Bu Sari mengundang Naira ke ruang pengelola tiga hari kemudian. Zahra ikut sebagai pendamping.
Dashboard kamera menampilkan riwayat akses yang lebih rinci daripada dugaan mereka. Pada malam insiden, akun pengelola dibuka pukul 22.46 dari laptop bersama. Kamera lant** tiga diputar ulang mulai pukul 22.47. Tangkapan layar disimpan pukul 22.51, empat menit setelah Damar kembali ke kamarnya.
Nama akun pada log adalah milik Bu Sari, tetapi alamat perangkat menunjukkan laptop ruang pengelola.
“Laptop itu bisa dipakai siapa saja saat rapat penghuni,” kata Bu Sari, wajahnya pucat.
“Siapa yang berada di sini malam itu?” tanya Naira.
Daftar kartu akses menunjukkan tiga orang: Bu Sari, Rani, dan Tessa. Bu Sari pulang pukul sembilan. Rani mengaku hanya mengambil dokumen. Tessa bertugas mengunggah informasi kebersihan dari laptop bersama.
Bu Sari tampak ingin menyebutnya salah paham. Naira meletakkan salinan laporan di meja.
“Seseorang menggunakan akun yang tersimpan untuk membuka rekaman koridor dan mengambil gambar aktivitas di depan kamar saya. Itu bukan salah paham.”
Zahra menggenggam tangannya di bawah meja.
Rani ma**k beberapa menit kemudian. Ia mengaku pernah memberi Tessa akses untuk mengunggah pengumuman. Tessa mengelola akun komunitas kos dan sering membicarakan engagement. Potongan-potongan fakta mulai tersusun.
Namun Bu Sari masih berhati-hati. “Kita tidak boleh menuduh tanpa bukti bahwa dia menyebarkan.”
“Saya setuju.” Naira menatap log. “Karena itu saya meminta proses etik tertutup dan pemeriksaan perangkat berdasarkan aturan kos.”
Bu Sari menawarkan forum dua hari kemudian. Naira boleh membawa pendamping dan memilih apakah Damar hadir.
Di luar ruang pengelola, Zahra memeluk Naira. “Kamu hebat.”
Naira menggeleng. “Saya takut.”
“Berani bukan berarti tidak takut.”
Naira akhirnya mengirim pesan kepada Damar.
“Saya sudah menemukan log 22.47. Forum etik dua hari lagi. Saya mengizinkan Mas hadir sebagai saksi. Jangan bicara menggantikan saya.”
Balasan datang beberapa menit kemudian.
“Baik. Aku akan menjawab hanya yang ditanyakan. Terima kasih sudah memberi tahu.”
Tidak ada pertanyaan tentang kapan mereka akan bicara sebagai dua orang yang saling menyukai. Damar menerima peran yang diberikan: saksi, bukan penyelamat.
Malam itu Naira kembali ke depan kamar 307 ditemani Zahra untuk mengambil pakaian. Kunci lama masih terpasang. Ia membuka pintu, menyalakan lampu, dan melihat tanktop krem di laci.
Naira mengangkatnya. Kain itu tidak bersalah. Tubuhnya juga tidak.
Ia mema**kkan tanktop ke tas dan menutup laci dengan tenang.
Ketika keluar, pintu 308 tetap tertutup. Dari balik dinding terdengar dua ketukan pelan. Naira membalas dua kali.
Ia belum kembali tinggal di kamar itu. Namun untuk pertama kalinya sejak rumor menyebar, Naira merasa bahwa jalur pulang mulai terbuka.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!