengar suara kursi yang bergeser. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang. Apakah dia berubah pikiran? Apakah dia akan mendekat dan menawarkan bantuan?
"Salsa," panggilnya.
Aku tetap diam, pura-pura sudah memejamkan mata meski napas hatiku masih tersengal.
"Kalau besok pagi nyerinya tidak hilang atau malah menjalar sampai ke lengan, kamu harus ke klinik universitas. Ada kemungkinan itu saraf terjepit kalau melihat caramu bergerak tadi."
Hanya itu. Sebuah diagnosa jarak jauh yang dingin. Tidak ada langkah kaki yang mendekat. Yang terdengar kemudian justru suara ritsleting tasnya yang ditarik dengan tegas, lalu suara langkah kakinya yang menjauh menuju pintu.
"Aku mau ke perpustakaan pusat. Di sini terlalu berisik dengan suara keluhanmu," ucapnya pelan sebelum pintu kamar tertutup dengan bunyi *klik* yang final.
Aku sendirian sekarang. Kesunyian kamar 202 tiba-tiba terasa menekan, lebih menyesakkan daripada b** kawat yang paling ketat sekalipun. Aku mencoba bangkit lagi, bertekad untuk mengobati diriku sendiri. Namun, saat aku berusaha memutar tubuh, sebuah sensasi mati rasa tiba-tiba merambat dari punggung bawah hingga ke ujung kaki kananku. Aku tersentak, mencoba menggerakkan jari kakiku, tapi rasanya sangat berat dan asing.
Rasa takut mulai mengalahkan rasa sedihku. Ini bukan sekadar salah urat biasa. Aku menatap pintu kamar yang tertutup rapat, menyadari bahwa Arini sudah pergi dan aku tidak tahu kapan dia akan kembali. Di tengah kepanikan yang mulai naik ke tenggorokan, aku meraih ponselku di atas nakas dengan tangan gemetar, mencari nomor seseorang—siapa pun—yang bisa menolongku sebelum kakiku benar-benar kehilangan rasa sepenuhnya.
Tepat saat aku hendak menekan tombol panggil, pintu kamar terbuka kembali dengan kasar. Bukan Arini yang berdiri di sana, melainkan sosok lain yang sama sekali tidak kuharapkan muncul dalam kondisi seperti ini.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!