Foto itu pertama kali muncul di akun gosip kampus pada Selasa malam.
Gambar tersebut menampilkan Damar berdiri di depan pintu 307 dengan paket di tangan. Sudut kamera membuatnya terlihat seperti hendak ma**k. Waktu pada tangkapan layar menunjukkan 22.47. Caption-nya singkat: TETANGGA SPESIAL HABIS JAM MALAM?
Naira melihat unggahan itu saat sedang memeriksa presentasi Damar. Jarinya membeku di atas layar. Tidak ada foto dirinya. Tidak ada bagian dalam kamar. Namun nomor pintu terlihat jelas, begitu juga wajah Damar.
Dalam beberapa menit, komentar mulai bermunculan.
“Sering ma**k, ya?”
“Pantes anak kos lant** tiga bilang ada yang aneh.”
“Itu kamar cewek berhijab yang tutor bahasa, kan?”
Naira menutup aplikasi. Dadanya terasa sesak seperti ketika ia memakai pakaian terlalu ketat seharian. Kali ini tekanan itu datang dari kata-kata orang yang tidak pernah berada di lorong malam itu.
Damar mengirim pesan: “Aku sudah lihat. Aku tidak akan bicara atau membuat klarifikasi tanpa izinmu.”
Naira menghargai kalimat itu, tetapi tidak bisa menjawab. Ia menghubungi Zahra dan meminta ditemani ke ruang pengelola.
Bu Sari terkejut foto kamera koridor dapat keluar. Hanya pengelola dan ketua perwakilan penghuni yang seharusnya memiliki akses. Namun ketika Naira meminta log, Bu Sari berkata perlu waktu.
“Mungkin ini hanya foto dari ponsel penghuni,” katanya.
“Sudutnya dari kamera atas,” jawab Naira. Suaranya gemetar, tetapi ia tetap menatap. “Dan waktu di pojok layar sama dengan sistem CCTV.”
Rani, ketua penghuni, mencoba menenangkan suasana. “Kita bisa meminta akun gosip menghapusnya.”
“Menghapus unggahan tidak menjawab siapa yang mengambilnya.”
Naira terkejut mendengar ketegasan dalam suaranya sendiri.
Di lorong, Tessa berdiri bersama dua penghuni lain, berpura-pura baru mengetahui kabar. Ia mengatakan rumor akan cepat hilang jika Naira tidak menanggapinya.
“Semakin dijelaskan, semakin orang penasaran,” katanya.
Naira memandang Tessa. “Penasaran tentang apa?”
Tessa mengangkat bahu. “Tentang kenapa Damar berdiri di depan kamar kamu malam-malam.”
“Ia membawa paket.”
“Orang lain tidak tahu itu.”
“Maka seharusnya orang yang punya rekaman lengkap tidak memotong konteks.”
Tessa tersenyum tipis lalu pergi.
Malam itu Naira mengunci pintu dan duduk di lant**. Kamar 307 kembali terasa seperti kotak yang sedang diawasi, meskipun tidak ada kamera di dalam. Ia memeriksa sudut langit-langit, jendela, dan ventilasi, berusaha meyakinkan diri bahwa ruang privatnya tidak pernah direkam.
Pukul 00.17, Damar mengetuk dinding dua kali. Naira tidak membalas.
Ponselnya menyala dengan pesan baru.
“Aku di kamar. Aku tidak akan mendekat. Kalau kamu butuh saksi tentang malam itu, aku akan mengikuti caramu.”
Naira membaca pesan tersebut sampai layar redup.
Di luar, unggahan itu terus menyebar. Sebuah foto tanpa tubuhnya telah berhasil membuat seluruh kampus merasa berhak membayangkan apa yang terjadi di balik pintu.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!