Pukul 22.31, Naira menyalakan kipas meja dan duduk bersila di depan laptop. Tanktop krem yang dipakainya longgar dan lembut, c**up untuk membuat bahu serta punggungnya tidak lagi terasa ditarik. Hijab dan cardigan hijau digantung di samping lemari. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia bisa menarik napas tanpa merasa tubuhnya sedang dihukum oleh pakaian.
Ia mencoba menyelesaikan bahan pengajaran, tetapi pikirannya terus kembali pada paket yang berada di kamar sebelah. Besok ada sesi presentasi magang. Buku di dalam paket itu memuat contoh materi yang belum sempat ia salin. Naira menimbang dua pilihan: memakai kembali pakaian lengkap dan mengetuk pintu Damar, atau meminta lelaki itu meletakkan paket di depan kamarnya.
Pilihan kedua terasa lebih aman.
Ia membuka ruang pesan. Nomor Damar tersimpan dari grup penghuni kos, tetapi mereka belum pernah berkirim pesan pribadi.
“Mas Damar, maaf mengganggu. Paket buku saya katanya dititipkan ke Mas. Bisa diletakkan di depan pintu 307? Saya ambil setelah Mas ma**k kamar.”
Naira membaca kalimat itu tiga kali. Terlalu kaku. Ia mengganti “Mas” menjadi “Kak”, lalu mengembalikannya lagi karena di kos semua orang memanggil Damar dengan “Mas”. Sebelum sempat mengirim, suara langkah terdengar dari lorong. Langkah itu berhenti tepat di depan kamarnya.
Naira membeku.
Mungkin Damar sudah membaca pesan Zahra. Mungkin ia hendak meletakkan paket. Naira menarik cardigan dari gantungan, tetapi salah satu lengannya tersangkut di sandaran kursi. Ia mendengar suara plastik bergesekan, lalu gagang pintu bergerak pelan.
“Naira?” suara Damar terdengar dari luar.
Ia hendak menjawab, tetapi tenggorokannya kering. “Iya, sebentar.”
Di layar ponsel, pesannya masih belum terkirim.
Gagang pintu kembali diam. Naira berhasil menarik cardigan, namun kainnya terbalik. Ia tidak ingin membuka pintu. Ia hanya ingin Damar meletakkan paket dan pergi. Sambil menahan ujung tanktop di dekat pinggang, ia mendekati pintu dan berkata lebih keras, “Taruh di luar saja, Mas.”
Tidak ada jawaban.
Naira menunggu. Suara langkah tidak menjauh. Sebaliknya, terdengar ketukan kecil pada daun pintu—bukan ketukan tangan, melainkan bunyi paket menyentuh kayu. Ia mengira Damar sudah meletakkannya.
Ketika Naira hendak mundur, kait pintu mengeluarkan bunyi tipis. Daun pintu bergerak satu ruas jari, lalu berhenti. Udara lorong ma**k bersama cahaya kuning.
Seseorang masih berdiri di luar.
Jantung Naira berdegup cepat. Ia meraih gagang, tetapi pada saat yang sama bayangan di balik celah pintu bergerak mendekat.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!