Dua minggu sebelum ujian tengah semester, Naira hampir tidak meninggalkan kamar kecuali untuk kuliah dan mengajar. Ia menempelkan catatan tata bahasa di dinding, menyalakan rekaman listening, dan mencoba mengabaikan suara kehidupan dari kamar sebelah.
Damar juga sedang mengejar tenggat tugas akhir. Dari balik dinding terdengar bunyi penggaris logam, kertas besar dibuka, dan musik instrumental yang diputar berulang. Awalnya Naira merasa terganggu. Menjelang tengah malam, ia menyadari bahwa irama yang sama membuat kamar terasa tidak terlalu sunyi.
Pukul 23.14, musik berhenti mendadak. Ponselnya bergetar.
“Musiknya terlalu keras?”
Naira membaca pesan Damar. Tidak ada sapaan panjang. Tidak ada alasan mengajak bicara. Hanya pertanyaan yang bisa dijawab ya atau tidak.
“Sedikit. Saya sedang latihan listening.”
Beberapa detik kemudian suara dari kamar 308 mengecil.
“Terima kasih sudah bilang.”
Naira meletakkan ponsel. Ia kembali pada materi, tetapi lima menit kemudian mendengar Damar bersin berkali-kali. Tanpa sadar ia mengetik, “Mas minum obat.” Kalimat itu terasa terlalu akrab. Ia menghapusnya, lalu mengganti dengan, “Di dapur ada air hangat.”
Balasan Damar datang: “Baik. Saya ambil setelah kamu selesai menggunakan lorong.”
Naira terdiam. Ia tidak pernah meminta lorong dikosongkan sepanjang malam. Damar seolah mengubah setiap kebutuhan kecil menjadi perhitungan jarak. Sebagian dirinya menghargai kehati-hatian itu. Sebagian lain merasa mereka hidup seperti dua orang yang takut menyentuh bayangan masing-masing.
“Saya tidak sedang di lorong,” tulis Naira. “Silakan keluar.”
Pintu 308 terbuka. Tiga detik kemudian langkah Damar menuju dapur terdengar. Tidak ada ketukan. Tidak ada usaha berbicara. Ketika kembali, ia berhenti di depan kamarnya sendiri.
“Terima kasih,” katanya c**up keras agar terdengar menembus dinding, bukan pintu.
Naira menahan senyum. “Sama-sama.”
Malam berikutnya, Damar mengirim pesan lebih awal. Ia meminta izin memutar suara mesin pencetak selama sepuluh menit. Naira menjawab boleh. Percakapan mereka tetap praktis, tetapi perlahan berkembang menjadi kebiasaan sederhana: pemberitahuan suara, jadwal menggunakan balkon, dan kabar paket yang ditinggalkan di pengelola.
Pada pukul 00.17, setelah Naira menyelesaikan satu set soal, ia menerima pesan baru.
“Kamu masih belajar?”
“Masih.”
“Besok mengajar jam tujuh?”
Naira terkejut Damar mengingat jadwalnya. “Iya.”
“Jangan terlalu malam.”
Naira hampir menulis, “Mas juga.” Ia menatap pesan itu lama sebelum mengirim.
Dari balik dinding terdengar dua ketukan pelan—bukan pada pintu, melainkan pada dinding yang memisahkan kamar mereka. Naira membalas dua ketukan dengan ujung jarinya.
Tidak ada yang ma**k. Tidak ada batas yang dilanggar. Namun untuk pertama kalinya, keheningan di antara mereka terasa seperti percakapan.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!