Tanktop di Balik Pintu Kos

Bab 5: Bab 5: Jangan Berdiri di Depan Pintuku

Pengaturan Membaca

Setelah insiden, lorong lant** tiga berubah menjadi ruang yang selalu Naira ukur.

Jarak kamar 307 dan 308 sebenarnya hanya beberapa langkah. Sebelumnya ia tidak pernah memikirkan posisi rak sepatu Damar, ember pel yang diletakkan pengelola, atau sudut kamera koridor. Sekarang setiap benda terasa menentukan apakah ia bisa membuka pintu tanpa berhadapan terlalu dekat dengan seseorang.

Ketika pulang dari kampus, Naira menemukan rak sepatu Damar dipindahkan ke sisi lain kamarnya. Lorong depan pintu 307 menjadi lebih lapang. Tidak ada pesan yang menjelaskan. Tidak ada catatan minta dipuji. Damar hanya mengubah sesuatu yang selama ini membuat jalur mereka bertab**kan.

Naira masih marah. Perubahan rak sepatu tidak menghapus malam itu. Namun ia mulai memahami bahwa Damar benar-benar mendengar permintaannya.

Di dapur komunal, mereka bertemu saat Naira sedang mengisi air. Damar berdiri di dekat kompor, lalu mundur ketika melihatnya ma**k.

“Aku cuma ambil air,” kata Naira, lebih tajam dari yang ia maksudkan.

“Aku tahu.” Damar menutup api dan memindahkan wajan. “Aku bisa menunggu di luar.”

“Tidak perlu. Dapur ini milik bersama.”

Damar mengangguk. Ia tetap menjaga jarak dan tidak memulai percakapan. Sikap itu justru membuat Naira sadar bahwa ia tidak ingin setiap pertemuan berubah menjadi upacara rasa bersalah. Damar salah, tetapi Naira juga tidak ingin hidupnya terus diatur oleh kesalahan tersebut.

“Mas Damar.”

Ia menoleh.

“Jangan berdiri di depan pintu saya kalau tidak ada urusan.”

“Baik.”

“Dan jangan tanya Zahra tentang saya.”

“Aku tidak akan.”

“Kalau ada paket, taruh di meja pengelola.”

“Baik.”

Jawaban singkat itu membuat Naira sedikit kesal. “Mas tidak punya penjelasan?”

“Ada.” Damar menarik napas. “Tapi penjelasan tidak akan mengubah apa yang kamu minta. Jadi aku c**up mengikuti.”

Naira memandangnya beberapa detik. Ia menyiapkan diri untuk membantah, lalu tidak menemukan alasan. Damar tidak sedang diam karena tidak peduli. Ia menahan diri karena Naira telah menetapkan batas.

Malamnya, Naira kembali memakai tanktop di kamar. Namun ia tidak langsung merasa nyaman. Setiap suara langkah membuatnya meraih cardigan. Ia bahkan memeriksa kunci empat kali sebelum tidur.

Dari kamar 308 terdengar kursi digeser, lalu suara Reza tertawa pelan. Tidak ada seorang pun mendekati pintunya. Ketika Damar keluar menuju kamar mandi, langkahnya berhenti jauh sebelum 307, kemudian berbelok ke arah tangga.

Naira berdiri di balik pintu dan mendengarkan.

Rasa aman belum kembali, tetapi untuk pertama kalinya ia melihat bentuknya: bukan ketiadaan orang lain, melainkan kepastian bahwa orang lain akan berhenti ketika diminta.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca