Satu bulan setelah forum, aturan kos berubah.
Setiap penghuni wajib mengetuk dan menunggu jawaban. Akses kamera dibatasi dua akun dengan autentikasi tambahan. Pintu 307 memiliki kunci manual baru. Tessa sudah pindah setelah proses disiplin kampus dimulai.
Naira kembali mengajar malam dan menjalani magang. Ia masih memeriksa kunci dua kali, tetapi tidak lagi empat kali. Di kamar, ia memakai tanktop tanpa rasa harus membuktikan apa pun kepada siapa pun. Pakaian itu kembali menjadi kain biasa.
Hubungannya dengan Damar tetap berhati-hati. Mereka berkirim pesan tentang jadwal dapur, buku, dan presentasi. Sanksi Damar selesai dua minggu sebelumnya, tetapi lelaki itu tidak langsung meminta kedekatan.
Naira yang mengajaknya bertemu di balkon.
Mereka duduk dengan satu kursi kosong di tengah. Tidak ada pintu sebagai batas, hanya jarak yang dipilih bersama.
“Saya takut kalau semua ini terasa dekat karena kita melewati krisis,” kata Naira.
Damar menatap pagar balkon. “Aku juga.”
“Mas mungkin merasa harus terus baik karena bersalah.”
“Rasa bersalah membuatku belajar, tapi bukan alasan aku ingin mengenalmu.” Damar berhenti. “Kalau kamu meminta kita hanya menjadi tetangga, aku tetap harus menghormati batas.”
Naira memainkan ujung lengan cardigan. “Saya suka bicara dengan Mas. Saya suka Mas mendengarkan. Saya juga masih marah kalau ingat malam itu.”
“Kedua hal itu boleh ada.”
“Saya tidak mau hubungan kita menjadi bukti bahwa pelanggaran bisa berakhir romantis.”
Damar mengangguk. “Hubungan, kalau ada, harus dimulai setelah pelanggaran ditangani. Bukan sebagai hadiahnya.”
Naira menatapnya. Selama sebulan, ia menunggu apakah Damar akan lelah menjaga jarak. Lelaki itu tetap konsisten bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
“Mas Damar.”
“Iya?”
“Boleh duduk lebih dekat.”
Damar tidak bergerak langsung. “Satu kursi?”
“Satu kursi.”
Ia memindahkan diri ke kursi kosong di tengah, menyisakan jarak selebar lengan. Naira merasakan kehangatan tubuhnya tanpa merasa terkurung. Tidak ada sentuhan.
Mereka berbicara tentang hal-hal biasa: tugas akhir Damar, murid les Naira, rencana pindah setelah lulus, dan tanaman balkon yang selalu mati. Percakapan biasa justru terasa lebih intim daripada rahasia mana pun.
Saat hujan mulai turun, Damar bertanya, “Boleh aku memayungi sampai lorong?”
Naira tersenyum kecil. “Kita sudah di dalam gedung.”
“Kebiasaan.”
“Boleh jalan bersama.”
Mereka kembali ke lorong. Di depan kamar 307, Damar berhenti pada jarak lama, dua meter.
Naira menatap jarak itu. “Sanksinya sudah selesai.”
“Aku tahu.”
“Mas masih berhenti di sana.”
“Karena jarak baru berubah kalau kamu menginginkannya.”
Naira merasakan sesuatu hangat memenuhi dadanya, bukan sesak. “Selamat malam.”
“Selamat malam, Naira.”
Pintu ditutup dari dalam. Beberapa saat kemudian Naira mengetuk dinding dua kali. Damar membalas dua kali.
Mereka belum menjadi pasangan. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, hubungan mereka tidak bergerak karena rasa takut, rumor, atau kewajiban. Ia bergerak karena Naira memilih satu kursi lebih dekat.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!