Damar tidak menyangka undangan itu akan datang melalui pesan sederhana.
“Besok sore saya membuat teh. Kalau Mas bersedia, kita bisa bicara di kamar saya. Kursi dekat pintu saja.”
Ia membaca pesan Naira berkali-kali, lalu menjawab tanpa tambahan emosional.
“Saya bersedia. Jam berapa? Saya akan mengetuk dan menunggu.”
Pukul lima sore, Damar berdiri di depan kamar 307. Ia mengetuk tiga kali, menyebut nama, lalu menunggu. Tidak ada tangan pada gagang. Tidak ada a**msi.
Pintu terbuka dari dalam. Naira mengenakan hijab rumahan, blus longgar, dan cardigan hijau. Ia memegang pintu tetap terbuka.
“Boleh ma**k sampai kursi itu,” katanya sambil menunjuk kursi dekat rak buku.
“Baik.”
Damar melangkah ma**k setelah Naira mundur. Ia duduk tanpa melihat sekeliling terlalu lama. Kamar 307 bukan tempat untuk memuaskan rasa ingin tahu. Itu ruang yang dipinjamkan kepadanya dalam batas jelas.
Naira menuangkan teh. Tangannya sedikit gemetar.
“Kamu boleh mengubah pikiran,” kata Damar.
“Saya tahu.”
“Aku bisa pergi kapan saja.”
“Saya tahu.”
Naira duduk di kursi lain, menyisakan meja kecil di antara mereka. Mereka membicarakan kemungkinan berkencan setelah Damar lulus dan pindah kos. Naira tidak ingin hubungan terasa seperti pengawasan dari kamar sebelah. Damar setuju.
“Saya juga ingin aturan,” kata Naira. “Tidak ma**k tanpa pesan, tidak membicarakan pakaian rumah saya, dan tidak memakai rasa bersalah untuk membuat saya mengalah.”
“Aku setuju.”
“Kalau saya bilang berhenti, Mas berhenti.”
“Iya.”
“Mas juga boleh punya batas.”
Damar terdiam. Selama ini seluruh perhatiannya tertuju pada batas Naira sampai lupa hubungan setara membutuhkan keduanya.
“Aku tidak ingin kesalahan lama dipakai saat kita bertengkar untuk membuatku tidak boleh menyampaikan perasaan,” katanya. “Aku tetap bertanggung jawab, tapi aku juga ingin kita bicara tentang masalah baru sebagai masalah baru.”
Naira mengangguk. “Adil.”
Ketika teh habis, Damar hendak berdiri. Naira memanggilnya tanpa gelar untuk pertama kali.
“Damar.”
Ia berhenti.
“Boleh duduk sedikit lebih lama.”
Damar kembali duduk. Jarak mereka tetap sama, tetapi sapaan itu mengubah sesuatu yang lebih besar daripada posisi kursi.
Beberapa menit kemudian, Naira meletakkan tangannya di atas meja, telapak menghadap ke atas. Damar tidak langsung menyentuh.
“Boleh?” tanyanya.
Naira mengangguk. “Boleh.”
Ujung jari mereka bertemu, lalu telapak tangan menyatu perlahan. Sentuhan itu sederhana, tetapi bagi Naira terasa seperti kalimat lengkap. Ia tidak sedang dilihat tanpa izin. Ia tidak sedang disentuh karena rasa kasihan. Ia memilih.
Ketika Damar pamit, ia berdiri di ambang pintu dan menunggu Naira membukakan jalan.
“Terima kasih sudah mengizinkanku ma**k,” katanya.
Naira tersenyum. “Terima kasih sudah bertanya.”
Damar keluar. Naira menutup pintu dan memutar kunci dari dalam.
Di telapak tangannya masih tertinggal kehangatan yang tidak membuatnya ingin bersembunyi.
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!