Tanktop di Balik Pintu Kos

Bab 3: Bab 3: Pintu yang Tidak Diketuk

Pengaturan Membaca

Semuanya terjadi kurang dari dua detik.

Damar mendorong pintu karena mengira Naira memintanya ma**k untuk meletakkan paket di meja. Kait yang longgar tidak menahan daun pintu. Cahaya lorong menembus kamar, mengenai kursi dengan cardigan yang terbalik, hijab di gantungan, dan Naira yang berdiri hanya beberapa langkah dari ranjang dalam tanktop rumahan.

Mata mereka bertemu.

Damar langsung memalingkan wajah. Ia mundur begitu cepat sampai tumitnya membentur dinding lorong. Pintu ditarik kembali dari luar, lalu tertutup dengan bunyi yang membuat Naira tersentak.

“Maaf,” katanya dari balik pintu. Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas. “Aku salah. Aku tidak mengetuk. Aku kira kamu bilang ma**k.”

Naira menekan kedua telapak tangan pada pintu. Tubuhnya panas, lalu dingin. Ia tahu Damar tidak berdiri lama. Ia tahu lelaki itu tidak mengatakan apa pun tentang pakaiannya. Namun pengetahuan itu tidak mengembalikan rasa aman yang baru saja runtuh.

“Pergi,” katanya.

“Iya.” Ada jeda. “Paketnya aku taruh di depan pintu. Aku tidak akan ma**k lagi.”

Langkah Damar menjauh. Naira menunggu sampai suara pintu kamar 308 tertutup. Barulah ia mengenakan cardigan dengan tangan gemetar, mengunci pintu, lalu mendorong meja kecil ke depannya. Ia duduk di lant**, memeluk lutut, dan mencoba meyakinkan diri bahwa tidak ada yang benar-benar terjadi.

Tetapi ada sesuatu yang terjadi.

Seseorang telah memperoleh akses ke ruang yang selama ini ia percaya sepenuhnya miliknya. Bukan karena Naira mengundang. Bukan karena pakaiannya. Bukan karena ia terlambat menjawab. Pintu itu seharusnya tetap menjadi batas, sekalipun kaitnya rusak.

Ponselnya menyala. Pesan dari Damar ma**k pukul 22.52.

“Aku minta maaf. Aku tidak akan memberi alasan. Aku ma**k tanpa izin dan itu salah. Besok aku akan lapor kait pintumu ke Bu Sari, tapi hanya kalau kamu mengizinkan. Aku akan menjaga jarak.”

Naira membaca pesan itu berulang. Setiap kali sampai pada kalimat “aku ma**k tanpa izin”, dadanya kembali menegang. Ia ingin marah, tetapi kata-kata yang muncul justru menyalahkan dirinya sendiri: seharusnya pintu dikunci lebih kuat, seharusnya ia memakai cardigan, seharusnya ia tidak berada terlalu dekat dengan pintu.

Naira menutup mata. Ia teringat murid lesnya yang pernah menangis karena seorang teman mengambil ponselnya tanpa izin. Saat itu Naira mengatakan, “Batasmu tetap batas, meskipun orang lain menganggapnya sepele.”

Mengapa kalimat yang mudah ia berikan kepada orang lain terasa sulit dipercayai untuk dirinya sendiri?

Ia membuka formulir kerusakan kos dan mengisinya. Pada kolom catatan, Naira menulis: “Kait pintu kamar 307 longgar. Mohon segera diperbaiki. Saya juga meminta aturan mengetuk dan menunggu jawaban ditegaskan kepada seluruh penghuni.”

Sebelum menekan kirim, ia menambahkan satu pesan kepada Damar.

“Mulai sekarang, tiga kali ketuk. Sebut nama. Tunggu saya menjawab. Jangan berdiri di depan pintu kalau saya belum mengizinkan.”

Balasan datang kurang dari satu menit.

“Baik. Aku akan mengikuti semuanya.”

Permintaan maaf itu belum membuat Naira merasa aman. Namun untuk pertama kalinya malam itu, ia telah mengubah ketakutan menjadi sebuah aturan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca