Suara detak jarum jam dinding di Kamar 202 terasa tiga kali lebih keras dari biasanya. Aku duduk di tepi tempat tidur, meremas pinggiran kaus kedodoranku yang malam iniβdengan sangat terpaksaβdilapisi oleh b** olahraga yang menyesakkan. Biasanya, begitu pintu kamar terkunci, benda itu adalah hal pertama yang kulempar ke tumpukan baju kotor. Namun malam ini, ada misi yang lebih besar daripada sekadar membebaskan diri dari jeratan kawat dan busa.
Di seberang ruangan, Arini masih setia dengan punggung tegaknya. Mahasiswi kedokteran itu seolah tidak punya tulang belakang yang bisa melengkung. Ia sedang berkutat dengan tumpukan diktat anatomi, jemarinya lincah menggoreskan *highlighter* neon di atas kertas. Wangi antiseptik dan detergen pemutih selalu menguar dari sisi mejanya, kontras dengan sisi mejaku yang beraroma lilin aromaterapi vanila dan sedikit bau tumpukan cucian yang lupa kulaundry.
"Arin," panggilku pelan. Suaraku nyaris tertelan suara kipas angin.
Arini tidak menoleh. Ujung penanya berhenti sejenak, tapi matanya tetap terpaku pada buku. "Kalau mau pinjam tip-ex, ada di laci kedua. Jangan berantakan naruhnya."
Aku menghela napas, mencoba meredam kejengkelan yang mulai merayap. "Bukan itu. Aku mau ngomong. Serius."
Kali ini, ia berbalik. Kursi belajarnya berderit pelan. Wajahnya yang simetris tampak lelah, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang tajam. Ia menatapku seolah aku adalah spesimen laboratorium yang perlu dianalisis. "Ada masalah apa lagi, Salsa? Apa keran airnya mati? Atau kamu lupa jadwal piket buang sampah lagi?"
"Ini soal kita," kataku, memberanikan diri menatap matanya. "Maksudku, soal suasana di kamar ini. Rasanya aku kayak lagi tinggal di asrama militer, bukan di kos-kosan mahasiswa."
Arini meletakkan penanya dengan posisi sejajar sempurna dengan tepi meja. "Aku hanya menjaga standar minimal kerapian dan kesopanan, Salsa. Itu bukan militer, itu kedisiplinan."
"Tapi standar kamu itu mencekik, Rin!" Aku berdiri, berjalan mendekat namun berhenti di garis imajiner yang memisahkan area kami. "Aku tahu aku berantakan. Aku tahu aku sering naruh kerudung sembarangan. Tapi kamu juga nggak perlu, kan, ngomel tiap kali aku mau napas lega di kamar sendiri? Kadang aku cuma pengin ngelepas b** tanpa harus ngerasa kayak pelaku kriminal yang lagi diint** polisi moral."
Wajah Arini sedikit menegang saat aku menyebut kata 'b**'. Ia memalingkan wajah, menatap ke arah jendela yang tertutup rapat. Ada hening yang canggung selama beberapa detik. Aku berharap dia bakal meledak, berteriak, atau minimal membalas argumenku dengan pedas. Tapi bahunya justru merosot sedikit. Sangat sedikit, tapi aku menyadarinya.
"Kamu pikir aku suka jadi begini?" suaranya tiba-tiba merendah, kehilangan nada otoriter yang biasanya ada.
Aku mengerutkan kening. "Maksud kamu?"
Arini menghela napas panjang, sebuah ekspresi yang jarang sekali ia tunjukkan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, jemarinya saling bertaut di pangkuan. "Di rumahku, nggak ada kata 'nanti'. Ayahku perwira. Jam lima pagi tempat tidur harus sudah tegang, nggak boleh ada satu helai rambut pun di lant** kamar mandi. Kalau aku melanggar, semua buku ceritaku dibakar."
Aku tertegun. Bayangan Arini kecil yang menangis melihat buku-bukunya hangus terbakar hanya karena sehelai rambut melintas di kepalaku. Aku tidak pernah membayangkan ada tekanan seperti itu di balik sifat perfeksionisnya.
"Aku nggak tahu gimana caranya hidup sant** kayak kamu, Salsa," lanjutnya tanpa menatapku. Matanya menerawang ke arah tumpukan buku kedokterannya yang tebal. "Buatku, ketidakteraturan itu tanda kegagalan. Dan kegagalan itu... menakutkan. Jadi, pas aku lihat kamu naruh baju kotor di kursi atau nggak pakai pakaian lengkap di dalam kamar, otakku langsung mikir kalau semuanya bakal berantakan. Aku merasa kehilangan kendali."
Aku merasa dadaku sedikit berdenyut nyeri. Selama ini aku hanya melihat Arini sebagai sosok "polisi kamar" yang menyebalkan, tanpa pernah bertanya kenapa dia begitu terobsesi dengan aturan. Ternyata, kekakuan yang dia tunjukkan adalah perisai, bukan senjata.
Aku melangkah maju, perlahan melewati garis batas itu, dan duduk di lant** di samping kursinya. "Rin, ini Kamar 202. Bukan markas batalyon Ayahmu. Di sini, kalau kamu gagal ngerapiin ka**r, nggak akan ada yang bakar buku kamu."
Arini menoleh ke bawah, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit keraguan di matanya. "Tapi itu sudah jadi kebiasaan, Sal. Susah diubah."
"Kita bisa kompromi," kataku lembut. "Aku bakal berusaha lebih rapi. Aku janji bakal pakai keranjang baju kotor dan nggak akan naruh handuk di atas ka**r lagi. Tapi, tolong... kasih aku ruang buat bernapas. Kasih aku zona nyaman di mana aku bisa jadi Salsabila yang apa adanya, bukan Salsabila yang harus selalu siap tampil di depan publik."
Arini terdiam c**up lama. Ia melihat ke arah sudut kamarku yang masih sedikit berantakan, lalu kembali menatapku. "Zona nyaman, ya?"
"Iya. Dan mungkin, kamu juga bisa coba buat sedikit 'berantakan' bareng aku? Sekali-sekali aja," aku nyengir, mencoba mencairkan suasana.
Arini tidak tersenyum, tapi sudut bibirnya tampak berkedut sedikit. "Aku nggak janji soal 'berantakan' itu. Tapi, aku akan coba buat nggak terlalu... vokal."
"Itu sudah lebih dari c**up," jawabku lega. Rasanya beban di pundakku sedikit terangkat, meski b** olahraga ini masih terasa mencekik.
Kami terdiam lagi, namun kali ini heningnya terasa lebih hangat. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, aku tidak merasa perlu waspada di dekat Arini. Aku merasa kami baru saja meruntuhkan satu lapis tembok yang selama ini memisahkan dua tempat tidur di kamar ini.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba, ponsel Arini yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Sebuah pangg***n video ma**k. Layarnya menyala terang, menampilkan nama "Ayah" dengan foto profil seorang pria berseragam lengkap dengan tatapan yang sangat dingin.
Wajah Arini mendadak pucat pasi. Ia langsung menegakkan punggungnya kembali, seluruh kerapuhan yang tadi sempat terlihat hilang seketika, digantikan oleh topeng disiplin yang kaku. Tangannya gemetar saat ia hendak meraih ponsel itu.
"Salsa, cepat pakai kerudungmu dan menjauh dari jangkauan kamera!" bisik Arini dengan nada panik yang belum pernah kudengar sebelumnya. "Sekarang!"
Aku tersentak. Kepanikan di suaranya membuatku merinding. Tanpa banyak tanya, aku menyambar kerudung instan di atas ka**r dan bersembunyi di balik lemari, sementara Arini menarik napas dalam-dalam seolah sedang bersiap ma**k ke medan perang. Begitu ia menekan tombol hijau, suara bariton yang tegas dan menggelegar langsung memenuhi seisi kamar, membuat suasana yang baru saja melunak kembali membeku seketika.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!