Damar menonton rekaman penuh untuk pertama kali di ruang pengelola.
Gambar hitam-putih memperlihatkan dirinya berjalan membawa paket, berhenti di depan kamar 307, berbicara singkat, lalu menyentuh gagang. Pintu terbuka. Tubuhnya tampak membeku kurang dari dua detik sebelum mundur dan menarik pintu dari luar.
Rekaman itu membuktikan rumor tentang kunjungan panjang tidak benar. Namun Damar tidak merasa dibebaskan.
“Saya tetap ma**k tanpa mengetuk,” katanya kepada Bu Sari. “Rekaman lengkap tidak menghapus itu.”
Bu Sari mencatat pernyataannya. Damar menerima sanksi tertulis, kewajiban mengikuti pelatihan privasi penghuni, dan larangan berada di depan kamar 307 sampai Naira mencabutnya. Ia tidak meminta masa sanksi dipersingkat.
Tessa hadir bersama Rani. Ia mengatakan hanya membuka kamera untuk memeriksa gangguan pintu. Ketika ditanya mengapa tangkapan layar tersimpan, Tessa menyalahkan fitur otomatis. Ahli teknis menunjukkan bahwa tombol simpan harus ditekan manual.
“Saya tidak menyebarkan ke akun kampus,” kata Tessa. “Banyak orang bisa melihat laptop.”
Damar ingin menekan pertanyaan lebih jauh, tetapi mengingat pesan Naira. Ia menunggu.
Naira ma**k bersama Zahra. Damar berdiri, lalu mengambil posisi dua meter dari pintu. Naira duduk tanpa menatapnya lama.
Ketika gilirannya bersaksi, Damar menjelaskan paket, a**msi yang salah, kait pintu, dan tindakannya setelah insiden. Ia tidak menyebut pakaian Naira.
Tessa bertanya, “Tapi kamu melihat sesuatu yang membuat Naira malu, kan?”
Damar menatap Bu Sari, bukan Tessa. “Yang saya lihat tidak relevan. Saya mema**ki ruang pribadi tanpa izin. Itu fakta yang relevan.”
Naira mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu sebentar.
Damar melanjutkan, “Saya juga sudah tertarik kepada Naira sebelum malam itu. Ketertarikan tersebut tidak memberi saya hak apa pun dan tidak mengurangi kesalahan saya.”
Bu Sari meminta Damar keluar setelah kesaksian. Di lorong, ia menunggu jauh dari pintu ruang pengelola. Reza menemaninya.
“Kamu sudah melakukan bagianmu,” kata Reza.
“Belum. Bagian Naira yang penting.”
Dari dalam ruangan terdengar suara Naira, lebih tegas daripada yang pernah Damar dengar. Ia tidak bisa menangkap seluruh kata, hanya beberapa: akses, izin, kamera, pakaian tidak relevan.
Damar menunduk. Ia menyukai suara itu sejak sebelum pintu terbuka. Sekarang ia memahami bahwa mencint** Naira berarti membiarkan suaranya memenuhi ruangan tanpa berusaha menjadi gema yang lebih keras.
Ketika Naira keluar, Damar tidak mendekat.
“Terima kasih sudah menjawab fakta,” katanya.
“Terima kasih sudah mengizinkanku hadir.”
“Sanksinya?”
“Aku terima.”
Naira mengangguk. “Bagus.”
Ia pergi bersama Zahra. Damar tetap di tempat, tidak kecewa karena tidak mendapat senyum atau pengampunan. Hari itu, ia akhirnya belajar bahwa perubahan bukan dinilai dari seberapa cepat seseorang diizinkan ma**k kembali, melainkan dari kesediaannya menunggu sekalipun pintu mungkin tidak pernah dibuka.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!