Damar ingin melakukan sesuatu yang besar.
Ia menulis pernyataan panjang, mengakui kelalaiannya, menjelaskan paket, dan menyatakan bahwa tidak pernah ada hubungan tersembunyi di kamar 307. Reza membaca draf tersebut lalu menutup laptop.
“Ini masih tentang kamu,” katanya.
“Aku sedang bertanggung jawab.”
“Kamu sedang berusaha mengendalikan rumor agar Naira cepat aman dan kamu cepat merasa berguna.”
Damar menatap layar. Ia membenci bahwa Reza benar.
Naira datang ke balkon sore itu setelah mengirim pesan bahwa ia bersedia bicara. Damar membawa draf pernyataan, tetapi tidak langsung menunjukkannya.
“Aku punya opsi klarifikasi,” katanya. “Hanya jika kamu ingin melihat.”
“Saya tidak butuh Mas menyelamatkan saya.”
“Aku tahu.”
“Kalau Mas tahu, kenapa menulis pernyataan tanpa bertanya?”
Damar tidak membela diri. “Karena aku panik. Aku merasa harus memperbaiki semuanya.”
“Mas tidak bisa memperbaiki tubuh saya, reputasi saya, atau rasa aman saya seperti memperbaiki engsel.”
Kalimat itu menusuk, tetapi Damar menerimanya. “Benar.”
Naira menatap hujan di luar balkon. “Saya butuh waktu satu hari untuk menentukan cara melawan. Selama itu, jangan menghubungi akun gosip, jangan bicara di grup, dan jangan mendatangi pintu saya.”
“Baik.”
“Kalau pengelola memanggil Mas?”
“Aku akan menjawab fakta dan mengatakan bahwa keputusan publik harus menunggu persetujuanmu.”
Naira menatapnya lama. “Mas menerima kalau cara saya membuat Mas terlihat buruk?”
“Aku memang melakukan kesalahan.”
“Dan kalau saya tidak memaafkan?”
Damar mema**kkan tangan ke saku agar tidak bergerak mendekat. “Aku tetap harus melakukan hal yang benar.”
Wajah Naira melunak sedikit, tetapi ia tidak memberi jawaban lain.
Malamnya, Damar menerima surat peringatan sementara dari pengelola. Ia dilarang berada di depan kamar 307 tanpa pangg***n tertulis dan diminta memberikan kesaksian resmi. Damar menandatanganinya. Tidak ada usaha meminta keringanan.
Ia juga menemukan sesuatu pada portal penghuni: akses kamera pukul 22.47 dibuka dari laptop bersama di ruang pengelola. Damar mengambil tangkapan layar halaman log, tetapi tidak mengirim file mentah kepada Naira. Ia hanya mengirim lokasi menu dan cara memintanya secara resmi.
“Aku menemukan bagian log yang mungkin relevan. Aku tidak mengunduh data pribadimu. Menu: Dashboard—Kamera—Riwayat Akses.”
Pesan itu terkirim, lalu Damar mematikan ponsel.
Di kamar sebelah, tidak ada balasan. Ia mendengar Naira mengemas beberapa barang. Beberapa menit kemudian pintu 307 terbuka, langkah Naira dan Zahra menuju tangga.
Damar tidak keluar. Ia berdiri di tengah kamar 308, memahami bahwa menerima konsekuensi berarti membiarkan Naira pergi mencari ruang aman tanpa menjadikan kepergiannya sebagai hukuman terhadap dirinya.
Untuk pertama kalinya, Damar tidak mencoba menyelesaikan apa pun. Ia hanya menunggu keputusan yang bukan miliknya.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!