Cahaya lampu meja belajarku yang putih kebiruan memantul di atas permukaan buku teks *Grayβs Anatomy*. Aku sedang mendalami saraf spinal, menelusuri diagram rumit yang menjelaskan bagaimana tiap ruas tulang belakang menopang beban tubuh manusia. Di sampingku, segelas kopi hitam yang sudah mendingin menjadi saksi bisu ketekunanku sejak jam tujuh malam tadi. Aku suka keteraturan. Aku suka ketika segala sesuatu berada pada tempatnya, baik itu alat tulis di atas meja maupun etika berpakaian seorang mahasiswi.
Di seberang ruangan, pemandangan kontras tersaji. Salsabila duduk di atas tempat tidurnya dengan posisi yangβmenurut standar medis mana punβakan menghancurkan postur tubuhnya dalam jangka panjang. Ia mengenakan kaus oblong abu-abu yang sudah menipis, sangat longgar hingga bahunya hampir merosot. Rambutnya yang biasanya tertutup jilbab kini terurai berantakan, dan yang paling membuatku risih: ia jelas-jelas kembali mengabaikan fungsi b**.
Aku menarik napas panjang, bersiap melontarkan ceramah rutin tentang disiplin diri dan estetika berpakaian di ruang bersama, meskipun kami hanya berdua. "Salsa, bukankah sudah kubilang berkali-kali? Setidaknya saat ada aku, pakailah pakaian yang... layak. Posturmu juga buruk sekali, kau akan terkena kifosis kalau terus meringkuk begitu."
Salsa tidak membalas dengan ocehan ceria seperti biasanya. Ia hanya bergumam pelan, suaranya terdengar seperti tarikan napas yang tertahan. Tangannya merayap ke belakang punggung, meraba area belikat dengan ekspresi yang menyiratkan rasa sakit yang tajam.
Aku mengernyit. Sebagai mahasiswi kedokteran, instingku bereaksi lebih cepat daripada rasa jengkelku. Aku menutup buku berat itu dengan dentuman pelan dan berdiri. "Salsa? Kau dengar aku?"
Ia menoleh perlahan. Wajahnya agak pucat, dan ada keringat dingin yang membasahi pelipisnya. "Aku dengar, Arin. Tapi jujur saja, saat ini aku tidak peduli soal estetika atau apa pun itu. Punggungku rasanya mau patah."
Aku berjalan mendekat, rasa skeptis masih membayangi pikiranku. "Mungkin karena kau terlalu malas bergerak. Atau ka**rmu yang tidak ergonomis?"
"Bukan itu," bisiknya sambil mencoba menegakkan punggung, namun ia langsung meringis dan kembali membungkuk. "Beban ini... terkadang terlalu berat untuk ditanggung seharian."
Ia melepaskan tangannya dari punggung, dan saat itulah aku melihatnya dengan lebih jelas. Karena kausnya yang tipis dan posisinya yang membungkuk, aku menyadari sesuatu yang selama ini aku abaikan karena terlalu sibuk menghakimi pilihannya untuk tidak menggunakan penyangga. Volume dadanya secara anatomis memang tidak proporsional dengan kerangka tubuhnya yang cenderung mungil.
Aku terdiam. Otakku mulai membolak-balik halaman mental dari bab biomekanika yang baru saja kubaca. *Mammary hypertrophy*. Ketegangan kronis pada otot *trapezius* dan *rhomboid*. Pergeseran titik pusat gravitasi yang memaksa tulang belakang bekerja ekstra keras.
"Salsa, coba berbalik sebentar," kataku, suaraku kini melunak, kehilangan nada ketusnya yang biasa.
Ia menurut dengan enggan. Saat ia berbalik, aku memberanikan diri menyentuh pundaknya. Otot-otot di sana terasa sekeras batu. Aku bisa merasakan simpul-simpul ketegangan yang parah di sepanjang otot paraspinallnya. Di bawah jemariku, tubuhnya bergetar kecil.
"Ini sudah berapa lama?" tanyaku pelan.
"Sejak SMA," jawabnya pelan, matanya menatap lant**. "Makanya aku benci pakai b** yang ketat atau kawat. Rasanya seperti ada tali yang mengiris pundakku dan menarik tulang belakangku sampai melengkung. Kalau di kampus aku terpaksa memakainya agar terlihat 'sopan' seperti maumu, tapi sampai di kamar... aku hanya ingin bernapas tanpa rasa sakit, Rin."
Hening menyergap Kamar 202. Aku menarik tanganku, merasa seolah baru saja menyentuh bara api. Rasa hangat yang menjalar di pipiku bukan karena marah, melainkan malu. Selama berminggu-minggu, aku telah memosisikan diriku sebagai penjaga moral dan kerapian di kamar ini. Aku menganggap pilihannya untuk tampil "sant**" sebagai bentuk kemalasan, ketidakteraturan, atau bahkan pemberontakan terhadap norma.
Aku teringat kembali kata-kata tajam yang pernah kulontarkan padanya. *'Kau berantakan sekali, Salsa.' 'Tolong perhatikan penampilanmu, jangan seperti orang yang baru bangun tidur terus.' 'Disiplin itu dimulai dari cara kita berpakaian.'*
Ternyata, di balik keputusannya yang kuanggap "tidak rapi" itu, ada perjuangan fisik yang nyata. Ia bukan sedang malas; ia sedang mencari bantuan dari rasa sakit yang tak terlihat. Sementara aku, yang membanggakan diri sebagai calon dokter yang empatik, justru menjadi orang pertama yang menambah bebannya dengan penghakiman tanpa henti.
"Kenapa kau tidak bilang?" tanyaku, suaraku nyaris tak terdengar.
Salsa tertawa getir, sebuah suara yang sangat tidak cocok dengan kepribadiannya yang ekstrovert. "Bilang apa? 'Eh Arin, dadaku terlalu besar sampai punggungku sakit, jadi bolehkah aku tidak pakai b** di depanmu?' Kau akan menganggap itu alasan yang dibuat-buat. Kau selalu punya standar tinggi untuk segalanya, Rin. Aku hanya tidak ingin terlihat lebih 'salah' lagi di matamu."
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada diagnosis medis mana pun. Aku melihat ke arah meja belajarku yang rapi, lalu kembali pada Salsa yang masih berusaha memijat tengkuknya sendiri. Kesempurnaan yang kupuja selama ini terasa hambar, bahkan kejam. Aku terlalu sibuk melihat aturan sampai aku lupa melihat manusianya.
Aku berdeham, mencoba mengusir rasa sesak di tenggorokanku. "Tunggu sebentar."
Aku berjalan ke lemariku, membongkar tas medis darurat yang selalu kupersiapkan. Aku mengambil gel pereda nyeri otot dan sebuah bantal pemanas elektrik yang biasanya kugunakan untuk kram perut saat menstruasi.
"Sini, berbaringlah tengkurap," perintahku. Kali ini bukan dengan nada memerintah seorang diktator, tapi lebih kepada instruksi klinis yang hati-hati.
Salsa menatapku ragu. "Arin, kau tidak perluβ"
"Diamlah dan berbaring. Ini perintah medis," potongku, mencoba menyembunyikan rasa bersalah dalam suaraku yang tegas.
Saat ia mulai berbaring, aku menyadari bahwa permintaan maaf saja tidak akan c**up untuk menebus minggu-minggu penuh penghakiman yang kuberikan padanya. Aku mulai mengoleskan gel dingin itu ke punggungnya, merasakan betapa kaku otot-ototnya di bawah kulitnya yang hangat. Pikiran-pikiranku yang biasanya teratur kini berantakan, dipenuhi oleh refleksi tentang betapa piciknya sudut pandangku selama ini.
Aku terus memijat dengan gerakan memutar yang lembut, berusaha mengurai simpul-simpul nyeri itu, sementara pikiranku melayang pada apa yang harus kulakukan mulai besok. Aku tidak bisa terus-terusan menjadi "Arini yang perfeksionis" jika itu artinya menyakiti orang terdekatku.
Namun, sebuah pikiran tiba-tiba melintas di benakku, membuat gerak tanganku terhenti sejenak. Jika Salsa selama ini menahan sakit ini sendirian demi menjaga penampilannya di depanku dan orang lain, apa lagi yang ia sembunyikan dariku? Dan yang lebih menakutkan, bagaimana aku bisa memperbaiki hubungan kami jika pondasinya sudah telanjur retak oleh kata-kataku sendiri?
Salsa menghela napas panjang, tampaknya mulai merasa rileks, tapi keheningan di antara kami kini terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya. Ada sesuatu yang ingin kukatakan, sebuah pengakuan, tapi kata-kata itu tertahan di ujung lidahku saat aku melihat botol obat penahan sakit di atas nakasnya yang selama ini kuanggap hanya vitamin biasa.
"Salsa," panggilku lirih, "obat itu... berapa banyak yang kau minum setiap hari?"
Salsa tidak langsung menjawab. Keheningan yang mengikuti pertanyaanku membuat firasat buruk mulai merayap di dadaku. Apakah aku benar-benar sudah terlambat untuk menyadarinya?
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!