Di perpustakaan, Naira lebih mudah menjadi dirinya sendiri. Rak buku, meja panjang, dan suara pendingin ruangan tidak menuntut apa pun dari tubuhnya. Ia tahu cara menjelaskan struktur presentasi, memperbaiki kalimat, dan membuat orang lain percaya diri.
Damar datang membawa laptop serta dua kopi. Ia meletakkan salah satunya di sisi meja Naira.
“Tidak terlalu manis,” katanya.
Naira mencicipi dan mengangguk. “Lebih baik.”
Mereka bekerja hampir dua jam. Damar menerima setiap koreksi tanpa mengubahnya menjadi alasan untuk memuji Naira berlebihan. Ketika Naira menjelaskan cara mengatur jeda saat presentasi, Damar memperhatikannya sebagai ahli, bukan sebagai perempuan yang pernah terlihat dalam keadaan privat.
Namun saat perpustakaan mulai sepi, Naira menangkap tatapan Damar berhenti sedikit lebih lama. Ia langsung menarik cardigan.
Damar menunduk pada layar.
“Mas,” kata Naira.
“Iya?”
“Jangan tatap saya berbeda.”
Damar menutup laptop perlahan. “Aku minta maaf. Tadi aku sedang memperhatikan cara kamu menjelaskan.”
“Saya tidak tahu kapan tatapan biasa berubah menjadi penilaian.”
“Aku mengerti.”
“Tidak, Mas belum tentu mengerti.” Suara Naira bergetar, tetapi ia tidak berhenti. “Sejak malam itu, saya selalu berpikir mungkin Mas mengingat apa yang saya pakai. Mungkin Mas membandingkan saya di kampus dengan saya di kamar. Saya tidak ingin tubuh saya menjadi percakapan diam-diam.”
Damar menahan napas. “Aku tidak akan mengomentari tubuhmu.”
“Bukan hanya komentar. Tatapan juga bisa membuat orang merasa dinilai.”
Ia mengangguk. “Kamu benar.”
Naira mengira Damar akan menjelaskan bahwa ia tidak melihat lama atau tidak mengingat det**l. Sebaliknya, lelaki itu berkata, “Aku melihat kesalahanku, bukan tubuhmu.”
Kalimat itu membuat Naira terdiam.
Damar melanjutkan, “Aku tahu itu tidak membuatmu otomatis percaya. Aku hanya bisa memastikan tindakanku tidak menjadikan kejadian itu milikku.”
“Milik Mas?”
“Cerita itu tentang batasmu yang kulanggar. Bukan tentang apa yang sempat kulihat.”
Naira menatap meja. Selama berminggu-minggu, ia takut Damar menyimpan gambaran dirinya. Ia baru menyadari bahwa lelaki itu berusaha menyimpan hal yang berbeda: tanggung jawab.
Mereka kembali bekerja, tetapi suasananya berubah. Naira tidak lagi menarik cardigan sampai menutupi kedua telapak tangannya. Ketika Damar bertanya apakah satu kalimat presentasi terdengar jujur, Naira berkata, “Terlalu aman. Mas bisa lebih langsung.”
Damar tersenyum tipis. “Nasihat itu untuk presentasi saja?”
Naira menahan senyum. “Untuk sekarang, iya.”
Saat mereka berpisah di depan perpustakaan, Damar menjaga jarak seperti biasa. Naira berjalan beberapa langkah, lalu menoleh.
Damar masih berdiri di sana, tetapi tatapannya tidak membuat Naira ingin menutup diri. Untuk pertama kalinya, ia merasa dilihat tanpa merasa dijadikan tontonan.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!