Naira pindah sementara ke kamar Zahra di lant** dua.
Ia membawa pakaian kuliah, laptop, buku, dan satu cardigan hijau. Tanktop krem ditinggalkan di laci kamar 307. Bukan karena ia malu memakainya, tetapi karena ia tidak sanggup kembali ke ruang yang membuatnya terus mendengar suara pintu terbuka.
Kamar Zahra lebih kecil. Mereka tidur bergantian di ranjang dan ka**r lipat. Zahra tidak mengeluh ketika Naira terbangun malam-malam untuk memeriksa kunci.
“Kamu boleh tinggal selama yang dibutuhkan,” katanya.
Naira berhenti mengajar sesi malam. Ia takut murid atau orang tua mereka melihat unggahan. Beasiswa belum dicabut, tetapi rekomendasi magang ditahan sampai laporan keamanan kos selesai. Setiap bagian hidupnya seolah menunggu keputusan dari orang lain.
Damar tidak menghubunginya lagi setelah mengirim petunjuk log. Ketiadaan pesan itu seharusnya membuat Naira tenang. Sebaliknya, ia merasakan ruang kosong yang sulit diakui.
“Kamu kangen dia?” tanya Zahra.
“Saya kangen merasa normal.”
“Dua hal itu bisa terjadi bersamaan.”
Naira tidak menjawab.
Ia mengajukan permintaan log akses kepada Bu Sari. Pengelola awalnya meminta Naira datang bersama Damar agar laporan dianggap lengkap. Naira menolak.
“Laporan privasi saya tidak bergantung pada hubungan dengan penghuni lain,” katanya. “Saya meminta data kamera yang menyimpan aktivitas di depan kamar saya.”
Bu Sari akhirnya setuju memproses permintaan.
Di kampus, Naira melihat Damar dari kejauhan. Lelaki itu berjalan bersama Reza, membawa maket besar. Ketika tatapan mereka bertemu, Damar berhenti tetapi tidak mendekat. Ia hanya menundukkan kepala sebentar.
Naira membalas anggukan kecil.
Malamnya, ia menangis tanpa suara. Bukan karena cinta yang gagal, melainkan karena semua pilihan terasa dicuri dari tangannya. Damar pernah membuka pintu tanpa izin. Tessa atau siapa pun di balik akun gosip mengambil foto tanpa izin. Kampus meminta klarifikasi seolah ruang privat adalah ujian moral.
Naira membuka formulir laporan dan menulis ulang kronologi dengan bahasanya sendiri. Ia tidak menyebut ukuran tubuh, b**, atau tanktop. Ia menulis: “Saya berada di kamar pribadi dengan pakaian rumah. Pakaian tersebut tidak relevan terhadap pelanggaran akses pintu dan penyebaran tangkapan kamera.”
Ia menambahkan permintaan: audit dashboard, penggantian kunci, pembatasan hak akses, dan sanksi terhadap penyebar data.
Setelah menekan kirim, Naira membuka pesan terakhir Damar.
Tidak ada kalimat “aku merindukanmu”. Tidak ada tuntutan untuk bertemu. Hanya lokasi log yang dapat membantunya berdiri sendiri.
Naira mengetik, “Saya sudah mengajukan laporan.” Ia hampir mengirim, lalu berhenti. Hari itu ia belum siap membuka komunikasi.
Ia menyimpan draf tanpa menghapusnya.
Kadang-kadang, memilih diam bukan berarti kembali bersembunyi. Kadang diam adalah ruang untuk mengumpulkan suara sebelum menggunakannya.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!