Keesokan paginya, rumor berubah bentuk.
Seseorang menulis bahwa Damar pernah “memergoki” Naira dalam pakaian tidak pantas. Tidak ada foto. Tidak ada saksi. Hanya satu komentar anonim yang kemudian disalin akun lain. Kata tanktop muncul, disert** dugaan bahwa Naira sengaja membiarkan pintu terbuka.
Naira membaca komentar itu di kamar Zahra. Ia tidak tahu dari mana orang mendapatkan kata tersebut. Damar tidak pernah menceritakan insiden. Zahra menjaga rahasianya. Mungkin orang hanya menebak dan kebetulan benar. Namun kebenaran kecil yang lahir dari spekulasi terasa lebih menakutkan daripada kebohongan penuh.
“Kamu tidak perlu membuktikan apa yang kamu pakai,” kata Zahra.
“Tapi mereka menyebut hijabku.” Naira menahan air mata. “Seolah-olah kalau saya berpakaian nyaman di kamar, semua yang saya lakukan di luar jadi palsu.”
“Hijabmu bukan kontrak agar orang lain boleh ma**k kamar.”
Kalimat itu membuat rasa malu Naira berubah menjadi marah.
Di kampus, Dr. Maya memanggilnya. Pembimbing magang itu menunjukkan email anonim yang mempertanyakan “integritas pribadi” Naira. Dr. Maya tidak percaya begitu saja, tetapi institusi meminta klarifikasi karena Naira akan ditempatkan sebagai tutor di sekolah mitra.
“Kamu tidak perlu menceritakan pakaian atau tubuhmu,” kata Dr. Maya. “Saya hanya perlu tahu apakah ada risiko keamanan atau pelanggaran di tempat tinggalmu.”
Naira menarik napas. Ia menjelaskan pintu rusak, Damar ma**k tanpa mengetuk, langsung keluar, dan foto koridor disebarkan tanpa izin. Ia tidak menyebut tanktop.
Dr. Maya mencatat. “Masalahnya adalah akses kamar dan kamera. Bukan pakaian.”
Untuk pertama kalinya sejak unggahan menyebar, Naira merasa ada orang dewasa yang tidak meminta tubuhnya menjadi bukti.
Namun ketika keluar dari ruang dosen, dua mahasiswa berhenti berbicara saat melihatnya. Naira menarik cardigan lebih rapat meskipun udara panas. Ia membenci bagaimana rasa malu membuatnya kembali menghukum tubuh sendiri.
Damar menunggu di ujung koridor kampus setelah meminta izin melalui pesan. Ia tidak mendekat.
“Aku bisa membuat pernyataan,” katanya. “Mengakui aku ma**k tanpa mengetuk dan menegaskan tidak ada hal lain.”
“Tidak.”
“Baik.”
Jawaban cepat itu membuat Naira menatapnya. “Mas tidak akan membantah?”
“Kamu sudah bilang tidak.”
“Saya marah.”
“Kamu berhak.”
“Saya juga takut kalau diam, mereka akan terus membuat cerita.”
Damar tetap berdiri di tempat. “Aku akan membantu jika kamu meminta. Tapi aku tidak akan mengambil mikrofon dari tanganmu.”
Naira merasakan sesuatu mengeras di dalam dirinya. Bukan kebencian, melainkan keberanian yang selama ini ia gunakan untuk membela orang lain.
“Besok saya akan meminta log kamera,” katanya. “Secara tertulis.”
“Aku akan memberikan kesaksian kalau kamu mengizinkan.”
“Nanti saya beri tahu.”
Naira berjalan pergi tanpa menunggu Damar. Rasa malu masih ada, tetapi sekarang ia tahu rasa itu bukan perintah untuk diam.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!