Naira tidak langsung percaya pada pengakuan Damar. Selama beberapa hari, ia mengamati apakah sikap lelaki itu berubah menjadi lebih berani setelah mengetahui perasaan mereka dua arah.
Tidak ada perubahan yang membuatnya merasa terdesak.
Damar tetap mengetuk tiga kali. Tetap menunggu. Tetap tidak berdiri di depan pintu tanpa pesan. Di kampus, ia tidak mencari kesempatan duduk terlalu dekat. Ia hanya mengirim revisi presentasi dan bertanya apakah Naira bersedia memeriksa bagian pembuka.
Mereka bertemu di perpustakaan. Damar mempresentasikan rancangan rumah singgah mahasiswa, sementara Naira mencatat bagian yang terlalu teknis.
“Kalimat ini terdengar seperti laporan kontraktor,” katanya.
“Aku mahasiswa arsitektur.”
“Audiens Mas bukan dinding.”
Damar tertawa kecil. “Baik, Bu Tutor.”
Naira ikut tersenyum. Ia menyadari sudah lama tidak tertawa bersamanya tanpa rasa bersalah mengikuti.
Setelah sesi selesai, Damar menyerahkan formulir permintaan bantuan presentasi dari komunitas kampus. Nama Naira tercantum sebagai konsultan bahasa dengan honor resmi.
“Kenapa pakai formulir?” tanya Naira.
“Supaya bantuanmu dihargai sebagai pekerjaan, bukan alasan agar kita sering bertemu.”
Naira membaca setiap kolom. Tidak ada nada kasihan. Tidak ada keuntungan yang diberikan karena insiden. Damar memperlakukannya sebagai seseorang yang kompeten.
“Saya terima,” katanya.
Damar mengangguk. “Terima kasih.”
Di luar perpustakaan, mereka membeli makan di kantin. Nadia, senior komunitas presentasi, menyapa Damar dengan akrab dan berdiri c**up dekat. Naira merasakan sesuatu yang tidak nyaman, lalu merasa malu karena cemburu pada saat hubungan mereka belum memiliki nama.
Damar memperkenalkan Naira sebagai konsultan bahasa untuk presentasinya. Tidak lebih, tidak kurang.
Setelah Nadia pergi, Damar bertanya, “Kamu tidak nyaman?”
Naira hampir menyangkal. “Sedikit.”
“Karena Nadia?”
“Saya tidak punya hak cemburu.”
“Perasaan tidak selalu butuh hak.” Damar berhenti sebelum melanjutkan. “Tapi aku tidak akan memakai perasaanmu untuk menuntut sesuatu.”
Naira menatapnya. “Mas selalu bicara seperti sedang menyusun aturan.”
“Aku takut salah.”
“Takut itu baik kalau membuat Mas berhati-hati. Tapi jangan sampai saya hanya mengenal rasa takut Mas.”
Damar mengangguk perlahan. “Aku suka kamu. Bukan karena kasihan. Bukan karena merasa bersalah. Aku juga tetap bersalah atas malam itu.”
Naira menarik napas. Kalimat tersebut tidak menyelesaikan semuanya, tetapi memisahkan dua hal yang selama ini bercampur dalam pikirannya: pelanggaran dan ketertarikan.
Saat kembali ke kos, Damar tidak mengantar sampai pintu. Ia berhenti di tangga.
Naira melanjutkan sendiri. Di depan kamar 307, ia melihat stiker tiga ketukan dan menyadari sesuatu: rasa aman tidak kembali karena ia melupakan kesalahan Damar. Rasa aman tumbuh karena kesalahan itu terus diakui tanpa dipakai untuk mengendalikan masa depan mereka.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!