Tiga bulan setelah insiden, kamar 307 kembali menjadi tempat Naira bernapas.
Stiker tiga ketukan masih menempel di pintu meskipun semua penghuni sudah mengenal aturan baru. Kunci manual bekerja baik. Cardigan hijau tergantung di kursi, sedangkan tanktop krem tersimpan di laci tanpa rasa malu. Tidak ada benda di kamar itu yang lagi terasa seperti bukti moral.
Hari itu Damar menyelesaikan sidang tugas akhir. Naira menghadiri presentasinya sebagai konsultan bahasa dan orang yang kini ia kenal jauh di luar kesalahan masa lalu. Setelah acara, Damar mengajak makan di kafe kampus. Ia bertanya, tidak menga**msikan.
Mereka pulang ke kos menjelang malam. Damar akan pindah dua minggu lagi untuk bekerja di studio arsitektur. Jarak fisik baru menunggu, tetapi Naira tidak lagi menganggap pintu tertutup sebagai satu-satunya bentuk aman.
Di depan kamar 307, Damar berhenti.
Tiga ketukan terdengar, meskipun Naira berdiri di sampingnya.
Naira tertawa pelan. “Saya belum ma**k.”
“Aturannya tetap berlaku.”
Naira membuka pintu, ma**k lebih dulu, lalu berbalik. Damar menunggu di luar.
“Boleh aku ma**k?” tanyanya.
Naira merasakan sisa ketakutan lama bergerak sebentar. Ia tidak mengusirnya. Ia mengakui bahwa pengalaman itu pernah terjadi dan tidak perlu dihapus agar masa depan menjadi nyata.
“Boleh,” katanya. “Sampai sofa.”
Damar ma**k dan duduk sesuai batas. Naira menyiapkan teh. Mereka membicarakan rencana kencan, jadwal pindah, dan cara menghadapi kemungkinan gosip baru. Mereka sepakat tidak mengunggah foto hubungan tanpa persetujuan bersama. Tidak ada kunjungan kamar mendadak. Tidak ada rahasia yang dipaksa terbuka.
“Saya tidak ingin terus disebut orang yang kamu sakiti,” kata Naira. “Tapi saya juga tidak mau pura-pura itu tidak pernah terjadi.”
Damar menatapnya. “Aku ingin mengenal semua pilihanmu setelahnya. Bukan menjadikan kesalahanku pusat hidupmu.”
Naira duduk di sampingnya, menyisakan jarak kecil. “Damar.”
“Iya?”
“Boleh pegang tangan saya.”
Damar mengulurkan tangan perlahan. Naira menyambutnya.
Mereka duduk beberapa saat dalam diam. Di luar, suara penghuni naik turun tangga. Kamar itu tetap milik Naira. Kedekatan tidak mengubah kepemilikan ruang.
Damar menatapnya, lalu bertanya, “Boleh aku menciummu?”
Naira tidak menjawab tergesa-gesa. Ia memeriksa perasaannya sendiri: tidak ada tekanan, tidak ada rasa berutang, tidak ada ketakutan bahwa penolakan akan membuat lelaki itu marah. Hanya keinginan yang datang dari dirinya.
“Boleh.”
Damar mendekat perlahan. Ciuman pertama mereka hangat dan singkat. Ketika Damar mundur, ia tidak menuntut lebih.
Naira tersenyum. “Masih harus belajar.”
“Aku siap menerima revisi dari Bu Tutor.”
Ia tertawa, suara yang dulu hanya muncul bersama Zahra. Damar ikut tertawa.
Sebelum pulang ke kamar 308, Damar berdiri di ambang dan menunggu. Naira berjalan bersamanya sampai pintu. Ia tidak menutupnya terburu-buru.
“Selamat malam,” kata Damar.
“Selamat malam.”
Setelah Damar pergi, Naira memegang gagang pintu. Ia teringat malam ketika daun pintu bergerak tanpa izinnya, cahaya lorong ma**k, dan rasa aman runtuh. Kini tangannya sendiri menentukan arah.
Naira menutup pintu dengan tenang, lalu membukanya kembali sedikit.
“Damar.”
Lelaki itu menoleh dari depan kamar 308.
“Besok s****an bersama?”
Damar tersenyum. “Boleh aku menjemput setelah tiga ketukan?”
“Boleh.”
Naira menutup pintu dan memutar kunci dari dalam.
Dulu pintu itu terbuka karena kelalaian. Malam ini, aku yang memutarnya dari dalam—dan aku tahu persis siapa yang kuizinkan kembali mengetuk.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!