Di kampus, semua orang mengenal Naira Azzahra sebagai perempuan yang tidak pernah tampak berantakan. Hijabnya selalu terpasang rapi, map kuliahnya tersusun berdasarkan warna, dan suaranya tetap lembut bahkan ketika mahasiswa bimbingannya datang terlambat. Tidak banyak yang tahu bahwa menjelang sore, setiap lapisan pakaian yang dikenakannya terasa semakin berat. Tali b** meninggalkan tekanan di bahu. Duduk berjam-jam membuat dadanya sesak dan punggungnya cepat lelah.
Karena itu, kamar 307 di Kos Arunika Residence bukan sekadar tempat tidur. Kamar itu adalah satu-satunya ruang di mana Naira dapat berhenti menahan tubuhnya agar sesuai dengan pandangan orang. Begitu pintu terkunci, ia melepas hijab, mengganti pakaian kampus dengan tanktop katun longgar, dan bernapas lebih dalam. Tidak ada penonton. Tidak ada komentar. Tidak ada keharusan menjelaskan mengapa kenyamanan sederhana terasa begitu penting.
Malam itu ia pulang hampir pukul sepuluh setelah mengajar les bahasa. Lorong lant** tiga sepi, hanya diterangi lampu kuning yang membuat bayangan pintu memanjang. Ketika ia menutup kamar, daun pintu memantul sedikit sebelum kaitnya ma**k. Naira menekan gagang sekali lagi sampai terdengar bunyi klik.
βHarus dilaporin,β gumamnya.
Ia sudah mengatakan hal yang sama selama tiga hari. Namun formulir kerusakan kos tersimpan di ponsel tanpa pernah dikirim. Naira tidak suka merepotkan pengelola. Lagi pula, pintunya masih bisa terkunci jika ditekan kuat. Menurutnya, itu c**up.
Dari kamar sebelah terdengar suara benda berat diletakkan di lant**. Kamar 308 ditempati Damar Pradana, mahasiswa arsitektur yang sering pulang membawa gulungan gambar dan papan maket. Mereka saling mengenal sebatas sapaan di dapur komunal. Damar tenang, tidak banyak berbicara, dan selalu menawarkan bantuan ketika galon air kosong. Naira menyukai caranya tidak memaksa percakapan berlangsung lama.
Ponselnya bergetar. Zahra mengirim pesan bahwa paket buku Naira dititipkan kepada Damar karena petugas kurir datang ketika Naira masih di kampus.
Naira mengetik, βBesok saja kuambil.β Lalu menghapusnya. Paket itu berisi buku untuk kelas pagi dan harus dibawa sebelum pukul delapan.
Ia menatap pintu. Dari balik kayu tipis itu, kamar kos terasa aman karena ada batas yang jelas: sisi dalam miliknya, sisi luar milik orang lain. Naira menekan gagang untuk memastikan kunci sekali lagi. Bunyi klik terdengar, tetapi lebih pelan dari biasanya.
Ia belum tahu bahwa malam itu, kait kecil yang dianggapnya c**up akan mengubah cara ia memandang kamar, tubuhnya sendiri, dan lelaki di sebelah pintu.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!