Damar sudah memperhatikan Naira jauh sebelum malam pintu 307 terbuka.
Ia pertama kali mendengar suara Naira di balkon tiga bulan lalu. Perempuan itu sedang mengajar seorang murid melalui pangg***n video, menjelaskan cara mengucapkan kalimat sulit dengan sabar. Damar tidak melihat wajahnya saat itu. Ia hanya mendengar ketenangan yang membuat lorong kos terasa lebih ringan.
Setelahnya, ia mulai mengenali Naira di kampus: hijab warna lembut, map hijau, langkah cepat menuju perpustakaan. Ia pernah ingin menyapa lebih lama, tetapi pengalaman lama membuatnya berhati-hati. Tahun sebelumnya, seseorang menuduh Damar memberi perhatian khusus kepada junior. Meskipun tuduhan itu tidak terbukti, ia belajar bahwa posisi senior dapat membuat keramahan biasa terasa seperti tekanan.
Karena itu Damar memilih diam.
Diam ternyata tidak selalu menjadi pilihan paling aman.
Sore itu, setelah sesi perpustakaan, Damar meminta bertemu di balkon. Ia berdiri di dekat pagar, sementara Naira duduk pada bangku yang sama seperti minggu lalu.
“Ada yang perlu kukatakan,” katanya. “Tapi kamu boleh menghentikanku kapan saja.”
Naira mengangguk.
“Aku tertarik padamu sebelum malam itu.”
Wajah Naira tidak berubah, tetapi tangannya mencengkeram ujung cardigan.
Damar melanjutkan, “Bukan karena melihatmu di kamar. Aku sudah memperhatikan caramu mengajar, caramu membantu Bu Sari membawa barang, dan bagaimana kamu selalu mengembalikan kursi ke tempatnya.”
“Kenapa baru bilang sekarang?”
“Karena aku takut pengakuan ini terdengar seperti cara mengubah kesalahanku menjadi cerita romantis.”
“Memang bisa terdengar begitu.”
“Aku tahu.”
Naira berdiri. “Mas Damar ingin saya merasa lebih baik karena ketertarikan itu sudah ada?”
“Tidak. Aku ingin kamu tahu bahwa semua kebaikan setelah insiden bukan karena rasa ingin tahu tentang tubuhmu. Tapi ketertarikanku juga tidak menghapus pelanggaran.”
Hujan tipis mulai turun di luar balkon. Naira memandang lant** basah.
“Saya tidak tahu harus merasa apa,” katanya.
“Kamu tidak harus menjawab.”
“Kalau saya bilang saya juga pernah memperhatikan Mas?”
Jantung Damar berdegup, tetapi ia tidak bergerak mendekat. “Aku akan mendengarkan.”
Naira menatapnya. “Saya suka cara Mas membantu orang tanpa banyak bicara. Sebelum semua ini.”
Damar ingin tersenyum, tetapi menahannya. Pengakuan itu bukan hadiah. Itu kepercayaan kecil yang bisa ditarik kapan saja.
“Terima kasih sudah jujur,” katanya.
“Jangan membuat saya menyesal.”
“Aku akan berusaha.”
Naira menggeleng. “Bukan berusaha membuat saya memilih Mas. Berusaha tetap menghormati batas meskipun ternyata kita saling suka.”
Damar menerima kalimat itu seperti aturan baru. “Baik.”
Saat Naira kembali ke kamar, Damar mengetuk dinding dua kali. Naira membalas sekali, lalu dua kali lagi.
Di antara mereka ada ketertarikan yang nyata. Namun kali ini, Damar memahami bahwa rasa suka bukan kunci yang dapat membuka pintu. Ia hanya alasan untuk belajar menunggu di luar dengan lebih jujur.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!