Tanktop di Balik Pintu Kos

Bab 4: Bab 4: Tiga Ketukan

Pengaturan Membaca

Damar tidak tidur malam itu.

Setiap kali menutup mata, ia melihat ekspresi Naira sesaat sebelum pintu tertutup. Bukan pakaiannya yang terus muncul dalam ingatan, melainkan keterkejutan dan rasa tidak aman di wajah perempuan itu. Damar telah berusaha tidak melihat, langsung mundur, dan meminta maaf. Namun semua tindakan setelah pintu terbuka tidak menghapus fakta bahwa dialah yang mendorongnya.

Pagi-pagi sekali ia menemui Bu Sari di ruang pengelola. Ia menjelaskan kait pintu 307 bermasalah tanpa membicarakan kondisi Naira. Bu Sari awalnya menganggapnya kerusakan kecil.

“Nanti teknisi datang akhir pekan,” katanya.

“Tidak bisa ditunda.” Damar menjaga suaranya tetap tenang. “Pintunya terbuka ketika saya menyentuh gagang. Saya ma**k tanpa menunggu jawaban. Itu kesalahan saya, tapi kaitnya juga harus diperbaiki hari ini.”

Bu Sari menatapnya lebih serius. Damar bersedia menulis laporan dan menerima teguran penghuni. Ia tidak meminta Naira dipanggil. Ia hanya menyerahkan pesan tertulis yang membebaskan Naira dari keharusan bertemu dengannya.

Menjelang siang, teknisi mengganti pengait sementara. Damar berdiri di ujung lorong, dua kamar dari pintu 307. Ia tidak mendekat. Ketika teknisi selesai, Damar menempelkan kertas kecil di dinding dekat kamarnya sendiri: KETUK TIGA KALI. SEBUT NAMA. TUNGGU JAWABAN.

Reza, temannya, membaca tulisan itu ketika datang membawa maket.

“Ini karena kejadian tadi malam?”

Damar menatapnya. “Kamu tahu dari mana?”

“Bu Sari bilang ada pelanggaran aturan pintu. Tidak bilang nama. Tapi wajahmu seperti orang yang baru merobohkan bangunan.”

Damar menceritakan seperlunya. Reza tidak membelanya.

“Kamu salah,” katanya. “Niat ambil paket tidak penting. Jangan buru-buru minta dia memaafkan.”

“Aku tahu.”

“Belum tentu. Kadang laki-laki bilang tahu karena ingin cepat merasa baik lagi.”

Kalimat itu membuat Damar diam.

Sore harinya, sebuah stiker putih muncul pada pintu 307. Tulisannya dibuat dengan spidol hitam: TIGA KETUKAN. SEBUT NAMA. TUNGGU.

Damar melihatnya dari depan kamar sendiri. Ia ingin mengirim pesan bahwa teknisi sudah datang, tetapi menahan diri. Naira sudah menerima notifikasi dari pengelola. Pesan tambahan darinya hanya akan membuat kehadiran Damar kembali memenuhi ruang perempuan itu.

Malam turun. Damar keluar untuk membeli makan dan mendengar suara kunci dari kamar 307. Ia otomatis berhenti, lalu mengingat permintaan Naira. Ia mundur dua meter dan menghadap tangga.

Naira membuka pintu dengan cardigan hijau serta hijab sederhana. Tatapannya menyentuh punggung Damar, lalu stiker di pintu.

“Teknisinya sudah datang,” katanya.

Damar menoleh hanya setelah mendengar suaranya. “Iya.”

“Terima kasih sudah melapor.”

Damar tidak tersenyum seolah menerima pengampunan. “Itu tanggung jawabku.”

Naira mengangguk kecil dan mengunci pintu setelah keluar. Mereka berjalan menuju tangga dengan jarak beberapa langkah.

Di lant** dua, Damar berhenti. “Aku akan tetap mengikuti aturan itu, walaupun kaitnya sudah diperbaiki.”

Naira tidak menjawab. Namun saat melanjutkan langkah, bahunya tidak setegang kemarin. Bagi Damar, perubahan sekecil itu bukan izin untuk mendekat. Itu hanya pengingat bahwa kepercayaan, jika suatu hari kembali, harus dibangun dari tindakan yang tidak meminta hadiah.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca